Selasa, 05 Mei 2015

Syurga yang Tak Dirindukan

Emang ya, kalau tidur larut malam itu membuat badan nggak fresh ketika bangun. Ukurannya ya kalau tidur jam 12 lewat, bangunnya baru pas kalau jam 06.00wib *ukuran ideal ketika sedang nggak sholat gini, eheh. Makanya, ukuran istirahat yang terbaik ya tidur setelah sholat Isya dan bangun lebih awal. Ini kitanya malah kebanyakan kebalik, tidur larut malam dan bangunnya kesiangan, hiksss.

Pagi ini, aku udah niat bangun jam 05.00wib biar bisa menghasilkan tulisan lebih banyak. Tapi, ya udah tahu kan hasilnya? hehe, aku bangun jam 06.30wib, hiksss. Untung aja perutku nggak pedih, baru teringat bahwa tadi malam nggak makan karena saking nggak punya piti. hiksss, cedih! Sengaja, aku nggak mengetik dan menyentuh laptop pagi ini biar bisa berangkat ke kampus pagi-pagi. *karena laptop n modemnya emang sedang dipegang sama yang punya. Sudah 2 hari2 benda itu bersamaku, pemirsa. Saya hanya takut zolim aja. Makanya pagi ini, aku rela tidak menyentuhnya sama sekali.

Cus ke kampus jam 09.00wib setelah memenuhi hak si perut dengan sebungkus mie gelas dibagi dua dengan Rincuy. Untung aja udah ada tabungan beras kemarin, jadi makan kerupuk dengan nasi pun jadilah, hiksss. Mampur ke BEM, tapi ternyata pintunya masih dikunci dan nggak ada orang sama sekali. Ibu warung pun ebelum buka lapak. Aku bingung mau ke mana. Akhirnya, aku ke luar dari halaman BEM FKIP dan beralih ke parkiran Biro FKIP. Langsung nemuin pak Agus untuk ngabarin hasil MAWAPRES kemarin.


"...jadi, kalau Novi dan Romi ikut lagi tahun depan masih bisa atau nggak ya Pak?"
"Emmm... Bapak rasa bisa aja sih, Sa. Selagi nggak ada peraturan yang menjelaskan bahwa itu nggak boleh, kecuali kalau mereka udah menang, itu lain lagi ceritanya," jawab pak Agus.
"Emang kalau secara peraturan sih boleh Pak. Tapi, yang Elysa khawatirkan pesaing mereka yang tahun depan minder buat ngikutin seleksi di FKIP karena lihat mereka ikutan lagi. Gimana itu, Pak?"
"Ya nggak bisa kayak gitulah, justru mereka harus lebih meningkatkan kualitas dan daya saingnya lah. Siapa tahu aja bukan mereka berdua lagi yang mewakili FKIP. Siapa tahu kan, Sa?"
Aku menyetujui pendapat pak Agus. Ah, semoga persaingan dan iklim kompetisi di FKIP semakin meningkat di tahun depan, aamiin. Dan, yang kusyukuri lagi adalah Novi maupun Romi masih bisa mengikuti seleksi ini tahun depan. Kalau tentang Novi sih aku udah yakin. Tapi kalau si Romcek, agak ragu juga, soalnya dia bilang mau cepet tamat. *awas kuwalat ya sama Mbak karena sering ngejek-ngejek! hehe.

Setelah ke luar dari ruangan pak Agus, aku terdorong kuat untuk menemui pak Riadi untuk ngajuin judul. Tapi, tiba-tiba aku teringat dengan sifatnya yang moody dan tersadarlah aku bahwa aku butuh pertolongan Allah. Segera ku gas motor ke ATM BRI di rekorat. Ku cek saldoku dan tertera di sana Rp 261.000. Yap! Tepat sekali! Aku memang masih punya tabungan di rekeningku. *eh, bukan tabungan, kiriman ortu maksdunya, hehe. Tapi, ntah kenapa, aku memang nggak mau ngambil uang itu sejak 2 minggu yang lalu loh! Jadi, selama 2 minggu ini aku ngutang sama Rini dan kadang ditraktir sama yang lain. *hiksss, cedih ya.

Aku merasa uang itu bukan hakku. Itu yang kuat ku rasakan saat ini. Maka, aku berniat mengirimkan saldoku sebesar Rp 300.000 ke Dompet Duafa. Bismillah, ku tekan tombol OK pada tombol yang sejajar dengannya. Alhamdulillah, pengiriman lancar. Segera ku tarik resi dan kartu ATM-ku lalu aku menuju FMIPA, untuk bertemu bu Elvyra.
Terimakasih Elysa karena telah berdonasi di Dompet Duafa Pekanbaru...
Ku balas segera sms bang Firman itu *sambil naik motor.
Makasih bang. Doakan ya semoga semua urusan Elysa diberi kemudahan oleh Allah dan dilancarkan. aamiin

Jalan menuju FMIPA dari arah PUSKOM diblokir ternyata karena ada pawai. Nggak jelas pawai apaan itu, mungkinkah MTQ? Tapi MTQ kan belum pembukaan. Atau mungkin saja FEKON EXPO yang sedang berlangsung?, tebakku ketika aku melewati FEKON. Setibanya di ruang pegawai, aku menanyai bagian administrasi tentang bu Elvyra dan ternyata beliau sedang masuk kelas. Aku putuskan untuk menunggunya di sini dan mengabarinya tentang tungguku ini. Tak lama, ibu menelvonku dan segera menuju ke sini.
"...Ibu juga sempat merasa begitu, Elysa. Tapi, memang yang kita cari adalah 'sosok'. Benar kata Pak Arisman itu, gabungan dari kecerdasan soft skill dan hard skill akan menghasilkan 'sosok' yang bisa menjadi panutan bukan hanya seorang pemenang. Ibna pun nggak akan bisa seperti Elis ini sebenarnya, dia lebih mirip seperti Azhari yang sangat mengutamakan belajar. Kita harapkan Yaumil bisa merangkul teman-teman yang lain supaya MURC hidup dan aktif berkontribusi."

Kami banyak ngobrol hangat selama menunggu seluruh file foto-foto moment selama seleksi terkopi ke laptopnya ibuk. Aku kagum dengan sosoknya yang lembut dan bersahaya. Aku baru mengenalnya, tapi ia sudah seperti orang tuaku sendiri. Dan, kabar gembiranya adalah ibu akan terbang ke Tokyo untuk 10 hari pada tanggal 7 Mei ini. Wiiihh, aku iriii. hihii. *makanya, rajin-in lagi donk membidik peluangnya, El! Padahal tadinya, aku udah niat buat minta bawain oleh-oleh, tapi waktu mau pamitan malah lupa. Ya syudahlah, pemirsa.

Ingin langsung bertemu dengan pak Arisman, tapi beliau sedang ada rapat dengan PR2 di rektorat. Pengen sih nyusul, tapi segan mengganggu rapatnya. Akhirnya, aku ke parkiran Biro FKIP dan segera naik ke lantai ata, ke Prodi Pekon. Ada Adel, Vita dan Delvi di sana. Sedikit was-was awalnya, khawatir mereka akan sinis menanyaiku ini itu, tapi nyatanya aku salah. Ternyata, mereka sangat ramah dan banyak mengatakan hal-hal baik kepadaku. Alhamdulillah.
"Eh, pak Riadinya kemana sih?" tanyaku.
"Bapak sakit, Liss. Hari ini nggak datang. Besok datangnya lebih pagi aja ya, biasanya moodnya bapak kalau pagi masih bagus dan semoga langsung di ACC judulnya," saran Delvi.
Aku yang tenryata sangat tidak mengikuti dan mencari tahu tentang proses pengerjaan skripsi ini banyak bertanya kepada mereka. Awalnya, aku mengira mendaftar untuk ujian itu seenak dan semudah menggerakkan jari *kan biasanya membalikkan telapak tangan, hehe.
"Nggak bisa gitu, El. Kita harus minta persetujuan dulu dengan Pembimbing 1 dan Pembimbing 2, barulah kita minta tanda tangan ketua prodi dan proposal kita itu harus dirangkap 5," Adel menjelaskan kepadaku. *mungkin dia berfikir; nih bocah niat skripsian nggak sih? Masa beginian aja kagak tahu sih? haha

Aku terkesan dengan perkataan antar mereka yang begini bunyinya,
"Elis nih enaklah dia udah keliling kemana-mana, udah punya buku juga dan banyak kegiatannya. Kalaupun lama tamatnya, dia nggak rugi karena banyak pengalamannya. Lah kalau kita lama tamatnya mau ngapain coba? Nggak ada kesibukan, nggak ada prestasi kayak Eliisss."
"Iya, itulah, makanya kami mau cepat tamat aja, Lis. Daripada bayar uang kuliah lagi dan membebani orang tua, hehe. Gitu kan woy?"
"Iya, Mbak Elis ini beda itungannya. Nggak sama kayak kita-kita ini lah pokoknya," timpal yang lainnya lagi. Alhamdulillah, obrolan yang ku bayangkan akan menakutkan ternyata aku yang salah total. Sebenarnya, aku tak sepenuhnya seperti yang mereka bayangkan .Tapi, aku juga berterimaksih karena mereka memikirkan hal-hal baik dari diriku dan semoga menginspirasi mereka. Setelah memastika tidak ada yang bisa ku lakukan, aku memohon diri kepada mereka dan kepada Fitra juga yang baru saja datang. Memang, aku belum bisa bertemu pak Riadi hari ini, tapi sedekah tadi membuatku jauh lebih tenang dan yakin. Semoga Allah memudahkanku.

Di bawah, aku bertemu Tika. Dia terlihat semakin kurus. Aku menyalaminya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Beberapa hari ini aku memang sering memikirkannya; sudah tamatkah dia? Kok nggak pernah ada lagi apdetannya di FB. Eh, ternyata ketemunya di sini.
"... kok jadi jerawatan sekarang, Yank?" tanyaku.
"Iya nih, Yank."
"Masih pakai Citra Hazline nggak?"
"Nggak lagi. udah lama ganti aku."
"Pantesaaaan... nggak setia sih!" simpulku, sok tempe dan sok keren, ehhe. Tapi, memang bener loh sejak 2 tahun yang lalu aku pakai Citra Hazline Pink yang dicampur dengan antibiotik: Clyndamicyl, alhamdulillah sampai sekarang wajahku tetap cerah. Si antibiotik itu nggak memutihkan sifatnya, tapi mencegah iritasi kulit dan serangan om kuman membangun gunung di wajahku (baca: jerawat). Padahal, dulunya ya Tika yang ngajarin loh! Tapi, aku ya tahu tipenya Tika tuh gimana; suka coba-coba. Aku mah setia aja! hehe. Aku menuju parkiran sedangkan Tika melangkah ke dalam Biro, kami berpisah di persimpangan koridor.

Di BEM FKIP, aku menanyai Romi, Ditra dan Yana tentang kartu memori kameraku yang tadi padi ku sadari nggak ada di dalam tas pink-ku. Setiap ada yang masuk ke dalam BEM, aku mengintrogasinya dengan pertanyaan serupa. Tumpukan buku-buku di meja yang seharian kemarin ku pantengin dan tempat-tempat yang ku duduki kemarin sudah ku periksa dan nggak ada. Aku linglung. Masih ada foto-fotonya di sana lohhhh. hiksss. Segera ku raih kunci motor untuk menelusuri taman rektorat, tempatku, Joni dan Okta menghabiskan sore bersama, kemarin. Okta pun ikut membantuku karena kebetulan tadi ketemu di depan halaman Bahasa Indonesia. Matanya sembab, pasti dia baru saja menangisi sesuatu.

"Kak, udah baca update-an Okta di blog belum?" tanyanya.
"Belum, Dek. Emang Adek nulis apa?"tanyaku.
"Ayah, sayap kiri malaikatmu patah!" jelas Okta sambil tersenyum tanda tak bahagia, kepadaku. Aku tertegun. Ntah ada masalah jenis apa lagi yang ia alami.
"Tapi, jangan diceritakan di Blog ya! Awaw!" ancamnya. Tapi, maaf ya dek tetep kakak tulis. Siapa suruh punya kalimat yang kece badai gitu? hehe

Kami kembali ke BEM dan kompakan ngutang makan siang sama Ibu kantin yang baik hati. Meskipun demikian, ntah kenapa aku tetap aja yakin bahwa rezeki yang lebih besar dan lebih baik akan datang kepadaku. Insya Allah. Kami (aku, Okta dan Romi) makan bersama di meja bang Wagub FKIP *sori ya pak, setelah ini langsung kami bersihkan kok! hehe. Romi malah tiba-tiba jadi ngomongin tentang poligami.
"...tapi banyak banget wanita yang menolak poligami, padahal itu syurga looh balasannya."
"Syurga itu banyak jalannya, Dek! Nggak cuma itu," belaku.
"Nah, itu dia! Kebanyakan perempuan memang mengingkari sunnah yang satu itu, padahal udah jelas di Al-Quran."
"Dek, tidak melaksanakan itu belum tentu mengingkari. Karena, poligami itu adalah pilihan, boleh iya, boleh tidak."
"Ohh, kalau itu memang nggak masalah, Mbak. Yang Romi maksud di sini adalah mereka yang menganggap apaan sih poligami itu, buruklah, nggak benerlah. Itu kan artinya mereka mengingkari, Mbak. Makanya, Romi bilang mereka salah. Kalau berbicara tentang adil, ternyata nabi pun nggak bisa adil, Mbak."
"Maksudnya?"
"Gini, Mbak. Yang dikatakan adil itu ternyata selain soal perasaan, contohnya keadilan terhadap pembagian harta, penyediakan pakaian atau makanan dan pelayanan. Tapi, kalau tentang perasaan nggak akan pernah ada yang sanggup adil. Karena, kita pasti akan tetap punya kecondongan untuk menyukai yang 1 dibanding yang lainnya. Itu pasti!"

Aku mendapatkan ilmu baru hari ini. *tentang poligaminya? Yuhuuuu dan yang terpenting adalah tentang keadilan yang dijelaskan si Romcek tadi. Sedikit banyaknya, aku juga jadi lebih faham tentang konflik antara **ta dengan ***ra setelah mendengar sebuah persoalan dari Romi. Romi nggak menjelaskan tetang persoalan mereka kepadaku. Tapi, penjelasan Romi itu membawaku pada sebuah kesimpulan; nggak ada api kalau nggak ada asap. Dan, dari semua jenis permasalahan di dalam hidup ini, ternyata yang perlu kita cari tahu bukan hanya tentang kenapa api sampai menghasilkan asap, tapi tentang apa bahan bakar yang menyebabkan api itu ada.

Aku berkesimpulan, ternyata nggak ada yang benar-benar benar atau benar-benar salah dalam persoalan ini (pun dalam semua persoalan). Ketika aku mengembalikan piring makanku dan Okta kepada ibu kantin, aku melihatnya sedang mengupasi kulit bawang sebanyak 2kg. Bukan beratnya yang menjadi masalah, tapi ukuran bawangnya itu loh. *nggak ada bawang yang lebih kecil dan mungil lagi ya bu daripada ini? wkwkwk.

"Dek, semalam Kakak baca statusnya Abang tu. Dia bilang; selagi yang ku nantikan ini bukan hal yang salah, maka aku akan terus melanjutkannya untuk membuktikan kesungguhan harapanku. Terus, kemarinnya lagi, dia bilang gini; Ingin rasanya berteriak. Tapi, kata-kata pun tak mampu melukiskan yang dahulu. Ketika aku ditinggalkan dan dilupakan. Adek ngerti kan maksudnya? Dia masih merasa, posisinya adalah sebagai orang yang terhukum dan tersiksa karena keputusan Kakak dulu. Capek banget Dek, kalau kita menjelaskan hal beginian dengan yang tidak sejalan dengan kita. Kakak berkesimpulan, baik saja tidak cukup, Dek. Tapi, harus sejalan juga dengan diri kita."
"Iya ya, Kak. Capek juga kita kalau harus kita semua yang menjelaskan. Kapan kita bisa jauhnya kalau gitu, kan?"
"Dulu juga dia bilang gitu, Dek. Kakak akan berubah, tapi tolong ajarkan Kakak ya, El. Terus, Kakak bilang lah; Allah yang akan ngajarkan Kakak. Bukan El. Ya, kalau kami terus-terusan berkomunikasi kapan kami bisa jauh, Dek?"
"Duh! Kasihan ya dia, hari gini masih ngomongin masalah perasaannya dengan Kakak. Sementara Kakak udah kemana-mana fokusnya. Harus ada yang ngasih tahu dia tuh, Kak."
"Kakak juga pengennya gitu. Baca buku kek, tanya sama ustad kek, atau tanya ke suami kak Dila ke yang memang sekantor dengan dia. Tapi, Kak Dila aja bilang kalau dia nggak dekat lagi dengan bang Yaman ataupun Kak Dilanya sendiri. Ah, terserah kepada dia ajalah Dek."

"Dek! Ikutan ke ruangan Pak Arisman, nggak? Ngasihin plakat dan parsel ini ke beliau."
"Ayukkkk, Kak!"
"Yana ikutttan juga donk, Kak," timpal Yana.
Sesampainya di depan ruangan pak Arisman, aku mengetuk pintunya dan nyelonong masuk setelah dipersilahkan.
"...yang jelas, saya benar-benar suka dengan ide-idenya. Luar biasa, kreatif sekali dan saya lihat dari PMnya Dadhe, acaranya meriah sekali ya nampaknya?" tanya pak Arisman.
"Alhamdulillah, Pak. Berkat bantuan dan bimbingan dari Bapak dan Ibu juga. Jangan lelah untuk terus kami undang ya, pak!" pintaku.
Okta menyerahkan plakat kepada Bapak dan aku memfotonya. Kami bergantian, karena ruangannya nggak cukup lebar. hehe. Usai ini, kami mangkal lagi di samping HIMA Biologi, menikmati es krim yang dijual dalam konsep kantin jujur. Ini akibat iming-imingnya Okta kepada Yana tentang nikmatnya es krim yang beberapa hari yang lalu kami nikmati berdua di sini.
"Memori Kakak mana ya?" ini pertanyaan yang udah puluhan kali ku ulang sejak tadi pagi.
"Beh! Kambuh lagi pertanyaannya."
"Sebenarnya Dek, hari ini pun Kakak sedang berduka karena tadi Mami Kakak sms udah membuang si ganteng kuning (baca: kucing kuning di rumah). Gara-gara kesabaran Mami tu udah habis karena kucingnya selalu makan anak ayam tetangga. Eh, si ganteng ini pun ketagihan. Udah pernah dimarahin dan sempat berhenti, tapi sehari itu aja. Besoknya dia berulah lagi. Sedih kali perasaan Kakak, besok Kakak mau minta Mami Kakak buat jemput dia lagi. Siapa tahu aja dia udah jera dan berubah (nyamain sifat kemanusiaan dengan kekucingan).  Sekarang, memori kamera pula yang hilang.hiksss."
"Ya udahlah Kak! Kalau memang udah hilang kameranya, mau gimana lagi? Ikhlasin aja," kata Okta sambil terus fokus menyeruput es krimnya.

Kami mampir di hutan-hutanan FISIP untuk berburu objek  foto, atas usulku. Wah, mulai deh muncul pose-pose 'hot'nya si Okta. *nggak tahu deh, dia belajar darimana untuk centil begitu!. Kami kembali ke FKIP setelah Okta bilang bahwa kakinya gatal-gatal karena rerumputan dan nyamuk. Eh, si ibuk ternyata belum selesai juga ngupasin bawang-bawang mungil itu. Awalnya Okta yang berinisiatif membantu, akhirnya aku dan Yana juga ikutan nimbrgung. Eh, si Okta malah dapat kerjaan baru; ngambil nasi dan sambal ikan Pating untuk mengulang makan. Ya aku? Maulah! hehe. Yana juga ikutan ngerampokin makanannya Okta. hihii, selalu seperti itu beberapa hari ini.
"Ibuk! Ibu kan dulu dengan Bapak waktu pertama-tama menikah pasti nggak kayak sekarang, kan? Nah, pertanyaan Elysa sekarang, bagaimana bisa ibu mau menikah dengan Bapak saat itu? Apasih hal yang paling ibu kagumi dari sosok Bapak?" tanyaku, sok host SILET, ehehe.
"Itulah Ibuk pun nggak tahu. Kata teman-teman Ibu, kok bisa ibu mau sama Bapak. Keluarga Ibu pun awalnya nggak ada yang setuju dan heran kenapa ibu mau? Tapi, ntahlah! Ya gitulah."
"Oh, mungkin karena saat itu Bapak mampu meyakinkan ibu dan sangat serius untuk menikahi Ibu, ndak? hehee" tebakku lagi. Obrolah kali ini kembali membuatku terheran terhadap sebuah pilihan. Bagaimana bisa kita menjadi sangat membenci pilihan kita sendiri yang dulunya sangat kita cintai?

Mungkin, kasusnya mirip dengan apa yang ku alami.
"Cin, aku tadu jumpa Abang itu. Kusut. Mau mampir, tapi aku sering kali berfikir, ntah apa lagi yang akan kami bicarakan setelah banyak sekali keinginanku yang nggak sejalan dengan inginnya. Dia juga sekarang semakin sibuk dan nggak seperti dulu yang selalu menanyai banyak hal tentang kesibukanku, Cin," kataku.
Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba aku terfikir; bagaimana mungkin aku bisa berkata 'ntah apa yang akan kami bicarakan lagi?' Padahal, di awal-awal saling mengenal dulu, bukankah kami masih  asing dan buktinya banyak hal yang bisa diobrolkan. Ternyata, dalam proses mengenali kita tidak butuh banyak alasan. Tapi, kenapa dalam tahap memahami, justru alasan malah sering tertuduh sebagai perenggang pertalian? Hanya hatilah yang paling mengerti.

***
Aku diajak oleh Okta, Joni dan Yana menikmati Es Kuwut (aku ditraktir Joni) di samping Giant Panam. Udah beberapa kali juga mereka menyebut-nyebut es itu dan kali ini aku mencicipinya juga. Memang seger banget! Ini es khas Bali kabarnya. Komposisinya cukup sederhana (tebakku), terdiri dari parutan mentimun, perasan jeruk nipis, air gula, serutan degan (kelapa muda) dan taburan selasih. Di sajikan di dalam tempurung kelapa di atas irisan bundar bambu. Hampir aja minumanku tumpah gara-gara ku angkat tempurungnya yang ku kira menyatu dengan irisan bambu tadi. Eh, nggak tahunya terpisah. wkwkwk *jangan bikin malu lah, El.

Sayangnya, lantai atas tidak bisa ditempati karena ada perbaikan. Padahal, kata mereka tempatnya kece dan banyak balon-balonnya. Aku kan ngidam jadinya, cinnn. hehe. Joni mengajak main ke stadion utama setelahnya. Aku khawatir dengan bensin motorku yang sekarat. Eh, malah dikasih uang Rp 10.000 untuk ngisi minyak. Tapi, setelah memasuki barier gate di wilayah FKIP, aku menyarankan untuk main di taman rektorat aja, mengingat jarak yang cukup jauh kalau ke stadion utama sana. Apalagi ini sudah jam 5 lewat. Ternyata ideku tidak salah! Kami berburu objek di bawah jembatan kupu-kupu. Widihhh! ternyata keren banget coy hasil jepretan gambarnya Joni. Aku aja kalah dan dia marah-marah karena aku selalu gagal menangkap gambar sebagus yang ditangkapnya. *maklumlah, dek masih amatiran nih kakaknya. hehe.

Malamnya, aku menemukan sebuah judul film yang akan tayang di bioskop; Syurga yang Tak Dirindukan. Diadaptadi dari novel best sellernya mbak Asma Nadia. Unik dan sangat menarik, dari judulnya aja. Widihhhhh, kerennya! fikirku. Duh, semaki iri saja rasanya untuk segera fokus kepada usaha ke arah tujua. Harus bisa lebih baik lagi dari Mbak Asma! *Yakin Usaha Sampai. Insya allah.

Lis, tadi ibu nelvon karena mau ngabari bahwa rencana pergi ke Kuansingnya jadi. Supirnya jemput ke rumah Ibu jam 05.30 pagi lalu jemput Elis. Be ready ya! CU Tomorrow.

"Cuy! Aku mau ikut bu Tiko ke Kuansing besok. Nemenin suvey untuk penelitiannya. Asyiiikk di ajak jalan-jalan. Semoga aku bisa menemukan hal menarik dari kuansing untuk ku ceritakan. aamiin."
"Berarti besok nggak bisa donk ikutan ke acara masak-masak dan makan-makan bersama di BEM?" tanya Rini.
"Iya nih! Padahal niat banget pengen ikutan. Tapi, nggak bisa demi bu Tiko, Cuy. Yah, jadi bener-bener seolah-olah aku out dari BEM kesannya, karena nggak pernah nongol. Padahal kan nggak kayak gitu niatnya."

Tidak ada komentar: