Jumat, 22 Mei 2015

KPN Hari ke-2: Jayalah Ikan Gembungku!


Pagi ini, aku terbangun pukul 05.25wib. meleset sangat jauh dari yang sudah ku targetkan. Salahku sebenarnya. Kenapa pula aku terlalu percaya kepada diri yang memang sulit sekali bangun? Sebenarnya, sudah ku pesankan juga kepada Rini. Tapi, karena ia pun sedang cuti Sholat, maka jadilah seperti ini.
Menyadari slide power point yang wajib dikumpulakn semalam lewat email bahkan belum ku kerjakan, kalutku makin bertambah-tambah.
“Rin, kalau aku pakai dress batik ini dan pakai blazer, kira-kira masalah nggak?”
“Ikuti ajalah apa yang disuruh. Jangan main api.”

Sudah ku duga akan seperti itu jawabannya. Tapi, ada benarnya juga. Daripada gara-gara ingin tampil ‘berbeda’ malah akhirnya jadi soal, memang lebih baik jika aku cari aman. Akhirnya, ku gunakan rok batik sebagai baju (tentang ini, sudah pernah ku bahas di tulisan sebelumnya yaaa) dan di padukan dengan blazer dan rok rimple hitam. Cantik!
Kalau udah siap, duluan aja ya teman-teman. Jangan tunggu-tungguan karena kita kan udah tahu jalan.
Aku meminta tolong kepada Rincuy untuk mengetikkan kalimat itu. Aku akan merasa bersalah kalau waktu mereka harus terkorbankan karena menungguku yang super lelet ini. lagian, aku pun mau ke Delima juga untuk menjemput kamera yang dipakai Nilam kemarin. Barulah setelahnya, aku melaju menebas batas, menerobos di sela lalu-lalang kendaraan yang tak tentu tuju.

“Sudah jam berapa ini?”
Aku nyengir dan meminta maaf.
“Squat Jump 10x!”
Aku melaksanakan titah itu tanpa penolakan sama sekali. Ini didikan untukku.
Di dalam, sudah ada Yaumil dan Wiwik ternyata. Yudi dan Teguh masih berjuang menemukan bengkel untuk memperbaiki ban motornya yang pecah. Katanya posisi mereka di jalan Nangka, tapi ketika tadi aku melintas, aku tak menemukan mereka. Mau meminta izin atas mereka kepada panitia, tapi khawatir mereka tak menerima alasan. Ah, biarlah mereka saja yang akan menjelaskan langsung kepada panitia.
“Kita akan mulai 15 menit lagi ya. Sambil menunggu teman-temannya yang belum datang.”
Instruktur psikotest kali ini dibimbing langsung oleh psikolog. Tebakanku, mereka dari UIN. Kali ini ternyata tidak serumit 2 tahun yang lalu. Ini lebih mudah dari yang ku duga. Ada 3 jenis soal; menjawab tentang perbandingan sifat diri (hanya ada 2 pilihan), menemukan 1 kata yang cocok dengan 3 kata yang disebutkan dan yang terakhir menggambar. Hahah, sejak SD aku nggak pandai menggambar dan akhirnya, kode-kode di kertas ini hanya ku hubungkan menjadi gambar sederhana: bunga, senyum, kupu-kupu yah pokoknya yang seperti itu. Ada 8 benda di dalam 8 kolom yang harus digambar. Setelah itu, kami diminta untuk menyebutkan nama gambar dan dipilih 1 yang paling disukai (diberi tanda +), yang paling tidak disukai (diberi tanda -) dan yang maling sulit digambar (diberi tanda M). Jadi teringat ketika psikotes di Tanoto Foundation; kami diminta menggambarkan orang dalam posisi tertentu. Kalau yang itu sih, kuncinya harus menggambar orang yang sedang melakukan sesuatu (aktif), bukan yang pasif. Gicuuu, tapi kalau yang 1 ini nggak tahu deh apa kuncinya.

Ku lirik Yaumil di sebelah kiriku. Wah, dia sih emang pinter menggambar. Kompleks banget gambarnya. Kalau aku, emang murni menggambar 1 benda aja di dalam masing-masing kolom. Setelah selesai, kami disuguhi video Sail Raja Ampat dan Sail Komodo.
“Duh, enaknya…” kata Firdaus.
Aku melirik ke arahnya, di belakang kananku dan tersenyum. Apalagi aku? Mulailah untaian doa mengucur dari gerak lembut bibirku; ya Allah, akankah tahun ini benar jadi milikku? dan ketika melihat keindahan laut Papua yang begitu bening; ya Allah, andaikan saja melintasi lautan dan pulau tidak butuh biaya, maka tentulah sudah kami jelajahi setiap jengkal bumi-Mu ini dengan mudah. Seperti jawabanku ketika juri bertanya; berarti kamu cinta Indonesia donk, bukan cinta KPN? dan aku menjawab; mencintai Indonesia melalui KPN lebih tepatnya. Jadi teringat dengan bukunya Gol A Gong tentang travel writernya; semoga KPN tahun ini mengawal langkahku!

Aku bisa berada di sini saat ini juga dengan berbekal doa-doa dari banyak jiwa. Salah satunya Novi; semangat ya kak Elcek seleksinya, berlayar ya tahun ini! Kalimat-kalimat terpuji seperti itu seudah pasti tidak pernah ku tolak. Justru ku sambut dan ku aminii. Doa-doa yang ku ulang tak jauh berbeda ketika melihat video-video presentasi lainnya; ya Allah, will me be there? Aku juga bahkan sudah bercerita kepada Rini; Rin, nanti di setiap perjalanan, aku akan tulis apa saja yang ku alami. Jadi, walaupun kalian nggak ikut ke sana, tapi tulisanku bisa menyulap seolah-olah kalian bersamamu. Setiap judul postingannya akan ku bubuhi daerah yang ku kunjungi, misalnya; Sebuah Salam dari Teluk Tomini. 

***
“Busyet, Kakak-kakak itu rajin amat ya langsung menilai jawaban psikotes kita tadi?” kataku ketika salah satu dari psikolog itu berpapasan di dekat mushola.
“Iya. Kayaknya hasilnya langsung diserahkan ke penitia deh!” tambah Wiwik.
Menjelang Maghrib, namaku belum juga dipanggil. Ya Allah, kenapa kali ini lebih gelisah dari yang kemarin? Tiba-tiba, perut jadi mual, ngantuk, pusing. Huaaahhh, apa ini gara-gara panik? Masih banyak juga nama-nama yang belum dipanggil dan pintu itu masih juga tertutup sejak setengah jam yang lalu. Aku mengikuti langkah Yaumil dan Wiwik untuk menunaikan sholat Maghrib.
“Siapa yang mau mau maju duluan? Silahkan jadi volunteer!”
Aku, Wiwik dan Yaumil saling bertatapan.
Rupanya inilah hikmah sholat di awal waktu. Ketika nama kami dipanggil, kami sudah siap tampil sementara 4 orang lainnya masih ntah di mana. Aku berinisiatif untuk maju duluan. Istilahnya; curi start.

“Kentang bukan sembarang kentang
Kentang yang ini dari Padang
Datang bukan sembarang datang
Datang kemarin untuk menang” aku memulai dengan pantun optimisme. Lagi-lagi curi start.
Mulailah aku menjelaskan dengan singkat dan padat dalam waktu kurang dari  2 menit. Lebih cepat 1 menit dari yang disediakan. Aku pun pandai mengalihkan jawaban yang aku kurang mumpuni di sana. Contohnya ketika aku ditanya tentang apa peran yang sudah ku lakukan untuk ideku, maka aku menjawab; secara praktis memang belum pernah saya membuat abon, tapi secara teknik saya sudah pernah melihat pembuatannya. Selain itu, bumbu-bumbu yang dibutuhkan juga mudah diperoleh. Contohnya bawang putih, bawang merah, serai, jahe, lengkuas dan bisa ditambahkan kecap. Gimana? Lumayan kece belum? hehe..*bilang ajalah kece, biar aku seneng, hehe.
Alhamdulillah semua pertanyaan berhasil ku jawab dengan tepat (menurutku sih, ehhe).

“Perhatian ya sebelum dilanjutkan lagi. Untuk teman-teman yang mungkin mau mencoba lagi tahun depan kalau tidak lulus tahun ini, carilah ide-ide seputar pengolahan ikan. Misalnya nugget ikan, bakso ikan, keripik ikan. Mengaculah kepada program wirausaha mandiri. Jangan lagi tentang pembudidayaan…” jelas kak Cici.
Aku sedikit pede, Alhamdulillah ideku kan termasuk kategori yang dibicarakan kak Cici; Abon Ikan Gembung. Unik kan? hehe
“Mamake luar biasaaa.. Kok Mamake pula tadi yang maju duluan? Awak kan jadi nggak pede pula sekarang ni..” kata Yaumil.
“Umil, Umil harus cari sesuatu yang bikin presentase Umil itu unik dari yang lain. Tetap tenang ketika ngomong, jangan bertingkah berlebihan seperti itu,” aku menunjuk ke peserta lain yang sedang presentasi.
Setelah kelompok kami selesai presentasi, seluruh peserta di minta masuk ke dalam ruangan. Diumumkanlah kelompok penampilan budaya oleh panitia. Busyeet dah! Jadi kelompok yang kami rancang sejak kemarin malam harus bubaran. Sedangkan 2 kelompok yang belum presentasi akan dilanjutkan besok pagi jam 07.39wib, lebih cepat setengah jam dari biasanya.
“Jadi, kita ngumpul-ngumpul kemarin itu cuma silaturahmi aja ya Lis?” ledek Firdaus. Aku ikut geli.

***
Masih ada aku, dek Najib, dek Syafii dan bang Kaelani di sini. Malam sudah menunjukkan pukul 8 lebih, tapi kami masih semangat berlatih untuk penampilan besok. Para panitia sesekali melirik ke arah kami dari meja santap malam, 5 meter saja dari kami saat ini.
“Kak, boleh nggak kami pakai ruangannya? Kami nggak ngacak-ngacak kursinya kok Kak. Kami cuma mau pakai sedikit ruangannya untuk latihan pola tari.”

Setelah beberapa saat bernegosiasi, akhirnya terkabul juga permintaan kami. 3 gelas teh es menjadi pelengkap latihan kami yang kerongkongannya sudah dahaga sejak tadi. Untung aja kameraku udah ku ambil tadi pagi dari tangan Nilam, jadi sampai malam ini pun aku bisa terus mengabadikan momen-momen penting ini.
Ketika kami mau membayar di kasir,
“Berapa Kak teh es 3 gelas tadi?”
“Rp 30.000,” jawabnya cuek.
Aku berfikir, mungkin ini sekaligus jasa pemakaian ruangannya. Busyett dah! Mau protes nggak mungkin karena itu malu-maluin. Untung aja aku nggak jadi pesan makan, walaupun perut sejak tadi keroncongan. Karena, aku curiga dengan harganya. hiksss. Pukul 22.25wib, aku baru tiba di kosan dengan tentengan mi goring. Hum…nyummiii, kelaperan banget nih! Rini udah tidur. Untung aja pintu belum dikunci kak Dewi…

Seperti anjuran Wahyu ketika melihat kami berlatih tadi, tidak penting banyak penampilan tapi ternyata tidak maksimal. Lebih baik hanya 1 tapi full effort di situ. Yakinlah kami untuk menampilkan tari Rentak Bulian dan bersyair dengan Gurindam 12 besok. Flashmob yang ku rencanakan akan ku buat juga, akhirnya ditolak oleh lelahnya raga. Lebih baik ku bacakan saja salah satu puisi Januariku besok. Bismillah...

Tidak ada komentar: