Minggu, 15 Maret 2015

RAPAT Perdana FLP dan LUNCH Spesial Bareng Walikota

Pagi-pagi udah bersiap menuju Masjid Ar-Rahman untuk rapat perdana FLP Pekanbaru.
Nah, aku dapat 2 amanah sekarang. Yang pertama, aku sebagai Co. Humas di FLP Ranting UR sekaligus anggota Humas di FLP Pekanbaru. Heemm, bismillah semoga teguh menjalankan amanah. Setelah memarkirkan motor di halaman mesjid, aku merapikan pakaian yang compang-camping karena angin di jalan. hiksss. Oh ya, hari ini aku bertema Hijau-Putih. Aku memadukan dress putis semi jeans dengan kemeja hijau yang sengaja tidak dikancingkan. Bagian tangan ku gulung sedikit dan menggunakan manset merah. Lalu, tali pinggang rajutan berwarna putih melingkar di pinggangku. Sihiyyyy...

Kami membicarakan program rutin yang akan dilaksanakan, iuran wajib per-pertemuan dan acara kenduri FLP yang rencananya 2 minggu lagi dihelat. Hemmm, di sampingku ada dek Suci. Dia udah punya 3 buku loh, Ciin..hihi. Kece kan? Nah, bocorannya, dia hanya menghabiskan budget Rp 1.500.000 untuk cetak 100 eks buku. Jumlah halaman bukunya 100 halamana lebih, tapi tanpa ISBN. Nah, istimewanya lagi ternyata penerbitnya berada di Pekanbaru, tepatnya di jalan Delima. Boleh nih pemirsa, kalau mau dicari tahu; Dunia Grafika Publishing. Ntar kalau udah nemu, kasih tahu eke ya gimana-gimananya. Simbiosis gitu cin....hehe


Elisa ikut kan ke rumah wali kota Pekanbaru?
Tanya Dira. Dia memang paling rajin ngabarin dan ngajak aku ke agenda yang belum aku tahu infonya. hehe. Tapi, ngapain ke rumah walikota? Seru sih, tapi ngapain gitu kan?

Makan siang dan temu ramah dengan Wali Kota, El. Jam 12.00 langsung ke sana aja ya. Kami dari BEM bareng-bareng berangkatnya.

Aku yang kebetulan udah di Sudirman akan langsung ke TKP. Tapi, aku sholat Zuhur dulu di Ar-Rahman dan ketika melihat jam, udah pukul 13.00wib lalu aku meragu. Ah, seganlah kalau terlambat. Siapa pula aku, bisa terlambat sesuka hati dan masuk begitu saja? Huaaahh. Udah deh, nggak usa ikutan ke sana. Motor sudah ku arahkan ke jalan Nangka, Tuanku Tambusai. Tapi, tepat di depan jalan Ahmad Yani, aku menghentikan motor dan menanyakan lagi ke Dira dan kali ini dek Teguh juga.

Belum mulai kok Ca. Sinilah!
Belum mulai Mak. Langsung aja ke sini.

Bismillah, berbekal 2 bbm tersebut, aku langsung memasuki jalan Ahmad Yani dan ke TKP, tempatku dulu pernah Rp 100.000 ditilang bareng kak Dila. Agak ngeri-ngeri gimana gitu, tapi ah cuek aja. Kalau aku ditilang lagi, aku tinggal bilang sama bang Zulfa aja. Toh, pos polisinya itu memang di samping rumah pak Firdaus. hihii, setelah trik tersusun. Aku memasuki halaman rumah wako dengan pede. "Ada keperluan apa Dek?" tanya pak satpam. "Ada acara bersama BEM di dalam, Pak!." Dan, dia langsung mempersilahkanku dengan santun. Hehe, enak ya kalau bawa nama kelembagaan, ngerasa bisa dipercaya dan bisa menikmati fasilitas seperti orang penting. hihiii

Lunch di mulai jam 13.30wib, setelah pak Firdaus sampai ntah darimana tadi. Aku dan 5 orang lainnya sudah ready menempati meja bundar di dekat pak Firdaus. Sementara teman-teman yang lainnya duduk berjajar di depan kami. Alhamdulillah, akhirnya ngerasain juga gimana makan dengan waitress yang standby di belakang kita. Dan, ketika kita mau minta sesuatu tinggal bilang aja.

"Mas, boleh tolong ambilkan nasi lagi?" sihiyyyy nasinya kurang ya Buk? hehee
Setelah nasi datang, "Mas, pecalnya masih ada?" kata dek Ewa pula. hehee. Nikmatilah fasilitas ini, kawan selagi tersaji untuk kita. Setelah 20 menit makan, acara dilanjutkan dengan pemberian RAPERDA (rancangan peraturan daerah) oleh Kementrian Advokasi BEM UR. Isinya adalah seperangkat peraturan yang dirancang oleh mahasiswa dan praktisi di UR tentang perederan narkoba dan minuman keras di Riau. Itikad dan sumbang-saran kami ditanggapi dengan baik oleh pak Firdaus. Subhanallah, ternyata nih bapak ilmu agamanya luas bener. Beliau bercerita tentang sistem pemerintahan pada zaman Rosulullah. wewww! Kece badai.

Setelah berfoto bersama, kami berpamitan. Oh ya, di tengah tunggu makan siang tadi aku ke luar gerbang untuk nemuin penjual Power Bank yang nganterin pesananku. Alhamdulillah, akhirnya aku punya PB juga. Harganya Rp 100.000 dengan 75.000 M.Ah. Warnanya putih bergaris pink. Aku pulang bareng Ratih, sebab kak Wulan dan kawan-kawan mau ke bioskop dulu katanya.

Di tengah perjalanan...
".... Makanya aku yakin Elis itu adalah orang yang open minded. Tapi terserah Elis sih! Kita itu punya 3 hal yang harus diisi Lis. Intelektual, Emosional dan Spritual. Kalau yang intelektual dan emosional aku yakinlah Elis udah. Tapi spiritual kita perlu diisi dan aku yakin Elis bisa menerima itu karena Elis berfikiran terbuka."

"Makasih ya Cin udah diingatin," balasku santun.
"Iya sama-sama. Oh ya, gimana nih Elis masih pacaran?" tanyanya enteng.
"Hey!!! Kok itu pertanyaannya?" jawabku setengah berteriak.
"Iya kan, Elis memang pacaran. Eh, atau masih pedekate?" tanyanya lagi.
"Siapa yang bilang sih? Tau darimana emangnya?"
"Iya loh. Aku yakin banget. Duh, aku lupa pula sejak kapan aku yakin kayak gini. Ha, waktu dulu kita kenalan kan di 'kelompok' kita dan ada yang nanya, 'status, gimana status?' trus, Elis tuh jawab gini 'kalau yang satu itu udah tahulah ya,' Elis sambil senyum-senyum waktu itu. Jadi, aku udah yakin aja kalau Elis punya pacar. Eh, emangnya salah ya Lis? Tapi, rasanya nggak lah."
"Hayoooo, udah suuzon 3 tahu loh sama aku. Hayooo."
"Masa iya Lis? Tapi aku kok yakin banget ya. Jadi Elis nggak pernah pacaran emangnya?"
"Aku walaupun bandel gini punya prinsip loh! Sejak SMP, aku udah bertekad buat nggak pacaran. Suka sama cowok emang sering sih. Tapi nggak pernah tuh sampai serius berpacaran dengan mereka. Terus, walaupun aku suka gaya-gaya gini, ini bukan untuk menarik perhatian seseorang. Karena aku memang suka aja modis. Nah, memangnya kalau waktu itu aku jawabnya sambil senyum-senyum, itu udah pasti pertanda aku pacaran? Mungkin waktu itu aku malu. Hayoooo, udah 3 tahun suuzon."
"Eh, berarti aku yang salah ya, Lis? Maaflah yaa kalau gitu. Iya, soalnya waktu itu aku yakin aja."

Perjalanan berlanjut. Aku mengantarkan Ratih hingga ke jalan tikus di Fakultas Teknik dan aku segera merebahkan tubuh di atas kasur empuk kamarku. Huaaahh,, kok lelah banget ya rasanya? hihi... Hari yang penuh kejutan. ^_^

Tidak ada komentar: