“Ciyeee..mau ngelabrak Abang Fotografeerr,” Sindir Rini
dalam langkah yang semakin mendekat ke tujuan ini.
Di dalam ruangan *erlin Photography…
“Bang, tadi pagi kan saya foto di sini untuk syarat S1,
setelah saya cek di rumah ternyata isinya cuma 6 pas foto dan 6 foto dengan
toga. Sementara teman saya ini kemarin dapat 6 foto 2x3 dengan toga dan 6 pas
foto yang hitam putih. Kenapa bisa beda gitu Bang?”
“Adek fakultasnya apa?”
“FKIP.”
“Kalau FKIP, biasanya persyaratannya memang cuma 2 itu aja
Dek. Kalau yang FISIP, biasanya baru banyak Dek. Kita udah sering kok melayani
persyaratan S1 gini untuk UNRI, makanya kami kasih it paketnya.”
“Oh gitu, tapi kalau saya maunya pakai paket kayak FISIP,
nggak masalah kan?”
“Nggak apa-apa Dek, mau cetak yang mana lagi nih fotonya? Tinggal
tambahin aja ntar Rp 1000 per lembarnya.”
“Kok gitu hitungannya? Kalau disamain aja dengan paket yang
kayak FISIP nggak bisa ya? Cuma selisih RP 5000 kan dari kekurangna 12 foto
itu?”
“Bedalah Dek, ukurannya nggak sama.”
“Apanya yang nggak sama Bang? Udah jelas sama gini dan ada 4
jenis. Teman saya itu cuma bayar Rp 55.000 sementara saya Rp 50.000 tapi jauh
beda yang didapat.”
Si abang menyerahkan buku paket pas foto kepadaku. Aku mempelajari
daftar paket pas foto itu dengan seksama. Justru semakin bingung aku dibuatnya.
Tertulis di sana Rp 25.000 dengan berbagai paket dan ukuran. Menurutku ini
malah nggak relevan dan udah jelas bukan jawaban atas permasalahanku. Ah, aku
malas berdebat panjang dan sebenarnya itu sepenuhnya adalah hak pemilik,
meskipun biasanya harganya Rp 50.000, tapi kalau hari ini dia bilang Rp 60.000,
pelanggan bisa apa? *ini perumpamaan.
“Heemm…kan udah ku bilang tadi syaratnya kita beda El…”
gumam Rini, pelan.
“You don’t said that Rin!” bantahku, pelan. Aku nggak suka
disalahkan atas pertimbanganku yang tadi didukungnya.
“Ya udah deh Bang, nggak jadi nambah cetakan. Saya cukup dengan
yang tadi aja kalau gitu. Makasih ya Bang.
Ku tulis status di FB…
Pelayanan yang mengecewakan pelanggan itu fatal akibatnya, bung!
“Rezeki mereka itu Rin. Semoga uangku itu bernilai sedekah.”
Bukan hanya *erlin yang mengecewakan hari ini, tempat kami
sarapan tadi pun begitu. Dengan harga yang semakin tinggi, tapi porsi nasi
malah semakin mini. Tujuannya apa? Pantesan aja sekarang sepi.
Biasanya, apa yang akan kamu lakuin kalau nantinya ada temanmu
ada yang mau datang ke tempat sama? Kalau aku, bisa dipastikan akan bilang
gini, ‘Nggak usah ke sana. Cari tempat yang lain aja!’ See? Aku pernah nulis
sebelumnya gini, Andai aja kita bisa
dengan mudah memberitahu penjual (barang atau jasa) tentang pelayanan mereka
yang nggak memuaskan itu, tentu keadaan akan selalu lebih baik ya. Tapi,
kenyataannya nggak semudah itu.
Aku lihat, kayaknya Rini merasa nggak enak hati karena udah
mengajakku ke tempat foto itu. Aku nggak masalah dengan ajakan Rini sebenarnya,
hanya sedikit kecewa dengan pelayanan tempat tadi. Itu aja. Kalau untuk
persyaratan S1 FISIP, Rp 55.000 itu lumayan rasional lah.
“Ngapain El ke sana? Kok kau ajak Elysa ke sana Rin? Di 3XYZ
ini murah loh El, cuma Rp 20.000 udah lengkap juga.”
Itu kan tempat yang direkomendasikan bang Un juga kemarin. Tapi,
karena usianya yang masih ranum, kau jadi meragukan fasilitasnya. Hari ini aku
akui aku memang sedang ceroboh besar-besaran. Biasanya aku akan berjuang
mati-matian untuk berburu harga yang lebih murah dan antusias menyelidiki.
Tentang 3XYZ, meskipun udah kefikiran tapi kok aku nggak berinisiatif untuk
nanya dulu ke sana tadi.
Makasih ya Rin, udah
nemenin aku bolak-balik begiinii.
Sebelum pulang, aku mampir dulu beli minuman favoritku. Tebak,
apa coba? Yaapppp! Betul sekali; Chocholate Changer again. Hehe.
“Selaalaapnya El! Muak Kakak itu lihat El tiap harii…” kata
Rini.
“As you know lah Rin, I will never stop before I feel bore.”
Dalam perjalanan menuju kosan, “El, nih PMnya si anu di BBM;
Jangan sok berkata bijak kalau sikapmu saja tidak bijak.”
“Itu nyindir aku ya dia?”
“Heh, heh, heh ya iyalah. Semua semuanya kan selalu El.
orang ganti foto profil, dibilang buat nyari perhatian El. Orang bikin status,
dibilang nyindir El.”
“Hehhee… Apa dia kesinggung ya sama statusku Rin? Tapi itu
lagi-lagi umum loh. Kawan-kawan di sekitarku ya gitu rata-rata. Kayak si kawan
itu membenciku, kayak si **ta ke kawannya itu, kayak di Titin ke kawannya. Ya,
itu kejadian sehari-hari sih, makanya aku pengen nulis di FB untuk semua orang.
Yahhh, kalau nunggu segalanya sempurna baru belajar ngomong bijak, kapan? Aku kan
nulis kata-kata bijak itu rata-rata dari pengalaman pribadi. Ya, kalau suatu
saat nanti aku berbeda, itu karena segala sesuatunya memang udah berubah.”
“Arasoooh.”
“Justru aku senang, kalau lihat orang yang amburadul tapi
bisa menuliskan kata-kata bijak di medsosnya. Luar biasa kan? Haaa, inilah bedanya harta dengan kata-kata Rin.
2 2nya adalah kemewahan; tapi, harta adalah kemewahan yang nggak bisa dimiliki
oleh semua orang sementara kata-kata adalah kemewahan yang boleh dimiliki oleh
siapa saja. Allah memberikan kata-kata kepada semua orang tanpa
diskriminasi dan tanpa tapi. Siapapun boleh menggunakannya. Emang pernah Rini dengar ada perampok yang ngerampok puisi? Nnggak pernah kan? haha.”
“Iya yaaa.. bener beuutt!”
***
Pas iseng-iseng nontonin ulang tutorial hijab di folder
Download, eh aku nemu 1 video yang selalu ditonton si Rini. Ya, tentang si 3
anak kembar yang ntah hapaa-hapaaa itulah. Apalagi coba? Well, tiba-tiba aku
pengen coba mantengin film kesukaan Rini ini. Penasaran, serunya di mana sih
sebenarnya? Aku akan belajar menyukai apa yang disukai si Rini. Tapi, sampai
video berdurasi 10 menit ini selesai, pertanyaanku masih tetap sama; Serunya di mana sih sebenarnya?
Sampai aku bangun dari tidur siang ternyata Rini belum juga
turun dari kamarnya Andin. Makanya, diam-diam bisa ku coba mantengin tuh video
aneh. Baiklah pemirsaaa, setidaknya aku sudah belajar menyukai meskipun
akhirnya aku tetap nggak suka juga. Si Rini itu sampai addict banget loh sama
reality show korea-korea itu. Mungkin udah ada ratusan seri dan puluhan jenis
yang dia punya.
Hooaammm… aku nggak pernah segitunya menyukai sesuatu selama
ini. aku suka juga film Korea sebenarnya, tapi lihat-lihat dulu tentang apa. Nggak
semuanya juga kayak Rincuuy gicuuu. Hihii.
Kalau Rini sedang nonton koleksi Koreanya, aku malah sering
banget ngerecokin. “Ini orang salah ngasih judul ya? Judulnya sih keren,
SUPERMAN. Tapi isinya kok jalan-jalan melulu sama anak-anak kecil. Nggak mencerminkan
isinya banget sih!” Lalu dijawab sama Rini, “Ya maksudnya itu bukan Superman
kayak yang sebenarnya loh, tapi super man artinya ayah yang baik dan penyayang
sama anak-anaknya. Makanya ini isinya tentang bapak dan anak-anak .” Dan,
biasanya aku akan mengakhirinya dengan, “Emang kurang kerjaan kali orang ini
bikin acara gitu ya. Kehabisan ide film kali ya.” Hhahhaa… *Kok kalimatku sinis
melulu ya? Hehe, untunglah Rini orangnya nggak pemarah dan easy going, makanya
kami awet sampai 3 tahun ini.
***
“Ini kok pantat ayam semua ya Rin isi supnya?”
“Ya gitulah kalau beli di Giant kan udah dipak-pakkan gitu,
isinya memang banyak pantatnya.”
“Rini nggak suka kan?”
“Nggak.”
“Ya udah, ku habisin ya!” *Modus.
“El, ke KFC yuk? Nongkrong-nongkrong kita.”
“Makanan ini buat apa gunanya Rinn?”
“Ya kan, nongkrong-nongkrong itu nggak selalu harus makan
yang berat-berat. Siapa tahu aja wifinya hidup, ntar aku bisa download video Dehan,
Mingguk dan Manse.”
“Halaaahhh..selalapnya! macam mau punya anak aja besok Rin,
Rin..”
“El tuu kok picik kali sih pemikirannya? Emang El nggak suka
lihat anak-anak kecil? Lucu loh merekaa.”
“Rin, ini bukan soal picik, aku tuh realistis. Lucu sih
mereka, tapi manfaatnya untuk kita apa coba? Mereka itu anak orang kaya Rin,
lihatlah yang ditayangkan apa? Jalan-jalan, rekreasi, ke sana-sini, itu nggak
realistis sama kehidupan kita.”
“Aseeekkk. Ngerii dank!”
“Emangnya Bapaknya itu nggak punya kerjaan apa? Tiap hari
ngajakin anaknya jalan-jalan gitu?”
“Ya, namanya aja reality show El..”
“Itu bukti bahwa mereka golongan atas Rin, makanya punya
kebebasan waktu dan financial. That’s not real for this life. Kehidupan kita di
sini berbeda dengan mereka. Budaya kita juga berbeda. Segala sesuatunya
berbeda. Lihatlah anak-anak di sekitar kita, ada yang kayak anak-anak itu? Jauh.”
Hening sesaat… Rini sedang siap-siap. Andin yang ngajak dia ternyata.
“Hujan ya El?”
“Mana ku tahu. Emangnya aku dukun?”
“Loh? Kok mesti jadi dukun sih untuk tahu hujan atau
nggaknya?”
“Terserah aku lah. Aku mau bilang gituu.”
“Hemmm..pasti hari ini El bakal jelek-jelekin aku di blog.”
“Setiap hari pun ku jelek-jelekin Rini di sana.”
“Tapi, kayaknya hari ini bakal banyaak kali. Hemmm…” tebak
Rini sambil manggut-manggut.
“Hahhaha… kayaknya iya nih. Apalagi kalau ingat waktu Rini
nggak berani nyeberang tadi? Masa sama Trans Metro yang masih puluhan meter aja
takut? Macam mana bah!”
“Iya looh, takut kali aku sama Trans Metro tu karena
badannya gede kali. Makanya, ku biarkan aja dia lewat dulu barulah nyebrang
aku.”
“Makanya tadi ku tanya, ‘Nggak nunggu Trans Metro ke dua
lewat dulu Rin?’ Padahal kan dia tu berhenti dulu di haltenya ngangkut
penumpang. Sempat Rini nyeberang sebenarnya!”
“Iya loh, sebenarnya yang paling menakutkan itu justru motor
El. Karena, kadang orang tu bagak (baca: Sok), nggak mau ngalah dan laju-laju.”
“Rin,, Rini mau kalau ada yang ngajak taarufan?”
“Ya maulah El.”
Syukurlah! Ya Allah,
izinkan hamba menjadi perantara jodoh yang baik untuk Andin dan Rini. Aamiin. Rini
juga bilang, dia mau pakai cadar kalau suaminya minta dia pakai cadar. Pas ku
pertanyakan tentang bagaimana dia bisa semudah itu menuruti, dia cuma bilang, ‘Ah,
nantilah tuu kan sekarang belum mau nikah pun.” Rini ini mirip kayak Nilam,
gampang banget nurut. Kalau aku kok nggak pernah bisa gitu ya? Setiap keputusan
yang akan ku ambil tu harus ku cari tahu dulu kenapa-kenapanya barulah setelah
yakin, aku bisa memutuskan. Wahai mereka
yang berhati lembuttt,,, bagaimana caranya agar ku miliki hati yang lembut
juga?
Apo kojo koo? SMS
dari mami ternyata.
Awalnya, aku mau bilang, Tak
ado mii ngango ajoo (nggak ada mi, melongo aja). Tapi ku hapus lagi,
takutnya gara-gara bercanda gitu malah nggak berkah pula prosesku ini.
Sedang ngerjain SKRIPSI mii *Emot cium. Doain yak?
Nah, mungkin yang barusan lebih baik. Mami senang dan aku
pun kecipratan tenang. Semoga Engkau lancarakan hamba pula. aamiiin.
“Mbak, Putri ke kos yaa. Mau bayar hutang soalnya.”
Tak lama, Putri datang setelah 5 menit yang lalu Rini pergi.
Putri nggak lama di sini, cuma cerita-cerita bentar dan bayar utangnya. Aku aja
udah nyaris lupa lagian bukunya juga udah lama hilang. Hikss. Alhamdulillah dapat
Rp 26.000, lumayan buat bertahan hidup pemirsaa..hehe.
Besok upacara di mana cin? Tanya Lia.
Belum tau. Mu dimana?
Kok aku nggak kefikiran ya mau upacara? Hiksss…
Aku kalau ndak ikut anak PCMI di Tenayan Raya, Kulim, ke kampus
rencananya. Jadi mahasiswa biasa *Emot ketawa
“Rin, besok ada lomba 17 an nggak ya di sini?”
“Ada Kak! Kalau menang, hadiahnya duit,” sela Risky, anak
penjaga kos di depan.
“Ahaa! Mari kita cari duit besok Bung!”
“Mari!” jawab Rini. Sepakat. Mata kami sama-sama menyipit,
tajam.
Tadi waktu mu ke tempat bang hendra, siapa yang nerima undangannya cin?
Dani. Dia ngajar di sana rupanya Cinn..
Ohhhh.. Makacih yaa kalau gituu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar