Rabu, 18 Februari 2015

Pasar Bawah Rama-Yana kak Diella

Usai didapati nomor antri ujian esok pagi
kita menyelingi sepi di antara asap meliputi
tak terlalu nampak di mata, tapi menyesaki
matahari mulai meninggi meski
jalanan tetap seperti hari-hari

Kita terlalu asyik bercerita tanpa waspada
pak polisi membimbau kita menepi
warna rompi hijau stabilo menyilau
Kita tak ada yang siuman bahwa bahaya
Aku terutama, hanya mengangguki bersetuju
Ntah apa itu
Akhirnya, kita berpasrah pada lembar 100 ribu
Dulu, waktu aku menyimak cerita teman tentang cerita ini
rasanya aku bersegera siaga jika-jika aku mengalami
tapi apa yang berlaku hari ini adalah lupaku pada siaga diri
hanya menurut berpasang wajah polos mudah terkelabui
siapa peduli?
mereka juga mencari rezeki dari sadisnya ini

/Pasar Bawah/
Kita berkeliling, lurus, ber-kiri, lurus, ber-kanan
Memburu sepatu, hijab, gamis, bros, ntah apa lagi
tapi hanya bros yang terbeli
kita letih mengitari
hanya mencari ntah apa ke sana-kemari
berikutnya kita berpindah pergi
tapi, memilih jalan yang tidak tadi kita dilalui

/Rama-Yana Diella/
Santap siang kita santap nikmat tanpa ampun
sambal terong berbakar, berdamping gulai salai memenjaiku
kalau kak Diella adalah tambusu bedanya
sama-sama nikmat, tiada tak cukup

Yang tadi diburu masih dilanjuti
tempat yang kini lebih luas melebari
hal yang lain justru didapati
aku ber-ringan tangan meminta pinjami membeli gamis
selagi murah, cantik, jangan sampai rela ku lewat

Kita pasrah pada letih pencarian tanpa tersebut berkualitas
kita beringsut ke lantai teratas untuk ber-Rama-Yana
sudah pasti barang bagus lagi bisa terjamin di sini
kami menemukan 2 sepatu cantik ber-persen 50%+20%
tak apalah, yang penting memuaskan lagi membanggakan pemakai

Tinggal kaki yang berpenat di malam
sisa perjalanan ntah macam apa di hari ini

Berlanjut pada sesi tangkap gambar
Persiapan promosi pada launching karya nanti
Insya Allah semoga diberkahi

Sebenarnya, ada lagi cerita cemburuku
Pada dia yang memaksa tiba-tiba nama-nama itu
Aku saja tak terfikir akan menuliskan siapa
Jadi sadar saja, akulah yang tak bersesiapa
Aku tergugu diam
Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan menganggap cintanya
Padahal dia yang biasa saja pada semua
Tapi, aku tak pernah pandai santun dengan cemburu
Bagiku, sahabat hanyalah 1, berdua denganku
Sebab, aku dulu pernah bertiga, berlima, berdua tapi berekor 4 dan GAGAL semua
Maka, jika kau tak pandai melebihkanku
Aku yang harus pandai mengurangimu

#Sore Hari, January 17th 2015
Rini, Andin, Lia, Yudi, Bang Enda, kak Diella

Tidak ada komentar: