Makalah untuk mengisi acara hari ini sudah selesai. Tapi, giliran aku yang nggak semangat.
Tulis bang Asqol di FB pagi ini. Aku jadi teringat sesuatu; pesan kak Desi Somalia kepadaku seminggu yang lalu. Dan setelah ku cek, ternyata benar, brosur di tanggal itu adalah hari ini. Aku ngajak Rini untuk ke Puswil jam 09.30wib nanti ternyata dia nggak bisa. Luar biasa banget sibuknya da sekarang, eke aja kalah ciinn. huaahhh.
Cin, ke puswil yuk jam 09.30wib ini. Ada acara bedah Puisi di sana.
Lia langsung menelvonku dan mengusulkan untuk mendahulukan persiapan KTI di MTQ nanti. Oke deh, aku juga udah malas beranjak (tentu pemirsa udah bosan ya dengan alasan saya? Kecanduan nulis, heehe). Rini aja sampai marah gara-gara sejak sebelum jam 7 dia udah merengek untuk minta belikan sarapan tapi nanti-nanti yang ku katakan kepadanya hanyalah semu. Tinggallah aku yang merengek-rengek dengan tampang tak bersalah merayunya agar tidak marah. hhee *dimaafin nggak nih pemirsaaa?
Lia sudah sampai di Perpus UR dan menelvonku supaya aku segera menyusulnya. Nah, ini dia penyakit berikutnya, ketika aku udah diwajibkan untuk melakukan pekerjaan (nyusul Lia ke Perpus), aku malah tiba-tiba bersemangat menyelesaikan urusan lama terlebih dahulu. Contohnya sekarang, aku bukannya cepat-cepat mandi dan nyusul Lia, malah semangat banget beresin kamar yang kayak kapal pecah kena bom nuklir ini. huaaahhhh. Bukan hanya itu, aku malah jadi niat nyuci baju 2 ember. *kepiye iki manajemen keputusannya toh? Setelah negerendem baju dan kamar kinclong, pesananku datang. Padahal yang ku pesan lauk Ikan Lele, buka Ayam kecap, tapi lagi-lagi aku ceroboh, baru menyadarinya ketika si kakak udah pergi dan aku bersiap makan. Eh, tepat sekali setelah aku selesai makan, si kakak datang lagi dan meminta maaf karena lauknya salah kasih ke aku. Karena aku ini adalah orang yang baik hati, maka aku menjawab;
"Iya memang salah Kak, tapi nggak apa-apa kok! Bahkan udah habis lauknya, hehe," gimana? Beneran aku berhati mulia kan pemirsa? *lembar botol aquaaaa. praaakkk!

Setengah jam kemudian, Lia sms;
Cin, aku ke kosmu ajalah ya..
Melegakan sekali pemirsa. Keadaan memang begitu berpihak kepadaku hehe. Lia datang dengan menenteng nasi bungkus. Ekor Nila bakar mencuat sedikit dari bungkus nasi itu. Hemmm, radar kelalaparanku mulai berdering-dering. *lapar apa kelaparan, Buk? Baru juga makan udah mau makan lagi, eheh. Eh, beneran kan aku ditawarin Lia makan bareng, ya aku mana bisa nolaklah kalau dipaksa gini? *huweeekkkk.
"Cin, tiba-tiba aku teringat dengan Bom-Dor La-la kita. Itu kan metode pembelajaran yang sekaligus bisa meningkatkan karakter kepemimpinan siswa. Tapi, sayangnya temanya nggak ada yang menyangkut ke pendidikan pula. Nah, ODOJ itu gimana sih sistem kerjanya, Cin? Jelaskan kepadaku coba!"
Setelah Lia menjelaskan panjang lebar, aku menangkap poinnya dan melanjutkan pengutaraan ide di kepala,
"Nah, kita akan coba menciptakan...*beep," penasaran ya? Makanya, pantengin terus blog ini dan saksikan apa yang akan kami ciptakan di Final MTQ Juni nanti. *emang udah yakin masuk ke final? Yakin donk cuuyyy 100% (sambil bertanya di hati; bener kan ya Allah?)
Setelah Lia beranjak ke DPM, giliran Umil yang tiba-tiba datang membawa adiknya dari Fekon. Ingin konsultasi denganku katanya.
"Dek, lihatlah ini haaa! Kakak nggak punyaaa," rengek Umil sambil memandangi piala-pialaku. Dia ingin memotivasi si adek agar semangat juga mengikuti Speech Contest di Fekon sebentar lagi. Novi juga mengikutinya, semoga menang.
"Dek, daripada Adek bingung, mending Adek baca-baca dulu tentang ekonomi dalam pandangan Islam. Nah, itu buku Kakak yang warnanya kuning coba dibaca," kataku sambil menunjuk ke rak bukunya Rini.
"Syariah Marketing," dek Rahma mengeja judul buku itu.
"Dek, yang penting dari lomba podato itu adalah sumber data yang jelas dan materi yang padat informasinya. Jadi, nggak harus terlalu rumit, bahkan hal-hal sederhana juga bisa Adek jadikan sebagai materinya," saranku.
"Gituu ya, Kak?"
Novi adalah salah satu tempatku belajar tentang per-pidato-an. Dek Novi udah sering banget menang yang begituan. Aku juga pengenlah kayak dia. Walau pun umur udah tua, tapi semangat boleh donk tetap muda?! Umil dan si Adek berpamitan akhirnya. Buku kuningku dibawa oleh si Adek dan semoga bisa jadi rujukan idenya yang katanya sulit sekali dirumuskan. Aamiin.
Aku ngelihat wall FBku, ternyata banyak banget yang udah ngelike dan juga komen. Mereka pasti udah baca blogkku dan semoga bisa menginspirasi mereka untuk menulis juga. Tadi, dengan Lia aku sempat berkata; Cin, waktu workshop di Balai Bahasa kemarin, aku ingat banget pematerinya bilang bahwa dalam menulis itu kita harus ikhlas. Ya menulis aja terus setiap harinya. Kalau pun nggak diterbitkan atau nggak dibukukan, nggak masalah. Jangan khawatir kalau tulisan kita nggak jadi apa-apa, setidaknya kisah kita sudah menjadi tulisan. Aku hanya berharap kebaikan akan terus tersebar luas lewat tulisanku ini. Seperti halnya harta, kita nggak perlu punya kisah mewah untuk bisa berbagi dengan sesama. Tulisan konyol sehari-hari juga nggak tertutup kemungkinan untuk menginspirasi banyak orang loh! Makanya, jangan pernah menyepelekan tulisan.
HPku berdering. Ada nomor baru yang menelvon. Rasa enggan dan khawatirku mulai bermunculan. Tapi, sebelum panggilan berakhir, akhirnya aku mengangkatnya.
"Halo? Mbak Elysa, ini Tian."
"Oooohhh, Tian toh! Ada apa, Yan?"
"Mbak El sibuk nggak sore ini?"
"Emangnya ada apa, yan?"
"Rencananya Tian sama Revi mau ngajak Mbak El main."
"Kemana, Yan?"
"Ya terserah Mbak aja tempatnya. Tian mau minta ajarin nulis sama Mbak El juga nih! hehe."
Karena Rini nggak bisa ikutan ke Gobah, aku melaju bersama Lia. Rencananya malam ini nginap di tempat Lia bareng Rini juga untuk ngebahas lebih lanjut ide yang udah kami rumurkan tadi siang. Rini bilang, besok pagi jam 07.00wib, dia udah harus standby untuk vote di FISIP yang kemarin kabarnya mesinnya sempat meledak dan ribuan suara harus diulang lagi. Perjalanan berbelok arah dulu mencari rumahnya bang Atqo, ketua DPM UR yang sebentar lagi lengser. Beliau menitipkan sebuah laptop dan uang seratusan beberapa lembar untuk keperluan adeknya yang sekolah di MAN 2 Model. Kalau nggak ke sini (baca: rumah bang Atqo), aku nggak pernah tahu kalau di jalan Lobak ini ada SMA 2 PGRI. Melihat lambang PGRI di depan sekolahan ini, aku jadi teringat sesuatu,
"Cin, mu ingat sesuatu nggak kalau lihat lambang itu?"
"Owalaahhh.. mirip banget ya dengan IKIP PGRI Madiun, Cin. Ya iyalah ya, mereka kan PGRI tuh."
Setelah sampai di depan Asrama putri, Lia turu dari motor dan aku membawa motornya ke jalan Sumatera, tempat Tian dan Revi sekarang berada. Kata Revi tadi di cafe setelah Klaper Pie, asal jangan sampai di cafe yang high class ajalah ya woooy, hehe. Aha! Akhirnya kali ini aku nggak salah alamat, lagi hoki kali nih akunya *kan biasanya ke asramanya Lia aja pake nyasar dulu, hehe. Aku melambaikan tangan kepada mereka berdua dan minta maaf karena lama banget dari jam yang dijanjikan.
"Mbak kita kalian nggak bakal mau ngajakin Mbak maen lagi. Soalnya setelah malam itu kalian nggak pernah mengheboh lagi bbm-in Mbak. hikssss," kataku mengiba.
"Bukan itu loh, Mbak. Memang setelah itu pada sibuk. Mbak juga sibuk terus kan? Udah mau ngajakin juga ya Vi kita kemarin nonton Cokro di bioskop.."
"Iya, wong statusnya Mbak El di bbm aja MAWAPRES-MAWAPRES terus kok. Kami kan segan jadinya mau ngajakin main," sambung Revi.
"Iya, kami ini apalah, hanya mahasiswa biasa yang nggak punya prestasi apa-apa," kata Tian lagi.
"Halaaaahh, mentelllnyaaaa. Ajak ajalah Mbaknya, kan kalau bisa pasti Mbak sempetin buat kalian."
Tian minta tolong sama aku untuk ngotak-ngatik blognya. Katanya, dia pengen yang desainnya kayak punyaku, *huehh, mana bisa, wani piroo? hehe. Emang masih berantakan sih blognya nih. Mungkin karena si Tian nggak rajin ngotak-ngatik aja. Aku juga nggak nyangka nih bisa ngasih tahu banyak hal dengan dia dan bisa nyulap blognya lebih kece dibanding sebelumnya, padahal akunya juga kemarin belajar otodidak. Udah lamaaaa banget pengen ngeblog, karean kesannya susah dan ribet makanya baru Awal Desember kemarin kesampean *itu pun dalam rangka meng-kadoi ulang tahun ke-21ku. Sempet bingung banget waktu itu, bingung gimana nih caranya ngoperasiin blog dan ngedit ini itunya supaya sesuai seperti kemauanku *ce ilee, yang perfeksionissss, huuuweeek. Dan, lihatlah diriku yang sekarang! Alhamdulillah, hasil otodidakku ini sangat berguna untuk orang lain.
Nuansa ala vintage-nya kerasa banget (baca: jadul), bunga-bunganya juga vintage banget, banyak lampion besar-besarnya dan aku sangat suka itu. Mirip banget dengan bola-bola lampion yang pernah ku lihat di thailand. Pengen banget ntar di rumahku juga lampunya dilapisi lampion kayak gini, hehe. Ada panggung kecil di sebalik etalase yang menghadap langsung ke arah pintu masuk. Tempat orang nge-band mungkin atau si cafenya punya para pemain musik andalan untuk menghibur pendatang? Mungkin aja. Tapi, sayangnya kali ini hanya kami bertiga yang mampir ke sini, cukup sepi tapi cocoklah dengan kami yang sedang mencari ketenangan ini *heeeleeeeeh.
El, pendaftaran KTI MTQ ternyata udah tutup loh sejak tanggal 30 April. Jadi, gimana nih nasib kita? Terlambatlah kita nih...
Rini mengirimi kalimat itu. Aku kok nggak yakin ya dengan si Rincuy ini. Cepet amat sih penutupannya sementara pengumpulan KTInya aja terakhir tanggal 2 Juni, *kepiye toh?.
Tian sholat maghrib di pendopo di cafe ini. Aku dan Refi sedang cuti sholat, kami menunggui Tian sambil ngobrolin film Cokro yang katanya seru banget itu. Jujur, sebenarnya aku sedang tidak nyaman duduk lama-lama, karena perutku sakit karena halangan dan ada bisul juga di pahaku. Nggak tahu deh, bisul atau nggak ini. Tapi, kayaknya sih bekas gigitan nyamuk dan ku garuk-garuk sampai luka dan sekarang jadi menyiksa gini. Tapi, kalau pun bisul kayaknya ada kemungkinan juga, soalnya aku sedang rajin-rajinnya makan telur dan semenjak tahun 2015 ini belum pernah aerobic lagi, hikssss. Gara-gara ngejekin Nilam yang kemarin bisulan nih, akhirnya aku kuwalat. *hiksssss.
Dari Cafe Casa Delicia, kami beringsut ke Cafe Ajo. Tian emang udah langganan ternyata di sini dan makanannya pasti Minas, haha. Sekali-kali nyontekin dia nggak apa-apa donk? hehe Aku juga pesan Minas sedangkan Revi, Martabak Mesir. Aku suka juga sih MM tuh, tapi kalau untuk makan malam pasti itu nggak ngeyangin. Jadinya, eke males banget dehhh cin. *kalau double order mau nggak El? Mauuu bangeeeet. (huuuu dasarr, bilang aja kelaperan, ehe).
Sambil menyantap makan malam, aku nyeritain ke mereka tentang kejadian horor yang ku alami hari Kamis lalu. Tian yakin kalau pelakunya bukan manusia karena hasil analisis sebab akibatnya nggak dia temui. *halaaaah, Tiam mah gitu emang, sok jadi papa loreng, ehhe. Kalau Revi percaya pelakunya adalah orang iseng, meskipun memang abstrak tujuannya. Kalau aku sih condong ke Tian *halah, bilang aja El emang penakut. Jemur pakaian di samping kamar aja minta temanin Rini, hihii.
"Ada lagi nggak kejadian aneh lainnya yang pernah Mbak alami?"
"Kayaknya baru kali itulah, Yann.." aku berfikir sejenak dan mendadak teringat dengan kisah horor waktu KKN, ketika HPnya si Titin tiba-tiba hilang dan tiba-tiba ditemuinnya di saku tasnya. Padahal, saku itu udah ku periksa sebelumnya dan yang ada di dalamnya hanya 2 flashdisk. hiiiiii.
Udah jam 20.12wib, Lia barusan sms nanyain jam berapa aku pulangnya. Makannya emang udah kelar, tapi aku masih serius nyimak ceritanya Revi tentang kejadian horor yang dia alami semasa KKN.
"....nah, si Tari ini aneh banget kelakuannya, Mbak. Pendiam, nggak suka berkawan, cuek, ngomongnya manja. Suatu malam, dia bilang; Wey, aku bisa ngeramal masa depan orang dan masa lalu orang loh!. Teman kami yang namanya Copi ini pengen banget diramal. Tapi, dia ngasih peringatan gini; Yakin nih? Tapi tanggung sendiri nanti resikonya ya setelah diramal biasanya ada yang gangguin kamu nantik. Gitu katanya, Mbak. Si copi ini udah kepalang penasaran nggak peduli lagi dengan peringatan Tari tadi. Mulailah disebutkan cerita-cerita masa kecilnya dan kata Copi emang bener semua yang diramal Tari itu. Sampai diramal juga masa depannya, nanti Copi gini gitu pokoknya semuanyalah. Setelah meramal, tidurlah si Tari tuu. Dia adalah satu-satunya orang yang paling cepat tidur di Posko kami dan paling cepat bangunnya. Nanti bisa tuh dia bangun tengah malam, berani-beraninya dia ke sungai sendirian.
"Wih, aneh juga ya dia!" sahut Tian.
"Nah, malam itu kami ngumpul-ngumpullah di depan posko. Si Copi kencing di dekat pohon beberapa meter dari kami sama Samsul. Nah, tiba-tiba si Copi itu badannya gemeteran, Revi nampak dari jauh gemeterannya itu sampai benar-benar kelihatan dari jauh, persis kayak yan gdi tivi-tivi itu. Terus, dia lari sambil teriak-teriak. Kami tanyalah ada apa dan dia bilang ada yang 'nampaki' dia, badannya besar, tinggi, hitam, matanya merah. Wey, punggungku panas kali loh! gitu katanya, pas kami buka kaosnya, ya ampuuun merah kali punggungnya kayak habis ditampar sama tangan besar gitu."
"Wih, bos maulah ketemu sama si Tari itu. Cantik nggak orangnya?" Tian asal bunyi.
"Biasa aja sih. Nggak cantik juga. Langsung lah Revi gedor-gedor kamarnya, dikunci pula masalahnya. Terus, nongollah dia dari balik selimu dan bilang; Kan udah ku bilang tadi. Copinya tetep bandel. Ngeramal masa depan itu kan nggak gampang, capek, gitu katanya. Dengan santainya pula dia bilang; Bentar ya, ku telvon tanteku dulu. Soalnya ini tanteku yang ngajarin. Tantenya nyuruh si Tari niup punggunya Copi dan memang bener-bener ilang merahnya seketika, Mbak. Nah, pernah lagi pas malam tanggal 17 Agustus, Revi kan ngurus ini itu dan ide 17-an pun banyak dari Revi, sampai jam 2.00wib belum juga Revi tidur, tinggal Revi berdua dengan Tari. Tiba-tiba dia bilang gini; Revi, besok pagi hati-hati ya! Ketakutanlah Revi, Revi bilang; Eh, Revi nggak ada minta ramal loh! Terus, dia bilang; Iya memang nggak ada, Tari cuma mau ngasih tahu supaya Revi hati-hati pas ngelewati jembatan kayu di depan sana, soalnya Revi bakal jatuh. Revi pun nggak percaya kali sama ramalam dia tuh, besoknya berangkatlah Revi buru-buru ke kelurahan dan memang bener Mbak, Revi terkilir karena jatuh di situ."
"Itu murni karena kecerobohan Revi atau di jembatan itu ada han-han-nya? (baca: hantu)?" tanyaku.
"Nggak, Mbak. Itu murni kecerobohan Revi karena Revi buru-buru."
"Wih! Bos jadi penasaran banget sama orangnya. Ajaklah ketemua, Vi sama kita bertiga," pintanya.
Setelah menuntaskan cerita itu, Revi nolongin Tian ngerapiin angketnya dan aku cabut duluan karena segan kalau pulang kemalaman ke asramanya Lia.
"Ini uangnya, Mbak titipin aja ya sama Revi?"
"Eh, nggak usah mbak, ngga usaah, biar Revi aja," sahut Gustian dan Revi bersamaan sambil menyebut nama masing-masing.
"Duh! Mbak jadi terharu diperebutkan seperti ini" *lempar sedotaaaaan. "Ntar Mbak tulislah di blog, pemirsa, hari ini aku terharu karena Revi dan Tian berantem untuk mentraktirku, hehee. Makasih banyak ya, teman-teman. Mbak duluaaan, assalamualaikumm..."
Aku memasuki Asrama MAN 2 Model setelah pintu dibuka pak Satpam. Hening. Sepi. Nggak ada siapa-siapa. Aku jadi horor sendiri karena teringat cerita-cerita misteri tadi, hiii. Mau nggak mau, aku harus tetap melaju dan pura-pura tidak memperhatikan apapun yang ku rasa serem. Setelah memasukkan motor ke dalam ruang tamu Asrama bagian belakang, aku jalan kaki ke depan dan berlarian mencapai kamar Lia. Eh, ada Lia yang sedang makan dengan rapi dan tenangnya di sudut kamar sambil nonto Divergent yang aku kasihkan siang tadi. hehe. Aku menyapanya ramah. Katanya, tadi ayahnya datang dan dia mengantarkannya ke tempat pelatihan guru yang akan dilaksanakan mulai besok. ohhh gicuuuuhhh toh.
Belum, Mbak. Pendaftarannya tutup tanggal 28 Mei. Buruan daftar ya...
Aku segera mem-forwardnya dan mengirim ulang ke Rincuy. Barulah dia mengaku kalau dia salam lihat pengumuman. *kepiye toh nduuk?
Cin, gimana sih caranya nulis? *harus banyak-banyak membaca ya? hehe
Kolom chat FBku berbunyi, ada pesan dari Obi, sahabatku sejak SMA di Bagan dulu.
hehe, bener banget tuh kata Obi. Harus rajin baca, terus istiqomahin nulisnya. Dimulai dari kejadian sehari-hari aja, biar terbiasa nantinya.
Jawabku.
Oh gitu. Aku pengen juga bisa nulis kayak dirimu, Cin. Aku suka banget baca blogmu, kereeeennn pokoknya!
"Cin, aku terharu!"
"Kenapa Cin?"
"Obi suka sama blogku katanya. Alhamdulillah, semoga blogku bermanfaat ya Allah. Barusan juga teguh nelvon dan katanya dia baru bikin postingan yang pertama. Kayaknya sih ceritanya tentang MAWAPRES. Aku terharu cin, semoga aku bisa menyebarkan virus-virus nge-blog dengan banyak orang ya..aamiiin" aamiinku disambut oleh aamiin-nya Lia.
"Buruanlah Cin urus lagi modemmu itu. Mulailah nulis kejadia-kejadi setiap harinya. Kayak hari ini aja, aku udah banyak dapat cerita untuk dituliskan. Percayalah Cin, setiap hari kita selalu punya cerita seru yang keren untuk dituliskan! Pasti ada!" tegasku berbalas anggukan Lia. ^_^
Tulis bang Asqol di FB pagi ini. Aku jadi teringat sesuatu; pesan kak Desi Somalia kepadaku seminggu yang lalu. Dan setelah ku cek, ternyata benar, brosur di tanggal itu adalah hari ini. Aku ngajak Rini untuk ke Puswil jam 09.30wib nanti ternyata dia nggak bisa. Luar biasa banget sibuknya da sekarang, eke aja kalah ciinn. huaahhh.
Cin, ke puswil yuk jam 09.30wib ini. Ada acara bedah Puisi di sana.
Lia langsung menelvonku dan mengusulkan untuk mendahulukan persiapan KTI di MTQ nanti. Oke deh, aku juga udah malas beranjak (tentu pemirsa udah bosan ya dengan alasan saya? Kecanduan nulis, heehe). Rini aja sampai marah gara-gara sejak sebelum jam 7 dia udah merengek untuk minta belikan sarapan tapi nanti-nanti yang ku katakan kepadanya hanyalah semu. Tinggallah aku yang merengek-rengek dengan tampang tak bersalah merayunya agar tidak marah. hhee *dimaafin nggak nih pemirsaaa?
Lia sudah sampai di Perpus UR dan menelvonku supaya aku segera menyusulnya. Nah, ini dia penyakit berikutnya, ketika aku udah diwajibkan untuk melakukan pekerjaan (nyusul Lia ke Perpus), aku malah tiba-tiba bersemangat menyelesaikan urusan lama terlebih dahulu. Contohnya sekarang, aku bukannya cepat-cepat mandi dan nyusul Lia, malah semangat banget beresin kamar yang kayak kapal pecah kena bom nuklir ini. huaaahhhh. Bukan hanya itu, aku malah jadi niat nyuci baju 2 ember. *kepiye iki manajemen keputusannya toh? Setelah negerendem baju dan kamar kinclong, pesananku datang. Padahal yang ku pesan lauk Ikan Lele, buka Ayam kecap, tapi lagi-lagi aku ceroboh, baru menyadarinya ketika si kakak udah pergi dan aku bersiap makan. Eh, tepat sekali setelah aku selesai makan, si kakak datang lagi dan meminta maaf karena lauknya salah kasih ke aku. Karena aku ini adalah orang yang baik hati, maka aku menjawab;
"Iya memang salah Kak, tapi nggak apa-apa kok! Bahkan udah habis lauknya, hehe," gimana? Beneran aku berhati mulia kan pemirsa? *lembar botol aquaaaa. praaakkk!

Setengah jam kemudian, Lia sms;
Cin, aku ke kosmu ajalah ya..
Melegakan sekali pemirsa. Keadaan memang begitu berpihak kepadaku hehe. Lia datang dengan menenteng nasi bungkus. Ekor Nila bakar mencuat sedikit dari bungkus nasi itu. Hemmm, radar kelalaparanku mulai berdering-dering. *lapar apa kelaparan, Buk? Baru juga makan udah mau makan lagi, eheh. Eh, beneran kan aku ditawarin Lia makan bareng, ya aku mana bisa nolaklah kalau dipaksa gini? *huweeekkkk.
"Cin, tiba-tiba aku teringat dengan Bom-Dor La-la kita. Itu kan metode pembelajaran yang sekaligus bisa meningkatkan karakter kepemimpinan siswa. Tapi, sayangnya temanya nggak ada yang menyangkut ke pendidikan pula. Nah, ODOJ itu gimana sih sistem kerjanya, Cin? Jelaskan kepadaku coba!"
Setelah Lia menjelaskan panjang lebar, aku menangkap poinnya dan melanjutkan pengutaraan ide di kepala,
"Nah, kita akan coba menciptakan...*beep," penasaran ya? Makanya, pantengin terus blog ini dan saksikan apa yang akan kami ciptakan di Final MTQ Juni nanti. *emang udah yakin masuk ke final? Yakin donk cuuyyy 100% (sambil bertanya di hati; bener kan ya Allah?)
Setelah Lia beranjak ke DPM, giliran Umil yang tiba-tiba datang membawa adiknya dari Fekon. Ingin konsultasi denganku katanya.
"Dek, lihatlah ini haaa! Kakak nggak punyaaa," rengek Umil sambil memandangi piala-pialaku. Dia ingin memotivasi si adek agar semangat juga mengikuti Speech Contest di Fekon sebentar lagi. Novi juga mengikutinya, semoga menang.
"Dek, daripada Adek bingung, mending Adek baca-baca dulu tentang ekonomi dalam pandangan Islam. Nah, itu buku Kakak yang warnanya kuning coba dibaca," kataku sambil menunjuk ke rak bukunya Rini.
"Syariah Marketing," dek Rahma mengeja judul buku itu.
"Dek, yang penting dari lomba podato itu adalah sumber data yang jelas dan materi yang padat informasinya. Jadi, nggak harus terlalu rumit, bahkan hal-hal sederhana juga bisa Adek jadikan sebagai materinya," saranku.
"Gituu ya, Kak?"
Novi adalah salah satu tempatku belajar tentang per-pidato-an. Dek Novi udah sering banget menang yang begituan. Aku juga pengenlah kayak dia. Walau pun umur udah tua, tapi semangat boleh donk tetap muda?! Umil dan si Adek berpamitan akhirnya. Buku kuningku dibawa oleh si Adek dan semoga bisa jadi rujukan idenya yang katanya sulit sekali dirumuskan. Aamiin.
Aku ngelihat wall FBku, ternyata banyak banget yang udah ngelike dan juga komen. Mereka pasti udah baca blogkku dan semoga bisa menginspirasi mereka untuk menulis juga. Tadi, dengan Lia aku sempat berkata; Cin, waktu workshop di Balai Bahasa kemarin, aku ingat banget pematerinya bilang bahwa dalam menulis itu kita harus ikhlas. Ya menulis aja terus setiap harinya. Kalau pun nggak diterbitkan atau nggak dibukukan, nggak masalah. Jangan khawatir kalau tulisan kita nggak jadi apa-apa, setidaknya kisah kita sudah menjadi tulisan. Aku hanya berharap kebaikan akan terus tersebar luas lewat tulisanku ini. Seperti halnya harta, kita nggak perlu punya kisah mewah untuk bisa berbagi dengan sesama. Tulisan konyol sehari-hari juga nggak tertutup kemungkinan untuk menginspirasi banyak orang loh! Makanya, jangan pernah menyepelekan tulisan.
HPku berdering. Ada nomor baru yang menelvon. Rasa enggan dan khawatirku mulai bermunculan. Tapi, sebelum panggilan berakhir, akhirnya aku mengangkatnya.
"Halo? Mbak Elysa, ini Tian."
"Oooohhh, Tian toh! Ada apa, Yan?"
"Mbak El sibuk nggak sore ini?"
"Emangnya ada apa, yan?"
"Rencananya Tian sama Revi mau ngajak Mbak El main."
"Kemana, Yan?"
"Ya terserah Mbak aja tempatnya. Tian mau minta ajarin nulis sama Mbak El juga nih! hehe."
Karena Rini nggak bisa ikutan ke Gobah, aku melaju bersama Lia. Rencananya malam ini nginap di tempat Lia bareng Rini juga untuk ngebahas lebih lanjut ide yang udah kami rumurkan tadi siang. Rini bilang, besok pagi jam 07.00wib, dia udah harus standby untuk vote di FISIP yang kemarin kabarnya mesinnya sempat meledak dan ribuan suara harus diulang lagi. Perjalanan berbelok arah dulu mencari rumahnya bang Atqo, ketua DPM UR yang sebentar lagi lengser. Beliau menitipkan sebuah laptop dan uang seratusan beberapa lembar untuk keperluan adeknya yang sekolah di MAN 2 Model. Kalau nggak ke sini (baca: rumah bang Atqo), aku nggak pernah tahu kalau di jalan Lobak ini ada SMA 2 PGRI. Melihat lambang PGRI di depan sekolahan ini, aku jadi teringat sesuatu,
"Cin, mu ingat sesuatu nggak kalau lihat lambang itu?"
"Owalaahhh.. mirip banget ya dengan IKIP PGRI Madiun, Cin. Ya iyalah ya, mereka kan PGRI tuh."
Setelah sampai di depan Asrama putri, Lia turu dari motor dan aku membawa motornya ke jalan Sumatera, tempat Tian dan Revi sekarang berada. Kata Revi tadi di cafe setelah Klaper Pie, asal jangan sampai di cafe yang high class ajalah ya woooy, hehe. Aha! Akhirnya kali ini aku nggak salah alamat, lagi hoki kali nih akunya *kan biasanya ke asramanya Lia aja pake nyasar dulu, hehe. Aku melambaikan tangan kepada mereka berdua dan minta maaf karena lama banget dari jam yang dijanjikan.
"Mbak kita kalian nggak bakal mau ngajakin Mbak maen lagi. Soalnya setelah malam itu kalian nggak pernah mengheboh lagi bbm-in Mbak. hikssss," kataku mengiba.
"Bukan itu loh, Mbak. Memang setelah itu pada sibuk. Mbak juga sibuk terus kan? Udah mau ngajakin juga ya Vi kita kemarin nonton Cokro di bioskop.."
"Iya, wong statusnya Mbak El di bbm aja MAWAPRES-MAWAPRES terus kok. Kami kan segan jadinya mau ngajakin main," sambung Revi.
"Iya, kami ini apalah, hanya mahasiswa biasa yang nggak punya prestasi apa-apa," kata Tian lagi.
"Halaaaahh, mentelllnyaaaa. Ajak ajalah Mbaknya, kan kalau bisa pasti Mbak sempetin buat kalian."
Tian minta tolong sama aku untuk ngotak-ngatik blognya. Katanya, dia pengen yang desainnya kayak punyaku, *huehh, mana bisa, wani piroo? hehe. Emang masih berantakan sih blognya nih. Mungkin karena si Tian nggak rajin ngotak-ngatik aja. Aku juga nggak nyangka nih bisa ngasih tahu banyak hal dengan dia dan bisa nyulap blognya lebih kece dibanding sebelumnya, padahal akunya juga kemarin belajar otodidak. Udah lamaaaa banget pengen ngeblog, karean kesannya susah dan ribet makanya baru Awal Desember kemarin kesampean *itu pun dalam rangka meng-kadoi ulang tahun ke-21ku. Sempet bingung banget waktu itu, bingung gimana nih caranya ngoperasiin blog dan ngedit ini itunya supaya sesuai seperti kemauanku *ce ilee, yang perfeksionissss, huuuweeek. Dan, lihatlah diriku yang sekarang! Alhamdulillah, hasil otodidakku ini sangat berguna untuk orang lain.
Nuansa ala vintage-nya kerasa banget (baca: jadul), bunga-bunganya juga vintage banget, banyak lampion besar-besarnya dan aku sangat suka itu. Mirip banget dengan bola-bola lampion yang pernah ku lihat di thailand. Pengen banget ntar di rumahku juga lampunya dilapisi lampion kayak gini, hehe. Ada panggung kecil di sebalik etalase yang menghadap langsung ke arah pintu masuk. Tempat orang nge-band mungkin atau si cafenya punya para pemain musik andalan untuk menghibur pendatang? Mungkin aja. Tapi, sayangnya kali ini hanya kami bertiga yang mampir ke sini, cukup sepi tapi cocoklah dengan kami yang sedang mencari ketenangan ini *heeeleeeeeh.
El, pendaftaran KTI MTQ ternyata udah tutup loh sejak tanggal 30 April. Jadi, gimana nih nasib kita? Terlambatlah kita nih...
Rini mengirimi kalimat itu. Aku kok nggak yakin ya dengan si Rincuy ini. Cepet amat sih penutupannya sementara pengumpulan KTInya aja terakhir tanggal 2 Juni, *kepiye toh?.
Tian sholat maghrib di pendopo di cafe ini. Aku dan Refi sedang cuti sholat, kami menunggui Tian sambil ngobrolin film Cokro yang katanya seru banget itu. Jujur, sebenarnya aku sedang tidak nyaman duduk lama-lama, karena perutku sakit karena halangan dan ada bisul juga di pahaku. Nggak tahu deh, bisul atau nggak ini. Tapi, kayaknya sih bekas gigitan nyamuk dan ku garuk-garuk sampai luka dan sekarang jadi menyiksa gini. Tapi, kalau pun bisul kayaknya ada kemungkinan juga, soalnya aku sedang rajin-rajinnya makan telur dan semenjak tahun 2015 ini belum pernah aerobic lagi, hikssss. Gara-gara ngejekin Nilam yang kemarin bisulan nih, akhirnya aku kuwalat. *hiksssss.
Dari Cafe Casa Delicia, kami beringsut ke Cafe Ajo. Tian emang udah langganan ternyata di sini dan makanannya pasti Minas, haha. Sekali-kali nyontekin dia nggak apa-apa donk? hehe Aku juga pesan Minas sedangkan Revi, Martabak Mesir. Aku suka juga sih MM tuh, tapi kalau untuk makan malam pasti itu nggak ngeyangin. Jadinya, eke males banget dehhh cin. *kalau double order mau nggak El? Mauuu bangeeeet. (huuuu dasarr, bilang aja kelaperan, ehe).
Sambil menyantap makan malam, aku nyeritain ke mereka tentang kejadian horor yang ku alami hari Kamis lalu. Tian yakin kalau pelakunya bukan manusia karena hasil analisis sebab akibatnya nggak dia temui. *halaaaah, Tiam mah gitu emang, sok jadi papa loreng, ehhe. Kalau Revi percaya pelakunya adalah orang iseng, meskipun memang abstrak tujuannya. Kalau aku sih condong ke Tian *halah, bilang aja El emang penakut. Jemur pakaian di samping kamar aja minta temanin Rini, hihii.
"Ada lagi nggak kejadian aneh lainnya yang pernah Mbak alami?"
"Kayaknya baru kali itulah, Yann.." aku berfikir sejenak dan mendadak teringat dengan kisah horor waktu KKN, ketika HPnya si Titin tiba-tiba hilang dan tiba-tiba ditemuinnya di saku tasnya. Padahal, saku itu udah ku periksa sebelumnya dan yang ada di dalamnya hanya 2 flashdisk. hiiiiii.
Udah jam 20.12wib, Lia barusan sms nanyain jam berapa aku pulangnya. Makannya emang udah kelar, tapi aku masih serius nyimak ceritanya Revi tentang kejadian horor yang dia alami semasa KKN.
"....nah, si Tari ini aneh banget kelakuannya, Mbak. Pendiam, nggak suka berkawan, cuek, ngomongnya manja. Suatu malam, dia bilang; Wey, aku bisa ngeramal masa depan orang dan masa lalu orang loh!. Teman kami yang namanya Copi ini pengen banget diramal. Tapi, dia ngasih peringatan gini; Yakin nih? Tapi tanggung sendiri nanti resikonya ya setelah diramal biasanya ada yang gangguin kamu nantik. Gitu katanya, Mbak. Si copi ini udah kepalang penasaran nggak peduli lagi dengan peringatan Tari tadi. Mulailah disebutkan cerita-cerita masa kecilnya dan kata Copi emang bener semua yang diramal Tari itu. Sampai diramal juga masa depannya, nanti Copi gini gitu pokoknya semuanyalah. Setelah meramal, tidurlah si Tari tuu. Dia adalah satu-satunya orang yang paling cepat tidur di Posko kami dan paling cepat bangunnya. Nanti bisa tuh dia bangun tengah malam, berani-beraninya dia ke sungai sendirian.
"Wih, aneh juga ya dia!" sahut Tian.
"Nah, malam itu kami ngumpul-ngumpullah di depan posko. Si Copi kencing di dekat pohon beberapa meter dari kami sama Samsul. Nah, tiba-tiba si Copi itu badannya gemeteran, Revi nampak dari jauh gemeterannya itu sampai benar-benar kelihatan dari jauh, persis kayak yan gdi tivi-tivi itu. Terus, dia lari sambil teriak-teriak. Kami tanyalah ada apa dan dia bilang ada yang 'nampaki' dia, badannya besar, tinggi, hitam, matanya merah. Wey, punggungku panas kali loh! gitu katanya, pas kami buka kaosnya, ya ampuuun merah kali punggungnya kayak habis ditampar sama tangan besar gitu."
"Wih, bos maulah ketemu sama si Tari itu. Cantik nggak orangnya?" Tian asal bunyi.
"Biasa aja sih. Nggak cantik juga. Langsung lah Revi gedor-gedor kamarnya, dikunci pula masalahnya. Terus, nongollah dia dari balik selimu dan bilang; Kan udah ku bilang tadi. Copinya tetep bandel. Ngeramal masa depan itu kan nggak gampang, capek, gitu katanya. Dengan santainya pula dia bilang; Bentar ya, ku telvon tanteku dulu. Soalnya ini tanteku yang ngajarin. Tantenya nyuruh si Tari niup punggunya Copi dan memang bener-bener ilang merahnya seketika, Mbak. Nah, pernah lagi pas malam tanggal 17 Agustus, Revi kan ngurus ini itu dan ide 17-an pun banyak dari Revi, sampai jam 2.00wib belum juga Revi tidur, tinggal Revi berdua dengan Tari. Tiba-tiba dia bilang gini; Revi, besok pagi hati-hati ya! Ketakutanlah Revi, Revi bilang; Eh, Revi nggak ada minta ramal loh! Terus, dia bilang; Iya memang nggak ada, Tari cuma mau ngasih tahu supaya Revi hati-hati pas ngelewati jembatan kayu di depan sana, soalnya Revi bakal jatuh. Revi pun nggak percaya kali sama ramalam dia tuh, besoknya berangkatlah Revi buru-buru ke kelurahan dan memang bener Mbak, Revi terkilir karena jatuh di situ."
"Itu murni karena kecerobohan Revi atau di jembatan itu ada han-han-nya? (baca: hantu)?" tanyaku.
"Nggak, Mbak. Itu murni kecerobohan Revi karena Revi buru-buru."
"Wih! Bos jadi penasaran banget sama orangnya. Ajaklah ketemua, Vi sama kita bertiga," pintanya.
Setelah menuntaskan cerita itu, Revi nolongin Tian ngerapiin angketnya dan aku cabut duluan karena segan kalau pulang kemalaman ke asramanya Lia.
"Ini uangnya, Mbak titipin aja ya sama Revi?"
"Eh, nggak usah mbak, ngga usaah, biar Revi aja," sahut Gustian dan Revi bersamaan sambil menyebut nama masing-masing.
"Duh! Mbak jadi terharu diperebutkan seperti ini" *lempar sedotaaaaan. "Ntar Mbak tulislah di blog, pemirsa, hari ini aku terharu karena Revi dan Tian berantem untuk mentraktirku, hehee. Makasih banyak ya, teman-teman. Mbak duluaaan, assalamualaikumm..."
Aku memasuki Asrama MAN 2 Model setelah pintu dibuka pak Satpam. Hening. Sepi. Nggak ada siapa-siapa. Aku jadi horor sendiri karena teringat cerita-cerita misteri tadi, hiii. Mau nggak mau, aku harus tetap melaju dan pura-pura tidak memperhatikan apapun yang ku rasa serem. Setelah memasukkan motor ke dalam ruang tamu Asrama bagian belakang, aku jalan kaki ke depan dan berlarian mencapai kamar Lia. Eh, ada Lia yang sedang makan dengan rapi dan tenangnya di sudut kamar sambil nonto Divergent yang aku kasihkan siang tadi. hehe. Aku menyapanya ramah. Katanya, tadi ayahnya datang dan dia mengantarkannya ke tempat pelatihan guru yang akan dilaksanakan mulai besok. ohhh gicuuuuhhh toh.
Belum, Mbak. Pendaftarannya tutup tanggal 28 Mei. Buruan daftar ya...
Aku segera mem-forwardnya dan mengirim ulang ke Rincuy. Barulah dia mengaku kalau dia salam lihat pengumuman. *kepiye toh nduuk?
Cin, gimana sih caranya nulis? *harus banyak-banyak membaca ya? hehe
Kolom chat FBku berbunyi, ada pesan dari Obi, sahabatku sejak SMA di Bagan dulu.
hehe, bener banget tuh kata Obi. Harus rajin baca, terus istiqomahin nulisnya. Dimulai dari kejadian sehari-hari aja, biar terbiasa nantinya.
Jawabku.
Oh gitu. Aku pengen juga bisa nulis kayak dirimu, Cin. Aku suka banget baca blogmu, kereeeennn pokoknya!
"Cin, aku terharu!"
"Kenapa Cin?"
"Obi suka sama blogku katanya. Alhamdulillah, semoga blogku bermanfaat ya Allah. Barusan juga teguh nelvon dan katanya dia baru bikin postingan yang pertama. Kayaknya sih ceritanya tentang MAWAPRES. Aku terharu cin, semoga aku bisa menyebarkan virus-virus nge-blog dengan banyak orang ya..aamiiin" aamiinku disambut oleh aamiin-nya Lia.
"Buruanlah Cin urus lagi modemmu itu. Mulailah nulis kejadia-kejadi setiap harinya. Kayak hari ini aja, aku udah banyak dapat cerita untuk dituliskan. Percayalah Cin, setiap hari kita selalu punya cerita seru yang keren untuk dituliskan! Pasti ada!" tegasku berbalas anggukan Lia. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar