Ini
adalah pagi yang baru. Lebih baru daripada baju baru. Sebaru salam yang baru
saja terucap, setelah 12 takbir tercukup. Di sebelah kananku ada Nilam dan di
sebelahnya lagi ada mami. Dalam balutan mukena putih, kami menyimak dengan
takzim khutbah Idul Fitri yang baru saja dimula.
***
“…Bapak-bapak,
Ibu-ibu yang berbahagia, setelah berpuasa sebulan penuh kita memang kembali
suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Dalam artian, suci dari segala dosa dan
maksiat yang selama ini kita lakukan kepada Allah. Sedangkan dosa kita kepada
sesama, ya kitalah yang harus menyelesaikannya sendiri, barulah Allah
mengampuni…”
“Hayooo…
minta maaflah sama Rikaaa nanti,” bisik mami kepada Nilam.
“Hahhh!!! Nilam berantem sama Rika Mi? Sejak kapan?”
Mami melirik ke Nilam, seolah mempersilahkan Nilam untuk
mengaku kepadaku.
“Masih kecil pun dah musuh-musuhan. Apalaahh!” gerutuku.
“Ya sebelum Nilam masuk pesantren itulah El. Adeknya Rika
itu ndorong Moza sampek jatuh, terus
Nilam balas ngedorong Adeknya Rika.
Rikanya marah dan Nilam juga nggak terima Moza digitukan. Ya udah deh, sampek
sekarang nggak berkawan lagi orang ini. Apalagi waktu itu Dewi dan kawannya
yang lain itu ikut-ikutan musuhi Rika.”
“Aiihh? Ngeri bah sistem
perrmusuhan anak zaman sekarang ini.”
“…Jadikanlah lebaran ini sebagai momentum untuk
menyambung tali silaturahmi, terutama kepada keluarga besar kita. Hubungi lagi
mereka yang sudah lama tidak pernah lagi kita tahu kabarnya. Zaman sekarang kan
sudah canggih, kalau tidak bisa mudik ya tinggal telvon saja. Sesungguhnya
kelak, Allah akan meminta pertanggung jawaban atas apa-apa yang telah kita
putuskan padahal Ia memerintahkan kita untuk menyambungnya..”
“Dengar tuh Lam? Nanti kita ke rumah Rika pokoknya!”
“Oke, siapa takut?” kata mami. Sementara Nilam, wajahnya
masih cemberut seolah tidak ingin ikut bergabung dalam misi ini.
Aku ingin menghadirkan dan menghadiahkan sesuatu sebelum
sesi sungkeman (baca: bermaafan di
pangkuan orang tua) dimulai; Puisi. Khas, diracik oleh tanganku sendiri dan
sudah terabadikan di dalam buku Tentang
Januari-ku.
KLIK Record…
Kamera sudah ku standby-kan
dalam mode rekaman. Mami dan papi duduk berdampingan di sofa, sementara
adik-adik melantai di atas karpet bludru…
“Sebuah puisi, karya Elysa Rizka Armala… Puisi Paling Puisi.” Aku mulai mengambil
suara perut dan membacanya perlahan. Ku hembuskan nyawa dan rasa pada setiap kata-kata.
Ini adalah persembahan, maka yang tersuguh hanyalah yang terbaik.
Kesibukan
memburu pundi dunia memang tidak pernah ada usainya
Usai
tertunai satu, mengejar lagi yang kedua, ketiga, keempat hingga tak hingga
Waktu
terenggut kusut semakin semrawut dan terurut
Banyak
yang terlupa akibat kesibukan
Sapa
sesaat tak sempat terkata meski hanya di sela sempat
Alasan
mahir berpandir mengelak menyanggupi janji-janji
Panggilan
pulang berulang-ulang berdendang riang
Banyak
luang yang ingin diuangkan dari petualang
Tapi
luang justru berpihak pada pulang
Lagipula
tak ada kata-kata yang sanggup mengungguli pinta wanita tercinta
Walau
tanpa rengekan, pulangku jadi palungnya
Hey…
Bukankah ini yang memang aku butuhkan?
Suasana
baru untuk puisi-puisi buntu
Pulang
adalah pembuka peluang
Ibu
adalah puisiku yang paling puisi
Tepuk tangan baru saja bergemuruh untukku. Air mata yang
diusap mami, kini jadi perhatianku. Meski aku pun nyaris menangis, tapi ku coba
mengalihkan dulu kepada cerita di waktu SD…
“Papi ingat kan waktu dulu El jadi yang terbaik di kelas
berkat cara membaca puisi yang Papi ajarkan? Padahal kalau difikir-fikir
sekarang, lucu kali ajaran Papi dulu. Haha.”
Papi
tertawa mendengarku, mami juga.
Tahan El, akan tiba waktunya
menangis. Sebentar lagi. Belum sekarang.
Aku memberikan closing statemen di depan kamera sebelum
beralih ke sesi selanjutnya; Sungkeman.
“Lam! Duluan!”
Nilam geleng-geleng.
“Salsa! Duluan!”
Salsa geleng-geleng juga.
“Moza, Moza mau diajak jalan-jalan nggak? Salaman duluan
ya sama Mami..”
Moza memonyongkan mulutnya.
Masa harus Alfi yang duluan? Ke mana
kami, anak-anak mami-papi ini?
Ku putuskan
untuk duluan maju. Ah, sudah selalu seperti ini memang, setiap lebaran Idul
Fitri dan Idul Adha, anak tertua jadi yang pertama. Ingin merubah urutan, tapi
apa daya aku tertakdir untuk memula.
“Mi,
maafin El yaaa. El banyak salah sama Mami. El belum bisa bahagiakan Mami. El
sering ngebantah omongan Mami. El sering menyusahkan Mami.” Air mataku jatuh.
Mami
membalas dengan air mata dan kata, “Maafin Mami juga yaaa kalau kata-kata Mami
sering menyaki..ti..muu.” Sebuah kecupan mendarat di keningku. Aku membalas
dengan 2 kecupan untuk pipi kira dan kanannya.
“Piiii….”
“Udah,
udahhh.. Udah dimaafinnn daahhh,” cegat papi sebelum aku berbicara panjang
sambil merengek.
“Maafiin
El ya Piii.. Papi capek-capek kerja di hutan, El ngabisin uangnya. El selalu
ngerepotin Papi, meskipun lebih banyak ngerepotin Mami sih sebenarnya. Tapi
tetep aja, El minta maaf sama Papi atas semua kesalahan El. Mohon doanya semoga
El bisa wisuda bulan Oktober nanti ya Piii.”
“Aamiin.
Iya.. udah dimaafinn.”
2
kecupan pun mendarat di pipi kiri dan kanan papi.
“Kayak
dicium kucing.. hiiii,” kata papi.
Air
mata mami yang baru saja reda, sekarang tertumpah lagi. Giliran Nilam yang
sungkeman, disusul Salsa, Moza dan Alfi di belakangnya.
Ya
Allah, hadiah macam apa ini? Hanya ada satu kata sebagai hadiahku kepada-Mu; Alhamdulillah. Aku masih ingat ketika
pertama kali aku menciptakan tradisi seperti ini. Aku yang memulainya pada Idul
Fitri beberapa tahun lalu. Ternyata tidak sulit, karena pada sungkeman
selanjutnya hal ini telah menjadi tradisi. Bahkan, yang membuatku begitu
terharu adalah kata-kata mami semalam kepada Alfi…
“Alfi
besok akan lihat gimana cara bermaafan di rumah ini. Huuuhh, pasti Alfi bakal
ikut-ikutan nangis besook.”
Kemudian,
kata-kata mami tadi pagi, “Mungkin kebanyakan orang hanya meminta maaf sekedar
berkata, ‘Mohon maaf lahir bathin ya’ tapi keluarga kita berbeda’.”
Setelah
sungkeman selesai, mami dan papi menelvon kedua orang tua mereka dan meminta
maaf. Selanjutnya, aku dan mami benar-benar melancarkan misi kami; Bertamu ke
rumah Rika. Salsa, Moza pun pro kepada kami. Nilam tak punya pilihan lain
selain mem-pro-kan diri juga.
Ya
Allah, satu kata lagi untuk-Mu; Alhamdulillah.
Jadikan kami keluarga di Syurga-Mu kelak.
___Idul Fitri adalah kemaafan. Dan kemaafan itu hendaklah kita.
(Elysa
Rizka Armala)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar