Pagi belum sempurna menunjuk ke
angka 7. Tapi, hatiku telah sempurna tertohok di pagi yang masih prematur ini.
Karena sebuah nasehat yang
mengingatkanku pada rumah, pada pulang, pada 2 permata di dalamnya; Mami-Papi.
Semoga dengan membaca tulisan ini kita bisa lebih
jeli membagi waktu.
SURAT SEORANG IBU
“Di mana rumahmu, Nak?”
Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka
namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku aktivis dengan segudang
kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi, bolehkan aku sampaikan padamu, Nak? Ibu bilang kamu hanya seorang putrid
kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis,
ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibunya aktivis. Dengan segala kesibukanmu,
ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala
yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak. Tapi, apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang
sia-sia, Nak? Sungguh, setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk
membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikis
bahwa itu adalah hal yang sia-sia.