Kelabu mencegah sinar hangat menembusi
Masih pagi
Kira-kira pukul 8 masih
Aku dan 3 sahabat sepenuh jiwa bersiaga
Saat gerimis mereda, kami melaju
Benar kiranya, tak lama setelahnya
Rintik terseka
/Sesi 1/
Di samping tetembokan SMA Negeri 1 Pekanbaru
Dikamerameni sakinah--sebiru almamater juga
Ragam posisi di abadikan
Diulang-ulang berulang hingga kami kenyang
"Sungguh! Aku tidak ingin jadi artis," begitu judul novelnya
Gurindam dihamparan biru reklame GSM membatu
Kami jadikan ia bicangan dalam kenangan nasihat
Berharap ia kembali hidup sehidup penghidupnya
Lalu tumbuh beriman di hati nafas ber-melayu
/Sesi 2/
Di luar pagar Pustaka Wilayah Soeman HS
Kami coba menego bang satpam
Ia bersikekeh menyegel gerbang
Kami bimbang, berencana saja syuting dari luar
Tetiba, wanita ber-serba merah memarkir
Menyanyai kami sudah jelas sedang bimbang
"Gak bisa masuk ya?" tanyanya
"Iya kak!" jawab kami
"Kecewa?"
"Ya jelas lah kak!" heran kami.
Ia mengeluarkan mic RTV dari tas selempangnya
Kami berpandangan
Allah selalu menunjukkan Anonim-Nya
kebetulan adalah cara-Nya
2- 3 tujuan dalam 1 kemudahan terlampaui
Usai gurindam disambangi, giliran kami diliputi TV
Siapa tak menyangka? Kami demikian
Niat hati memeluk guridam, malah diberikan helatan
Alhamdulillah
/Sesi 3/
Di dalam Taman Budaya, tetangga Arya Dutta
Telinga menyimak Azan, Perut menagih makan, Syuting menagih peran
Di tempat ini, gurindam dipuisikan, usai tertunai apa yang berkewajiban
Berpenampilan oleh sii pa'cik sebagai peracik puisi
Kami yang lainnya menyimak sambil berperan sekali
Usailah sesi, sesuai skrip asli tergenapi
Giliran perut disantuni
Melahap lapar-dahaga di bundaran meja bersama
Sungguh nikmat sangat
Semoga hasil syuting memikat.
#Gobah Bertuah, 18 Januari 2015
Dek Jhon, Dek Teguh, Yudi, Maya, kakak Reporter Riau TV
Dek Jhon, Dek Teguh, Yudi, Maya, kakak Reporter Riau TV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar