Pagi belum sempurna menunjuk ke
angka 7. Tapi, hatiku telah sempurna tertohok di pagi yang masih prematur ini.
Karena sebuah nasehat yang
mengingatkanku pada rumah, pada pulang, pada 2 permata di dalamnya; Mami-Papi.
Semoga dengan membaca tulisan ini kita bisa lebih
jeli membagi waktu.
SURAT SEORANG IBU
“Di mana rumahmu, Nak?”
Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka
namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku aktivis dengan segudang
kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi, bolehkan aku sampaikan padamu, Nak? Ibu bilang kamu hanya seorang putrid
kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis,
ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibunya aktivis. Dengan segala kesibukanmu,
ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala
yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak. Tapi, apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang
sia-sia, Nak? Sungguh, setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk
membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikis
bahwa itu adalah hal yang sia-sia.
Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di
atas yang sama saat engkau dulu bermanja dengan ibumu ini. Tapi, kini di
manakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari
ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa
menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah
habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang
begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau
lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau
jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja
engkau tak enggan. Katamu, engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,
andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,
memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau
lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku
ini ibumu? Yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku...
Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk,
Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu. Engkau
mengatur segala strategi untuk menkader anggotamu. Engkau Nampak amat peduli
dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, hati ibu mulai bertanya; ‘Nak,
kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini? Apakah engkau mengkhawatirkan
ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau
menanyakan keadaan adik-adikmu? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari
anggota organisasimu?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu, saat
engkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan
keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengna keluargamu tidak akan
menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan
berbagai amanah yang harus kau lakukan, tapi bukankah keluargamu ini adalah
tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau
jaga, Nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku
agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat Nak, ada rapat sana-sini, ada jadwal
mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar
demi lembarnya, di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan
harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap
bahwa nama ibu ada di sana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk
bersama biumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak,
andai engkau tahu sejak kau dan di rahim ibu, tak ada cita-cita dan agenda yang
lebih penting untuk ibu selain cita-cita dan agenda untukmu, putrid kecilku...
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka
bilang engkau seorang organisatoris yang profesionall. Boleh ibu bertanya Nak,
di mana profesimu untuk Ibu? Di mana profesionalitasmu untuk keluarga? Di mana
engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kamu buat? Ah, waktumu
terlalu mahal Nak. Sampai-sampai ibu tak ladi mampu membeli waktumu agar engkau
bisa bersama ibu...
---
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun
pertemuan dengan orang tercinta; ibu, ayah, kakak dan adik. Akhirnya tak mundur
sedetik tak maju sedetik. Dan, hingga saat itu datang, jangan sampai yang
tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang masih malu
untuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk
mereka yang kasih sayangnya tak pernah putus, untuk mereka sang penopang
semangat juang ini. saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridha
mereka atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena, tanpa ridho mereka,
mustahil kau peroleh ridho-Nya.
(Sumber: handbook pantia kajian Islam Intensif
Padmanaba 2012, KIIP Believing), 22 Desember pukul 07.17wib.
Tesss. Air mataku menetes. Air mata yang sejak tadi hanya berupa embun
tipis telah menebal dan bergumpal, hingga akhirnya jatuh juga di atas bantal.
Mendadak, aku ingin pulang. Besok. Iya. Besok! Akan ku selesaikan segera urusan
angket ini dan besok aku akan langsung pulang. Pulang ke rumah mami-papi.
Pulang sebagai kejutan. Pulang sebagai caraku menghadiahiku keluargaku atas
hadiah Duta Lingkungan kemarin. Lupakan dulu tentang sepatu boot impian itu!
Impianku saat ini adalah PULANG.
***
Temuilah tema puisimu pada ibumu
Tiada puisi tanpanya
Tuhan telah menitipkan puisi padanya
Jemputlah puisi terindah itu
Dan bagimulah segala puisi
Desember bersama mami, 2015
Ku tulis Puisi berjudul ‘Tema Puisimu’ itu dan ku post di blog. Senang
sekali rasanya melihat angka 1342 postingan di blog ini. Alhamdulillah, semoga
angka-angka itu semakin bergerak naik seiring dengan naiknya kualitas diriku
dan tulisanku. Aamiin ya Allah.
“Heh! Bububuyuuu! Banguuunnnn!”
Ku goyang-goyangkan lengan Titin, lembut. Dia tak bergeming juga.
“Woooyyy! Bububuyuuuu.. bububuyuuu…bububuyuuuu…” aku terus mengulang
bububuyu dengan suara hidung supaya Titin segera terbangun. Tapi, dia hanya
menyahut sebentar dan tertidur kembali. Laptopku ternyata lowbat dan kalau
sudah begini aku harus mengistirahatkannya total selama dicas. Karena, setiap
kali ke kosan Titin, laptop ini selalu konslet kursornya selama proses
charging, mungkin karena arusnya terlalu tinggi atau bagaimana. Demi membunuh
kejenuhan, aku membaca buku dan tanpa sadar, ternyata aku pun ketiduran cukup
lama. Ketika tersadar, Titin belum juga siuman.
“Woyyy! Bububuyuuuuuuu banguuun!” teriakku kepadanya.
Titin menggeliat dan berkata, “Hemmm… perasaan, Titinlah yang tidur,
tapi kok Mamake pula yang ngigau sejak tadi?”
“Maksudnya? Mana ada Mamake ngigau!”
“Itu tadi ngomong apaan coba?”
“Ooohhh..bububuyuu tu? Ya habisnya Titin nggak bangun-bangun juga sih!
Ini kan udah pagi Cin.”
Titin bersandar di sudut dinding. “Masih jam 8 pun!” keluhnya.
“Heh! Udah jam 8.52wib loh! Emangnya mau bangun jam berapa?”
“Biasanya Tin bangunnya jam 11 loh!”
Aku melotot.
“Iyaaa. Soalnya kan kalau bangun jam 11 tu nggak perlu sarapan lagi
dan tinggal siap-siap makan siang. Maklumlah, lagi nggak ada duit Ciiinn, hehe.
Kalau Rin bangun pagi kan Tin nggak tahu mau ngapain dan perut pasti terasa
lapar.”
“Iyaa, tapi nggak gitu-gitu juga kelesss malasnyaaa!” gerutuku.
Titin terbengong beberapa saat. Pandangannya kosong. “Huuuhhh..kok
malas kali dibawa bergerak badan ni ya?” keluhnya.
“Ya iyalah, namanya aja jam segini baru bangun. Bawa olahraga Ciiinn,
biar sehat dan jerawatmu itu pada hilang.” Aku berkata demikian karena sejak
kedatanganku semalam, sudah berkali-kali Titin mengeluhkan pasukan jerawatnya.
“Ih, iya loh Mamake, Tin udah lama nggak aerobik lagi. Speaker Tin kan
rusak, jadinya nggak semangat Tin buat aerobic lagi.”
“Halaahhh…alasan, emangnya speaker laptop kurang keras apa?”
Aku melepas colokan laptop karena laptopku sudah cukup terisi meskipun
belum penuh. Segera ku fokuskan fikiranku kembali kepada proposalku. Titin
mulai bercerita tentang salah satu pegawai di FKIP yang selalu baik padanya
padahal teman-temannya selalu mengeluhkan ketidakramahan dan kegalakannya
ketika ia melayani urusan mahasiswa. Titin juga bercerita tentang ketidakpuasan
hatinya terhadap hasil skripsinya dan ia menyemangatiku untuk segera
menyelesaikan penelitianku.
“Kannnn… Mamake pasti nggak dengarkan cerita-cerita Tin kan?”
“Dengarkan kok Ciiin.”
“Alaaahh…mana ada, orang Mamake aja sibuk nulis sejak tadi. Mana bisa
nyimak cerita Tin.”
“Bisa. Kan telinga Mamake yang dengar. Nih ya, tadi tu Tin cerita ini
kan?...” lalu ku sebutkanlah urut-urutan ceritanya sejak awal tadi.
“Ihhh..iya yaaa.. kok Mamake bisa nyimak selengkap itu?” kata Titin,
takjub.
“Kan udah Mamake bilang tadi! Mamake nih bububuyuuu.”
“Itu bububuyuu untuk makna yang mana ya?”
“Emmm…maknanya; ‘Mamake ni emang pandai menyimak cerita orang lain
walaupun kayaknya nggak dengar’. Gitu!”
“Ooohhh..gitu. Mamake berarti pendengar yang baik ya! Tapi, sebenarnya
Tin nggak masalah sih Mamake, mau orang faham dengan cerita Tin atau nggak,
yang penting ketika Cin cerita ya dengarin aja walaupun nggak ngerti. Tin nggak
apa-apa do. Emang bener ya ternyata, cewek itu memang butuh didengarkan. Kalau
dia sedang marah pun, dengarkan aja keluhan-keluhannya. Nanti kalau dia udah
selesai marah-marahnya, barulah ditanya; ‘Kenapa tadi?’.”
“Iyaaa, Ciiin. Bener banget tuh!”
Aku kembali fokus kepada tulisanku sambil sesekali bertanya kepada
Titin kalau ada yang tidak ku mengerti. Aku sudah meminta izin kepada Titin
untuk menggunakan beberapa teorinya. Karena dari ceritanya selama proses
penggarapan skripsinya, aku yakin banget kalau dosen pengujinya itu adalah
orang yang benar-benar faham tentang teori persepsi. Beruntung banget judulku
dan Titin sama, hanya objeknya saja yang berbeda.
“Mamakeee…ajaklah Tin jalan-jalan! Suntuk kali Tin di kosan ni.”
“Ayuklah! Sekarang gimana?”
“Ayuuuk!”
“Ke mana kita?”
Mulailah kami mengusulkan beberapa tempat yang akan kami kunjungi
dalam refreshing kali ini. Setelah menemukan beberapa tempat yang tepat, aku
meminta Titin untuk segera bersiap-siap. Aku akan menunggunya, karena kalau aku
harus pulang dulu baru menjemputnya lagi, takutnya nanti aku malah berubah
fikiran sampai di kosan.
***
Ciiintt.. aku pulkam siang ini sampai sabtu. Mau ikut tak?
Ping!
Assalamualaikum…?
Aku baru membaca pesan dari Lia sejak pukul 0830 wib tadi ternyata.
Aku jadi teringat lagi dengan niatku untuk pulang esok sebagai kejutan bagi
mami-papi di rumah. Tapi, kalau aku pulang, biasanya akan jadi sangat malas
untuk pulang ke sini lagi. Lagipula, angket ini belum selesai dan setidaknya
hari Sabtu sudah selesai karena esok pun masih libur. Bagaimana ini? Ada rasa
tidak enak hati juga pada NIlam kalau aku diam-diam pulang sendirian, lagipula
awal tahun baru esok mami pun akan ke sini untuk mengambilkan rapor Nilam. Ah,
mungkin aku harus menahan rindu ini dulu. Tapi, bagiamana dengan Titin? Aku
memandang wajahnya, diam-diam. Ia sedang menyuap nasi ke dalam mulutnya. Ah,
mungkin akan jauh lebih baik kalau ku pastikan dulu pada Lia.
Waalaikumsalam bububuyuuu. Jam
berapa cin?
Azan Zuhur sudah berkumandang. Aku menyarankan Titin untuk sholat di
mushola Arrafah saja. Awalnya ia ingin sholat di masjid Arfaunnas saja. Tapi,
aku tidak menyutujuinya karena alasan ‘keseganan’ dengan penampilan kami yang
agak berbeda ini. Sementara biasanya Arfaunnas selalu ramai.
“Mamake beneran yang bayarin nih?” tanya Titin.
“Iya, Mamake yang traktir! Uang DLH kemarin kan udah cair, jadi
sekaligus syukuran,” jawabku sambil tersenyum.
“Makasih Mamakeeeee…” kata Titin sambil memelukku.
Kami segera menuju Arrafah. Titin yang sebelumnya menyangsikan
kebersihan air wudhu mushola ini akhirnya mengaku kalau airnya sangat bersih
dan segar. *Syukurlah pemirsaaa. sambil menungu Titin sholat, aku mengeluarkan
laptop dan melanjutkan editing proposal tadi pagi. Teoriku ternyata masih rapuh
dan untuk itulah aku harus mengokohkannya supaya tidak bisa ‘dijatuhkan’.
Setelah Titin selesai sholat, kami sempat berdiskusi sebentar tentang kisi-kisi
angetku.
“…intinya Mamake tu harus membuat pernyataan atau pertanyaan yang
nggak ketebak jawabannya apa. jawaban itu harus mewakili jenis jawaban yang
kita sediakan, misalnya Setuju, Sangat Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak
Setuju. Nanti kalau udah selesai, Mamake harus uji-coba angket dulu.”
“Lah? Mesti pakai uji –coba dulu Cin?”
“Iyalah mamake. Kalau nggak gitu, darimana kita tahu kalau angekt kita
udah layak dipakai?”
“Iya juga sih. Dulu, yang bantu Titin ngolah data siapa?”
“Teman Titin, Mamake.”
“Bayar?”
“Nggak. Soalnya Titin kan lumayan dekat sama dia.”
“Hemmm…tulah Cin, KENAL ADALAH MODAL. Lihatlah Titin, gara-gara kenal
sama temanmu itu, Titin bisa gratis ditolong olehnya. Sedangkan Mamake yang
nggak kenal sama dia ini, tentu segan dan mikir seribu kali untuk minta tolong
juga sama dia kan? Makanya, tugas kita adalah memperluas silaturahmi Cin. Hanya
bermodal kenal, siapa tahu di masa depan urusan kita banyak tertolong oleh
mereka. setuju?”
“Setujuuu. Eh, Mamake udah ngurus Surat Riset?”
“Kan Mamake cuma neliti mahasiswa aja, masa perlu Surat Riset juga
sih?”
“Loh? Kalau nggak pakai surat Riset, mana bukti resminya penelitian
kita Mamake?”
“Iya juga sih. Gimana donk? Ribet nggak ngurusnya?”
“Nggak ribet sih, tapi nunggunya yang ribet. Biasanya nunggu 3 hari
baru selesai tuh Mamake.”
“Huahhhhhhhhh…” aku semakin panik. Bayangan gelar ALFA STUDI yang
selama ini menghantuiku akan ku terima kalau aku tidak bisa mendaftar ujian
akhir bulan Desember akhir bulan ini. Big hiksssss.
“Eh, kita kok jadi bahas skripsi gini sih? Tadi kan niatnya kita mau
seneng-seneng. Yuk ah!” kataku sambil melipat laptop dan memasukkannya ke dalam
tas.
“Ke mana aja Mamake membawa Tin, Tin ikut.”
“Sihiyyyyy.”
Aku pun menawarkan beberapa tempat di UNRI kepada Titin sambil
melintasinya.
“Jadi,
ceritanya kita ini main-main di UNRI aja ya Mamake?”
“Hehehe nggak
apa-apa kan, Cin? UNRI pun pasti nggak kalah kece dari tempat-tempat itu.”
“Hahhaa.
Gayanya tadi ngerancang ini dan itu, eh tahunya di UNRI juga mainnya. Haha.”
“Iya ya
Cinnn…hehe. nggak apa-apa kan? Yang penting kan kita bisa menghabiskan waktu
berdua. Sihiyyyyyy.”
Awalnya, aku
mengajak Titin berfoto di Gedung Gasing, tapi karena ternyata jalannya
dipalang, akhirnya beralih ke plan B; Gedung Fakultas Hukum yang belum lama ini
dibersihkan setelah bertahun-tahun ditelan hutan karena tidak terurus. Awalnya kami takut kemari karena gedung yang
konon pernah terbakar ini terlihat seram. Tapi, aku mengajak Titin untuk berfoto
di halamannya saja karena ternyata sangat indah bentangnya. Wawww! Kami
sama-sama terkesima dengan hasil foto pertama yang kami dapatkan. Sayangnya
nggak ada tongsis, sehingga kami harus rela bergantian untuk saling memfotokan.
“Ihhh… kok Tin
cantik kali ya di siniiii? Ini bukan Titin yang asliiii. Hhuuhu.. Titin yang
asli mukanya berjerawaaat.”
“Apalah
bububuyuu ni? Inilah yang Mamake maksud tadi. Konsep foto kita tu nggak berfoku
pada wajah kita, tapi pada alam dan pemandangannya yang indah. Makanya, Cin
bisa secantik ini.”
“Ooohhh..begonoh!
iyalah Mamake udah sering foto-foto makanya bisa bagus gini motretnya. Tin akui
dehhh!”
“Sihiyyyyy..
cantik kan warna bajumu di kamera? Coba tadi kalau nggak nurutin kata-kata
Mamake, nggak akan mungkin Cin secantik ini sekarang.”
“Iya deh
Mamake, ini hari Mamake pokoknya. Tin nurut aja.”
“Udah
berbuih-buih dah Mamake tadi ngasih tahu Cin kalau Cin cocok banget pakai
kostum ini. Malah dibilang kayak orang sakit lah, orang demam lah, orang
penyakitanlah. Huh! Tin tu jadi terlihat tinggi di kamera karena efek
sweaternya.”
“Soalnya Tin
tu kalau pakai sweater ini pas sedang sakit aja loh Mamakee. Ehhee.”
Obrolan kami
terhenti ketika seorang bapak melintas agak jauh dari kami dengan membawa
parang. Titin jadi parno yang berfikiran buruk bahwa bapak itu akan menjahati
kami. Tapi, aku berusaha melawannya dengan meramah padanya.
“Nyari apa Pak
di belakang?”
“Nyari kayuu
Nak.”
“Ohhh… iyalah
Pak.”
Sepeninggalan bapak itu, barulan Titin mau melanjutkan sesi pemotretan
lagi. Diam-diam, pandanganku mengantarkan langkah kaki bapak tadi hingga hilang
di telah bukit tanah di sisi kanan gedung ini. Mungkin beliau memarkirkan
motornya memang agak jauh dari sini, fikirku.
Kalau
memang Lia beneran pulang jam 2 ini, berarti aku nggak jadi ikut dia. Karena,
nggak mungkin aku batalkan menemani Titin hari ini. Aku kan sudah berjanji
lebih dulu padanya. Jahat sekali aku kalau aku mengiyakan Lia dan mengecewakan
Titin.
Dengan sedikit keberanian, mulailah Titin mengajakku untuk berofo di
dalam gedung tua ini. Karena, ada 2 orang yang juga berfoto di dalamnya. Kami
merasa berkawan. Ternyata tak hanya kami yang tertarik dengan tempat ini.
Sempat juga ada sekita 7 remaja yang datang dan berfoto dengan menggunakan
kamera BSLR. Tapi, tak lama. Lamanya kami masih mengalahkan lamanya mereka,
eheeh.
“Udahhan yuk
Mamake? Badan Tin dah mulai gatal-gatal nih!” pinta Titin sambil
menggaruk-garuk tangannya.
“Apanya kok
cepat kaliii? Orang masih belum puas bububuyunyaa haa!” kataku.
Aku masih mengajak Titin ke beberapa spot lagi di halaman FH ini.
bagiku, segala tempat di sekitar sini sangat menarik, sayang banget kalau dilewatkan
begitu saja. Apalagi aku sudah merasa sangat cantik dengan kostumku hari ini; Black-White
in Vintage style and Sebo.*abaikan yang satu ini, hehe.
“Ciiin, tadi kita belum jadi foto
di jalan aspal tu kan? Sekarang yuk?” tunjukku ke jalan lintas UR menuju
Arengka itu.
Aku dan Titin sembunyi di balik
pohon untuk mengamati kendaraan-kendaraan yang lewat. Ketika kosong, maka kami
ke luar dari balik pohon dan langsung beraksi. Kalau ada kendaraan yang
terlihat dari kejauhan, maka kami berlarian ke balik pohon lagi. *masa kecil
kurang bahagia, ehe.
“Cin, udahan yuk? Capek haa. Tin hausss
haa.”
Aku mengambil motor dari sebalik
tembok bertuliskan FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS RIAU, lalu mendekat ke tempat
Titin menungguku. Aku mengajaknya mengisi bensin ke SPBU yang baru di dekat
bundaran Songket. Niatnya mau sekaligus foto-foto juga. Tapi, ah… lagi-lagi aku
punya firasat bensin ini sudah sangat kering. Di depanku ada pertigaan menuju
stadion utama. Aku ragu, mau terus lurus tapi resikonya motor ini mandeg di
tengah pertigaan atau berhenti aja biar lebih aman? Akhirnya aku memilih berhenti
di kiri jalan. Benar saja, motorku langsung berhenti. Lalu, aku minta tolong ke
Titin supaya mau menyeberang untuk membeli bensin. hehee. Kalau ada Yudi di
sini, pasti dia akan bilang; ‘Kann… benar, dia ni selalu bermasalah sama
bensin!”, hahaa.
Setelah membayar bensin, aku
putuskan untuk langsung ke kosan aja, nggak jadi menuhin bensin.
“Cin udah pernah minum Chocholate
Changer belum?”
“Belum. Apaan tuh Cin?”
“Enak pokoknya. Itu coklat yang
dilumerkan dan dikasih es Cin, enak deh pokoknya!”
Kami mampir sebentar di kios
Chocolate Changer dan aku membeli 2 Chocolate Changer original.
“Ciiinn… fotoiiiinnnn!” pintaku
kepada Titin yang sedang duduk menungguku di atas motor.
2 jepretan selesai.
“Hih! Mamake ni malu-maluin aja
loh!”
“Kok malu-maluin sih? Eke yang
minta difotoin aja nggak maluuu Ciiin.”
“Ya tapi yang motoin juga jadi
malu loh Mamakee. Hehhe.”
Sesampainya di kosan, Titin
langsung membuka HPku dan mengulas satu per satu hasil jepretan tadi. Kami
berdua sama-sama tertawa lepas menertawai berbagai gaya dan ekspresi kami
ketika difoto.
“Makasih ya Ciiinnn untuk hari
ini,” kata Titin.
“Are u happy?”
“Hepiiiiiii..”
Jam 2an. Aku masih di asrama soalnya. Ikut kan
cin? Ping!
SMS Lia baru ku baca. Sekarang
sudah pukul setengah 4 pula.
Mu udah berangkat Cin? Tanyaku pada Lia.
Ni menuju Panam.
Gimana coy? Ikut ke Kampar kan?
Iyaaa.. ini sedang siap-siap. Bububuuyuuu yaaa.
Titin kembali meminjam HPku untuk
mengirimkan foto-foto tadi ke HPnya dan ia pun numpang mengupload 1 foto ke
Instagram.
“Apa captionnya untuk foto itu
Cin?” tanyaku.
“Apa bagusnya Cin?”
“Emmm…gini aja;
Secantik-cantiknya kamu adalah sesederhana-sederhananya kamu. Gimana?”
“Emmm…kayaknya nggak cocoklah
kalau Tin tulis itu. Karena Tin nggak gitu-gitu amat orangnya. Hari ini aja Tin
terlihat kayak wanita yang kalem dan sopan-santun, gara-gara kostum pilihan
Mamake nih! hehee. Kalau Mamake yang bikin caption itu baru cocok!”
“Ohh..begondrong (baca: begitu)
ya? Terserah Cin aja deh captionnya apa.
“Gimana kalau; Secantik-cantiknya
kamu, lebih cantik lagi alam semesta?”
“Karena kecantikanmu terbatas,
sedangkan kecantikan alam adalah kecantikan sempurna. Tambahin itu Ciiin,”
saranku.
“Sihiyyy, oke,” katanya,
menyetujui. “Lihatlah wajah Mamake di foto-foto ini! Mamake tu cantiknya kalau
senyum Nampak gigi loh!”
“Eh, iya yaa. Ternyata benar kata
Mami, hehe. Mami tu selalu marah kalau Mamake foto dengan bibir tertutup, makin
bulat aja wajah Mamake katanya. Haha.”
“Iya. Gigi Mamake tu
panjang-panjang, silau lihatnya! Hehe.”
“Eh, tolong bukakan BBM Mamake
dulu Cin! Ada balasan dari Lia nggak?”
“I
am otw to pick you, katanya Mamake.” Lalu ia membalasnya; Okey, I wait you.
“Ntar motor Mamake ni Titin bawa
aja ke kosan. Biar Cin bisa make. Daripada ditinggal di kosan aja.”
“Nggak apa-apa nih, Mamake?”
“Nggak apa-apa. Malah baguslah
kalau motor Mamake berguna.”
Sambil menunggu Lia datang, aku
meminta Titin untuk menebak sifat 3 orang cowok, lewat fotonya.
“Manis, tapi nggak ganteng.
Terus, kayaknya dia ni penyayang orangnya, tapi Tin nggak yakin dia orang yang
setia,” tebak Titin untuk orang pertama.
“Ganteng, tapi nggak manis. Jadi,
kalau ngelihat dia lama-lama bakal cepat bosan. Kayaknya dia nggak banyak cerita
dan kalau ngomong, suaranya datar dan nggak bisa meninggi. Tapi, kalau dia
ngomong, semua orang mendengarkan. Karena, kata-katanya yang bagus, rapi dan
pembawaannya yang tenang. Dia juga terlihat penyayang dan nggak terlalu memaksa
orang untuk suka sama dia,” tebak Titin untuk orang kedua.
“Lumayan manis. Tapi, dia keras
nih Mamake! Emmm.. penyayang juga. Tapi, dia maunya harus dituruti. Benar-benar
sosok pemimpin di rumah tangga lah. Tegas!” tebak Titin untuk orang ketiga.
“Kalau si ganteng yang ini gimana
karakternya?” ku tunjukkan foto kucing kepada Titin.
“Ih! Jahat dia tuh! Masak
kawannya sedang makan, kepalanya di tekan gitu! Jahat dia Mamake!”
“Kalau yang ini?” ku tunjukkan
foto kucing lagi.
“Dia suka gangguin orang! Bandel
dia tuh!”
“Loh? Bukannya dia rajin baca
buku ya Cin? Buktinya dia duduk di atas buku.”
“Mana pula dia rajin baca buku.
Yang jelas, Nampak dari wajahnya kalau dia suka ganggu orang.”
“Kalau yang ini?” ku tunjukkan
foto kucing yang ketiga.
“Ih, besar kali bola hitam
matanyaaa!”
“Ganteng banget kan?”
“Mana pula ganteng gitu! Dia ni
kayaknya pengaget, mudah tersentak. Ada suara agak keras dikit, kaget, ada yang
megang dia, kaget. Apa-apa kaget dia!”
“Hhahaa… kok kita jadi bahas
kucing gini sih?”
“Mamake kan emang aneh.”
Perutku tiba-tiba rasanya sakit
banget. Dan sempat teriak.
“Pantesannn…! Kan kalau sedang
haid nggak boleh minum yang dingin-dingin loh Mamakeee!”
Sebenarnya aku udah berniat beli
1 Choco Changer saja tadi, tapi karena aku takut Titin segan karena
menikmatinya sendiri, makanya aku beli putuskan untuk beli 2. Aku nggak pengen
bikin orang segan dan nggak nyaman.
***
Bagai mengulang kenangan. Kalau
kemarin aku dan Lia melintasi jalanan ini bersama Teguh, kali ini kami hanya
berdua dalam remang yang sama. Kak Nina dan dek Ulmi sudah duluan. Untuk
membunuh heningnya kegelapan jalan lintas Pekanbaru-Sumatera Barat, aku tak
berhenti mengoceh kepada Lia tentang berbagai cerita. Cerita-cerita sejak kami
berangkat dua jam yang lalu memang sudah tertinggal di belakang sana, tapi kami
tak kehabisan ide untuk cerita-cerita lugu yang baru.
“Cin, masa tadi Titin bilang
gini; ‘Tin pengen sekaliiiiii aja lihat film Mamakee. Mamake tuh cocok loh
dengan peran-peran kayak Oki gitu. Ih, Tin penasaran jadinya, gimana ya Mamake
kalau acting nanti?’ gitu katanya Cin. Aku terkesima kali loh dengan
kata-katanya Titin tuh! Dia serius kali ngomongnya.”
“Aamiin ya Allah. Eh, Cin, ada
casting film Assalamualaikum Beijing loh! Ikutan yok? Si Bela ikut tuh! Dia
milih perannya Kak Laudya Chyntia Bela sebagai Sekar.”
“Seriusan Cin? Tapi, casting buat
apa lagi? Kan filmnya udah tayang?”
“Mau bikin serialnya Cin. Makanya
ada castingnya. Ingat nggak perjuangan kita untuk nonton film Assalamualaikum
Beijing kemarin?”
“Ingat donk! penuh perjuangan
banget! Dan, ingat nggak waktu itu kita sama-sama berdoa semoga kita bisa main
film bareng?”
“Ingaaat. Aamiin ya Allah. Semoga
jadi kenyataan ya Cin. Mu pengen jadi siapa di film itu?”
“Mu jadi Asma, aku jadi Sekar.
Cucok tuh kan!?”
“Bangettt! Mari kita ikut casting.
Kebetulan, castingnya itu online Cin. Acting kita itu direkam dan diupload ke
youtube.”
“Seru tuh! Dan praktis banget.”
Maghrib sudah berlalu dan kami
baru saja melewati desa Kampung Patin yang pernah kami kunjungi bersama Teguh.
“Ini ke rumahmu masih lama Cin?”
“Masih 2 jam lagi, ehehe. Sabar
ya!”
“Iyaaa. Nggak apa-apa Cin. Aku
hepiiii banget kok!” kataku sambil menggeserkan posisi duduk. Ku urut sedikit
pinggangku yang sebenarnya ngilu banget, hiksss.
“Cin, hari Sabtu besok, aku mau
ngajak mu kondangan ke tempat bang Dian di Bangkinang.”
“Siapa tu Cin?”
“Aku kalau ditanya kenal dari
mana, aku nggak selalu ingat, Cin. Soalnya aku selalu menjalankan nasehatmu
untuk meng-add teman dari teman yang inspiratif.”
“Ohohooo..yang itu toh! Masih
ingat juga mu?”
“Masih donk, hehehe. Nah, kalau
awal mulanya kenal dengan Bang Dian ini karena ngelihat DP Anggi ngomentari
FBnya Bang Dian. Aku perhatikan, fotonya Bang Dian itu kayak di Inggris gitu,
aku add lah langsung. Ternyata bener, dia S2 di luar. Abang tu pun ramah,
walaupun nggak kenal sama aku, kalau aku komen FBnya, dia pasti balas komen
dengan ramah. Emang dasar orang baik ya gitu. eh, ternyata dia itu orang Kampar
juga, Cin. Dia kuliahnya di UGM, jurusan Teknik Kereta Api. Harapannya sangat
besar Cin, bakal ada kereta api di Sumatera.”
“Wawwwww… aamiin.”
“Hari Sabtu esok juga hari
pestanya Bang Azroi dan Kak Ema.”
“Kalau mereka di mana acaranya
Cin?”
“Di Pandau.”
“Oh…jadi dari ujung ke ujung nih
perjalanan kita ya?”
“Yuyuuuiiii. Sebenarnya ada 1
lagi Cin, seniorku di acara Kelas Persiapan Beasiswa kemarin. Abang itu
kereeeen banget, rendah hati dan pintar. Acaranya di dekat asramaku. Ih,
pokoknya aku bersyukur banget Cin kenal dengan orang-orang luar biasa seperti
mereka. Jiwa volunteer mereka sangat tinggi dan ingin membangun Riau dengan
kapasitas mereka masing-masing.”
“Hemmmm.. kece banget tuh Cin!
Kemarin aku pernah ngobrol dengan Bang Wira dan intinya Bang Wira itu
menyimpulkan kalau kegiatan-kegiatan volunteer dari anak-anak muda itu sangat
membantu Indonesia yang udah mirip benang kusut ini Cin. Karena, mereka kan
NGO, jadi nggak perlu nunggu pemerintah kalau mau bikin aksi atau gerakan.
Yahhh..you know lah, kalau udah berurusan sama pemrintah tu birokrasinya ya
ampuuuunnnn ribetnyaaaa,” jelasku.
“Setuju! Pak Anis Baswedan Kamil
pernah bilang gini; ‘Volunteer itu sebenarnya bukan tidak dibayar, tapi tak
terbayar.” Kece kan? Luar biasa sekali kegiatan-kegiatan pengabdian kayak gitu
ya Cin.”
“Apa pun kegiatannya, ruhnya
harus tetap ruh PENGABDIAN ya Cin! Makanya, kalau ditanya, aku mau pilih bisnis
butik, penerbitan, atau tour n travelling, aku lebih milih jadi pengusaha
SAMPAH Cin. Aku pengen mengabdi untuk lingkungan. Besar harapanku akan terjadi
perubahan besar di Pekanbaru terkhusus dan aku pengen nantinya akan ada cabang
BANK SAMPAH di seluruh kota-kota besar di Indonesia dengan mencotoh
permodelanku.”
“Aamiin ya Allah. Semangat
Ciinnn!”
***
Kami baru saja tiba di kediaman
Lia dan keluarganya tercinta. Kami disambut hangat oleh Ayahnya karena Ibunya
sedang membantu-bantu acara di tempat tetangga. Tak sempat mandi, karena badan
sudah remuk redam rasanya. Pinggangku semakin ngilu rasanya. Alhamdulilah,
setelah berbaring sebentar dan disuguhkan makanan yang luar biasa nikmatnya,
aku merasa lebih baik.
“Cin, ada film?” tanya Lia.
“Yahhhh… aku nggak bawa hardisk
Cinnn. Eh, tapi ini ada 1 film yang kata Teguh bagus banget, tapi bagiku sih
nggak terlalu, eheh.” Aku mengopikan film Beautiful Mind untuk Lia. Lia
langsung menontonnya. “Kenapa nggak dikeraskan lagi suaranya Cin?” tanyaku.
“Nanti kalau kedengaran sama
Emak, disuruhnya tidur Cin.”
“Oooo gituuuuu.”
Tapi, akhirnya Lia yang ketiduran
setelah 10 menit menonton. Semua orang juga sudah tidur, rumah ini sudah sunyi.
Tapi, aku sudah lupa dengan kantuk dan lelahku ketika teringat cerita hari ini
belum selesai ku tuliskan. Segera ku raih laptopku dan mulailah aku menarikan
jemari di atas tuts-tuts huruf ini.
Jam sudah menunjukkan pukul
00.15wib. Ada suara truk di depan rumah yang ku prediksi sedang menimbang
sawit. Setelah mobil itu pergi, lolongan suara Anjing malah memperseram suasana
malam. laptop sudah ku matikan dan tinggal dibereskan saja.
“Liaaa!”
Suara seorang perempuan dari arah
belakang itu mengagetkanku. Suara siapa kira-kira? Apakah Emaknya Lia dengar
grusa-grusu gerakku sehingga ingin memastikannya? Aku tak ambil peduli. Ku
sembunyikan laptop dan HPku di bawa juntaian mukena dan baju-baju, sehingga
kalau ada maling, ia akan terkecoh. *ekstra antisipasi.
“Liaaaa!”
Satu kali lagi suara itu terdengar.
Sekilas, seperti suara emaknya Lia, memang. Tapi, ah… aku semakin ketakutan.
Mungkin juga aku yang terlalu parno. Segera ku pejamkan mataku supaya lelap
segera menjemputku. Bismika Allahumma akhya waamut.
Assalamualaikum Kampar…Selamat malam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar