Pernahkah tiba-tiba terfikir olehmu untuk menikah di usia yang udah berkepala 2?
Atau pernah nggak merasa gimanaaa gitu waktu dapat undangan pernikahan dari teman sekolah?
Kalau aku sih biasa aja tuh, ehhe
Belum kepengen.
Ngurus diri sendiri aja masih kelimpungan apalagi ngurusin suami, ehhe.
Eh, lagian kan suami kita nanti sebelum menikah dengan kita, dia kan udah biasa juga ngurus dirinya sendiri (kan nggak mungkin ya masih diurusin sama emaknya, ehe), tapi ketika udah menikah kok dia jadi rewel dan minta kita ngurusin ini-itunya. Ya, kenapa sih nggak berusaha ngurusin urusan masing-masing aja kayak waktu masih sendiri-sendiri. Iya toh? Mandiri kek. Hal-hal teknis dan harian harusnya bisa donk dikerjakan sendiri nggak perlu nunggu istri. haha (ini karena aku belum mengalami, ntah deh ntar. haa)
Hari ini aku dan Lia menghadiri 2 undangan pernikahan.
Yang pertama undangan dari Kak Resi dan Bang Tarmizi di Kampar.
Yang kedua undangan dari Rani teman kursus di Briton setahun yang lalu.
Kalau kondangan ke tempat kak Resi itu aku bareng anak-anak BEM Keluarga Teladan (lumayan, sumbangannya lebih ringan hehe). Aku memangku kado besar yang mungkin isinya dispenser, dengan Lia. Bang Enda dengan anak Fisika, Kak Dewi sendirian, dan kak Rahma membonceng kak Sisil. Setibanya di TKP, ketemu kak Obi deh yang semoga cepat nyusul sahabatnya itu. Pas ngisi buku tamu, eh dikasih souvenirnya almatsurat. Subhanallah. Eh, kak Resi memandang ke arahku. Cantik sekali dia hari ini, dalam balutan baju adat Melayu berwarna orange senada dengan jilbab yang digunakannya. Makanannya juga enak tapi aku dan Lia nggak sempat mencicipi makanan lainnya karena terjepit waktu untuk kondangan berikutnya. Kami mendesak pasukan untuk segera berfoto bersama dan menyalami pengantin. Setelah itu, aku dan Lia cuss duluan dan nyari mesjid buat sholat Zuhur. Eh, di sampingku ternyata ada Ummi yang baru sholat juga.
"Eliiissss," sapanya, mengejutkanku.
"Eh, ada umiiiii. Apakabar?" tanyaku.
"Baik Lis. Kok nggak pernah nampak sih, Lis? Aku sering kali ngomongin Elis sama yang lainnya: Eh, Elis itu kemana sih, kok nggak pernah kelihatan? Skripsinya gimana dia?"
"Terus apa kata yang lainnya, Miii?"
"Paling mereka cuma bilang gini: Ah, dia itu sebentar tuh nyoo ngerjainnya! Nova juga gitu jawabannya .Terus, aku bilang sama Rona: Ron, mintalah tanda tangan si Elis sebelum nanti susah mintanya. hahaaa."
"Ah, kalian bisa ajaa. Ammiin ya Allah, aamiin semoga segera."
Lagi-lagi pertanyaan dan pernyataan tentang si kawan itu muncul lagi. Kali ini dari bibis Umi. Tapi aku tetap berusaha menjawabnya seolah tidak pernah terjadi apapun dengannya. Apa gunanya juga jika aku menunjukkan sesuat? Toh, nggak ada manfaatnya juga buatku. Aku dan Lia kembali melaju setelah mendapat beberapa jepretan narsis. Kali ini aku yang menyupir wussss aku melaju.
"Ciin, lihat HP siapa tahu kak Suci ada menghubungi!"
Karena nggak ada sms/telvon sama sekali, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke kosanku dan mengecas Andro yang cepet banget lownya ini. Lia segera OL dengan lepiku dan akhirnya kami dapati kak Suci dan Nadia masih di sana. Cusss, kami bersiap-siap menuju lokasi yang baru kami tahu dengan jelas dimana keberadaannya; Arengka 1, arah ke Kubang. Aku berganti kostum karena sudah merasa kegerahan. Awalnya aku menggunakan setelah gaun. Manset merah dimasukkan ke dalam rok hitam lebar dan di luarnya dipakai lagi gaun can see berwarna putih yang dibuka seluruh kancingnya. Jadi deh, gaun up to date. Padahal ini adalah strategi penggunaan pakaian yang udah sempit dan nggak terpakai. hihii, Alhamdulillah berhasi berdaya guna lagi. Sekarang, aku cuma menggunakan blazer cream dan rok hitam plus jilbab merah. Formal sih kesannya, tapi tetap trendy. hehe
Di TKP, ketemu dan gila-gilaan bareng kak Suci dan kak Nadia. Duh, kak Suci kebetulan nggak bawa Nacita, jadilah ia benar-benar seperti masih belia dan belum menikah. hehe, apalagi kalau udah ngumpul sama para gadis masa kini seperti kami.ehee. Kado yang sudah disiapkan kak Suci ternyata luar biasa, 1 set bingkai foto yang salah satu bagiannya ada foto kami rame-rame tapi sayangnya tanpa diriku karena saat itu aku sudah terbang ke Malang menjemput mimpi. hikssss. Aku jumpa anak-anak EZ, ada Sugi, WIki, Imam dan Fahmi. Ah, ternyata kak Rani adalah anak EZ juga.
Setelah mencicipi soto, sate dan somay, kami bernarsis Ria dan bersalaman dengan Rani. Suaminya adalah orang yang ceria nampaknya dan sangat luwes. Semoga 2 sahabatku yang menyempurnakan agama hari ini menjadi sakinah, mawaddah warrohmah hingga kelak, hingga nanti, hingga selamanya, hingga tak hingga. Aamiin
Aku segera dikembalikan Lia ke kosan dan bersama Rini juga, kami melaju menuju asrama MAN 2 MODEL. Malam ini eke mau konserrr ciin di sana. Doain lancara yak? Tapi, aku seperti orang yang nggak akan tampil aja. Nggak deg-degan, nggak nulis bahan apa pun. Lagi pula, kata Lia nggak ada infokus untuk malam ini. Aku akan menyampaikan apa yang biasanya ku sampaikan tentang MAWAPRES dan beberapa motivasi yang mengiringinya.
"Enaknyaaa kamar Lia nii. Panteslah El betah kali di sini. Aku pun kalau punya kamar kayak gini senang kali rasanya. Lebar, adem, biki ngantuk aja," demikian Rini berkomentar.
Aku mengikutinya membaca-baca buku Tarbawi. Sementara Lia meneriaki anak-anaknya untuk piket sore dan bergegas bersiap menyambut aza Maghrib. Itu memang kesehariannya cinnn. Dia memang luar biasa. Eke? Belum tentu sanggup apalagi sesabar dia. Kami dinner together dengan nasi asrama dengan ulaman tempe dan bakwan goreng. Ceritanya kami mengeliminasinya duluan sebelum dihidangkan nanti malam nih, hihii. Setelah sholat Isya, aku baru mulai dag-dig-dug nih. Bismillah, dengan jilbab merah yang ku buat tumpukan di atas kepala dan dress putih panjang melingkupi rok hitamku, aku tampil epnuh percaya diri.
Seperti biasa, aku akan menceritakan sejarah selempang yang ku pakai ini. Lalu disusul dengan menjelaskan point terpenting dari sebuah kesuksesan atau kegagalan : WAKTU. Aku menekankah kepada mereka untuk menggunakan masa mudanya dengan baik dan berguna. Aku juga membandingkan fasilitas yang saat ini mereka nikmati dengan keadaanku dulu ketika berusia seperti mereka. Ah, semoga mereka terinspirasi untuk mensyukuri diri dan fasilitas teknologi informasi.
"Gimana tadi aku cin?" tanyaku kepada Lia ketika menyaksikan dek Suci bermain gitar dan bernyanyi lagu barat (Rini tahu lagu itu, tapi aku nggak pernah dengar hehe).
"Luar biasa mu ciiin. Aku aja nggak nyangka kalau mu mau menceritakan selempangmu itu. Lebih dari yang aku kira deh pokoknya," jawab Lia. Semoga pujiannya nggak salah alamat ya pemirsaaa.hehe
Lia menyuguhi kami film yang katanya judulnya: HIJAB. Tapi setelah aku dan Yuni menongkronginya sampai jam 01.00wib, nggak ada tanda-tanda kalau yang kami tonton ini judulnya HIJAB. Hiksss. Pemeran utamanya si Shireen, Irwansyah, Zaskia. Kumpulan artis-artis deh pokoknya. Dan, sedikit-sedikit yang diceritakan itu cupcake melulu. Huhh, mungkin judulnya CUPCAKE tuh cocoknya. Lia mah udah molor, nggak tahu apa yang kami hebohkan selama nonto tuh film. Huh, nggak bertanggungjawab!!! hee
Atau pernah nggak merasa gimanaaa gitu waktu dapat undangan pernikahan dari teman sekolah?
Kalau aku sih biasa aja tuh, ehhe
Belum kepengen.
Ngurus diri sendiri aja masih kelimpungan apalagi ngurusin suami, ehhe.
Eh, lagian kan suami kita nanti sebelum menikah dengan kita, dia kan udah biasa juga ngurus dirinya sendiri (kan nggak mungkin ya masih diurusin sama emaknya, ehe), tapi ketika udah menikah kok dia jadi rewel dan minta kita ngurusin ini-itunya. Ya, kenapa sih nggak berusaha ngurusin urusan masing-masing aja kayak waktu masih sendiri-sendiri. Iya toh? Mandiri kek. Hal-hal teknis dan harian harusnya bisa donk dikerjakan sendiri nggak perlu nunggu istri. haha (ini karena aku belum mengalami, ntah deh ntar. haa)
Hari ini aku dan Lia menghadiri 2 undangan pernikahan.
Yang pertama undangan dari Kak Resi dan Bang Tarmizi di Kampar.
Yang kedua undangan dari Rani teman kursus di Briton setahun yang lalu.
Kalau kondangan ke tempat kak Resi itu aku bareng anak-anak BEM Keluarga Teladan (lumayan, sumbangannya lebih ringan hehe). Aku memangku kado besar yang mungkin isinya dispenser, dengan Lia. Bang Enda dengan anak Fisika, Kak Dewi sendirian, dan kak Rahma membonceng kak Sisil. Setibanya di TKP, ketemu kak Obi deh yang semoga cepat nyusul sahabatnya itu. Pas ngisi buku tamu, eh dikasih souvenirnya almatsurat. Subhanallah. Eh, kak Resi memandang ke arahku. Cantik sekali dia hari ini, dalam balutan baju adat Melayu berwarna orange senada dengan jilbab yang digunakannya. Makanannya juga enak tapi aku dan Lia nggak sempat mencicipi makanan lainnya karena terjepit waktu untuk kondangan berikutnya. Kami mendesak pasukan untuk segera berfoto bersama dan menyalami pengantin. Setelah itu, aku dan Lia cuss duluan dan nyari mesjid buat sholat Zuhur. Eh, di sampingku ternyata ada Ummi yang baru sholat juga.
"Eliiissss," sapanya, mengejutkanku.
"Eh, ada umiiiii. Apakabar?" tanyaku.
"Baik Lis. Kok nggak pernah nampak sih, Lis? Aku sering kali ngomongin Elis sama yang lainnya: Eh, Elis itu kemana sih, kok nggak pernah kelihatan? Skripsinya gimana dia?"
"Terus apa kata yang lainnya, Miii?"
"Paling mereka cuma bilang gini: Ah, dia itu sebentar tuh nyoo ngerjainnya! Nova juga gitu jawabannya .Terus, aku bilang sama Rona: Ron, mintalah tanda tangan si Elis sebelum nanti susah mintanya. hahaaa."
"Ah, kalian bisa ajaa. Ammiin ya Allah, aamiin semoga segera."
Lagi-lagi pertanyaan dan pernyataan tentang si kawan itu muncul lagi. Kali ini dari bibis Umi. Tapi aku tetap berusaha menjawabnya seolah tidak pernah terjadi apapun dengannya. Apa gunanya juga jika aku menunjukkan sesuat? Toh, nggak ada manfaatnya juga buatku. Aku dan Lia kembali melaju setelah mendapat beberapa jepretan narsis. Kali ini aku yang menyupir wussss aku melaju.
"Ciin, lihat HP siapa tahu kak Suci ada menghubungi!"
Karena nggak ada sms/telvon sama sekali, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke kosanku dan mengecas Andro yang cepet banget lownya ini. Lia segera OL dengan lepiku dan akhirnya kami dapati kak Suci dan Nadia masih di sana. Cusss, kami bersiap-siap menuju lokasi yang baru kami tahu dengan jelas dimana keberadaannya; Arengka 1, arah ke Kubang. Aku berganti kostum karena sudah merasa kegerahan. Awalnya aku menggunakan setelah gaun. Manset merah dimasukkan ke dalam rok hitam lebar dan di luarnya dipakai lagi gaun can see berwarna putih yang dibuka seluruh kancingnya. Jadi deh, gaun up to date. Padahal ini adalah strategi penggunaan pakaian yang udah sempit dan nggak terpakai. hihii, Alhamdulillah berhasi berdaya guna lagi. Sekarang, aku cuma menggunakan blazer cream dan rok hitam plus jilbab merah. Formal sih kesannya, tapi tetap trendy. hehe
Di TKP, ketemu dan gila-gilaan bareng kak Suci dan kak Nadia. Duh, kak Suci kebetulan nggak bawa Nacita, jadilah ia benar-benar seperti masih belia dan belum menikah. hehe, apalagi kalau udah ngumpul sama para gadis masa kini seperti kami.ehee. Kado yang sudah disiapkan kak Suci ternyata luar biasa, 1 set bingkai foto yang salah satu bagiannya ada foto kami rame-rame tapi sayangnya tanpa diriku karena saat itu aku sudah terbang ke Malang menjemput mimpi. hikssss. Aku jumpa anak-anak EZ, ada Sugi, WIki, Imam dan Fahmi. Ah, ternyata kak Rani adalah anak EZ juga.
Setelah mencicipi soto, sate dan somay, kami bernarsis Ria dan bersalaman dengan Rani. Suaminya adalah orang yang ceria nampaknya dan sangat luwes. Semoga 2 sahabatku yang menyempurnakan agama hari ini menjadi sakinah, mawaddah warrohmah hingga kelak, hingga nanti, hingga selamanya, hingga tak hingga. Aamiin
Aku segera dikembalikan Lia ke kosan dan bersama Rini juga, kami melaju menuju asrama MAN 2 MODEL. Malam ini eke mau konserrr ciin di sana. Doain lancara yak? Tapi, aku seperti orang yang nggak akan tampil aja. Nggak deg-degan, nggak nulis bahan apa pun. Lagi pula, kata Lia nggak ada infokus untuk malam ini. Aku akan menyampaikan apa yang biasanya ku sampaikan tentang MAWAPRES dan beberapa motivasi yang mengiringinya.
"Enaknyaaa kamar Lia nii. Panteslah El betah kali di sini. Aku pun kalau punya kamar kayak gini senang kali rasanya. Lebar, adem, biki ngantuk aja," demikian Rini berkomentar.
Aku mengikutinya membaca-baca buku Tarbawi. Sementara Lia meneriaki anak-anaknya untuk piket sore dan bergegas bersiap menyambut aza Maghrib. Itu memang kesehariannya cinnn. Dia memang luar biasa. Eke? Belum tentu sanggup apalagi sesabar dia. Kami dinner together dengan nasi asrama dengan ulaman tempe dan bakwan goreng. Ceritanya kami mengeliminasinya duluan sebelum dihidangkan nanti malam nih, hihii. Setelah sholat Isya, aku baru mulai dag-dig-dug nih. Bismillah, dengan jilbab merah yang ku buat tumpukan di atas kepala dan dress putih panjang melingkupi rok hitamku, aku tampil epnuh percaya diri.
Seperti biasa, aku akan menceritakan sejarah selempang yang ku pakai ini. Lalu disusul dengan menjelaskan point terpenting dari sebuah kesuksesan atau kegagalan : WAKTU. Aku menekankah kepada mereka untuk menggunakan masa mudanya dengan baik dan berguna. Aku juga membandingkan fasilitas yang saat ini mereka nikmati dengan keadaanku dulu ketika berusia seperti mereka. Ah, semoga mereka terinspirasi untuk mensyukuri diri dan fasilitas teknologi informasi.
"Gimana tadi aku cin?" tanyaku kepada Lia ketika menyaksikan dek Suci bermain gitar dan bernyanyi lagu barat (Rini tahu lagu itu, tapi aku nggak pernah dengar hehe).
"Luar biasa mu ciiin. Aku aja nggak nyangka kalau mu mau menceritakan selempangmu itu. Lebih dari yang aku kira deh pokoknya," jawab Lia. Semoga pujiannya nggak salah alamat ya pemirsaaa.hehe
Lia menyuguhi kami film yang katanya judulnya: HIJAB. Tapi setelah aku dan Yuni menongkronginya sampai jam 01.00wib, nggak ada tanda-tanda kalau yang kami tonton ini judulnya HIJAB. Hiksss. Pemeran utamanya si Shireen, Irwansyah, Zaskia. Kumpulan artis-artis deh pokoknya. Dan, sedikit-sedikit yang diceritakan itu cupcake melulu. Huhh, mungkin judulnya CUPCAKE tuh cocoknya. Lia mah udah molor, nggak tahu apa yang kami hebohkan selama nonto tuh film. Huh, nggak bertanggungjawab!!! hee


Tidak ada komentar:
Posting Komentar