Selasa, 30 Desember 2014

Pemilik Senyum Abadi

Ingin sekali ku ungkap cerita untukmu
Melalui aksara-aksara bisu
Kemarin, ketika jingga bergelantungan di langit
Aku terisak dalam tangisan karena merindumu.

Bunda...
Angin yang berhembus kemarin
Membawa wajahmu dari lubuk masa lalu
Jelas bunda... begitu jelas wajahmu tergambar di sana
Dalam ingatanku yang kerap diperbudak dunia


Bunda...
Wajahmu berjatuhan di atas telapak tanganku
Ketika ku betang sajadah dalam kelabu yang merayu
Ingin sekali ku petik satu persatu bayangmu bunda...
Untuk menemani air mataku

Bunda...
19 tahun usiaku, ternyata belum berarti apa-apa.
Bila ku sandingkan celakaku dengan cintamu
Ibarat Jelantah yang menggenang: hanya mencemari
Namun, engkau tetaplah air : selalu memberi sejuk di setiap teguk

Bunda...
Ingin ku bertanya padamu
Seberapakah luasnya hatimu?
Sehingga masih saja tersisa taman hijau untukku
Padahal halaman-halamanmu sudah sering ku penggal

Bunda...
Aku seperti Dandelion: mudah diterbangkan angin
Namun dengan kedua belah tangan letih itu,
Engkau mampu engalihkan pusaran angin
Sehingga tak memporandakanku 

Bunda...
Ingin sekali aku mendekapmu meski hanya lewat bayang-bayang
Namun, tanganku tak cukup kuasa melakukannya
Maka ku jadikan doa ini
Sebagai caraku MEMELUKMU

# Puisi ini mendapatkan Juara 1 dalam lomba menulis puisi di hari Ibu tahun oleh HIMA PEKON UR 2012 

Tidak ada komentar: