Kamis, 06 Agustus 2015

Menjadi Lebih Baik dengan Memaafkan

Assalamualaikum Mur, udah silaturahmi
ke rumah guru-guru SMA?

Belum El. Ke sinilah El,
nanti kita sama-sama pergi.

Tumben Murti nggak pergi bareng anak-anak IPA?

Susah ngumpul kayak dulu El.
Yasin ke Bengkalis, Hendri nggak ada kabar,
Tari sedang magang,
Anid baru kemalangan, papanya meninggal.
Makanya aku belum ada ke mana-mana nih.

Papanya Anid? Suaminya bu Hasra, Mur?

Iya El..

            Astaghfirullah… Segalanya memang akan kembali kepada-Mu ya Rabb.
            “Mi, Mami ingat bu Hasra kan? Wali kelas El waktu SMA dulu.”
            “Ingat. Kenapa memangnya?”
            “Suaminya meninggal Mi. El tahunya dari Murti. Padahal, tahun lalu waktu kita lebaran ke sana, Bapak tu masih ada kan Mi?”
            “Innalillahi wainna ilaihi roji’un…”

***
            “… Ibu ada firasat nggak sebelumnya, Bu?”
            “Nggak ada El. Nggak ada sama sekali. Tapi, akhir-akhir ini Ibu selalu pengen pulang bareng Bapak setiap pulang dari sholat Tarawih di mushola. Kan biasanya Bapak duluan, Ibu jalan sama Ibu-ibu yang lain. Ntah kenapa rasanya ibu pengen dekaaaat terus sama Bapak. Sebelumnya, Bapak tiba-tiba pengen ngajarkan ke anak-anak gimana caranya ngurus ayam.”
            “Ohh gituu. Anid diajarkan juga Bu?” tanya Murti pula.
            “Iya, Anid dan Kakaknya diajarkan semuanya. Bahkan, pagi hari sebelum Bapak meninggal, masih sempat memanen buah Rimbang yang ditanamnya di samping rumah. Malam tu waktu Bapak bilang sesak nafas, Ibu nggak curiga sama sekali. Ibu kira sesak nafas biasa, tapi si Kakak yang dokter tu tahu dia kalau sesak nafasnya Bapak agak lain. Langsunglah kami bawa ke RS. Fatmawati, ternyata nggak bisa dokternya. Akhirnya kami bawa ke RSUD dan Bapak meninggal di sana. Padahal, dari parkiran sampai ke tempat tidur itu Bapak jalan kaki dan naik sendiri. Beberapa menit kemudian langsung ‘tak ada’.”
            “Waahh.. artinya Bapak meninggal dengan tenang dan damai ya Bu.”
            “Iya, sampai pesan-pesan atau wasiat pun tak ada disampaikannya.”
            Mendengar penuturan dari bu Hasra membuatku bertanya di dalam hati, Kalau suaminya bu Hasra bisa meninggal setenang itu, apakah sebenarnya bapak itu tahu bahwa sebentar lagi ia akan dipanggil Allah?
            Sayangnya, orang yang sudah pergi itu tidak akan mungkin kembali lagi. Pertanyaanku tadi jadi beranak, Kalau bapak itu tidak merasa bahwa dirinya akan meninggal, artinya ajal itu tidak selalu memberi petunjuk kepada setiap orang yang akan dijemputnya. Ah, jangan-jangan aku yang akan pergi selanjutnya? Bisa saja kan? Siapa yang tahu? Tidak juga diriku.
             Tidak hanya dari bu Hasra, aku dan Murti telah mendengar beberapa kabar kematian lainnya dalam sehari itu. Seharusnya inilah yang kita khawatirkan dan renungkan dari hari-hari kita. Sudahkah ke jalan yang benar atau masih berada pada dosa yang sama?


***
            Hatiku melunak. Tidak ada lagi peringatan yang lebih ampuh dibandingkan kabar tentang kematian. Mungkin belum sekarang datangnya, tapi bisa saja nanti atau bahkan sebentar lagi. Lalu, ketika waktunya tiba, akankah aku membawa kebencian ini di hadapan Allah? Tidak! Karena, aku ingin menghadap-Nya dengan hati yang tenang.
Kita mempunyai 2 jenis dosa; 1. Dosa kepada Allah, 2. Dosa kepada sesama. Dosa kepada Allah insya Allah sudah terhapus dengan amalan ramadhan yang kita lakukan. Sedangkan dosa kepada sesama baru akan terhapus jika yang bersangkutan telah memaafkan. Untuk itu, saya ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan.
Penuh harap: Elysa RA.
            Aku mengirimkan kalimat itu kepada 2 orang sekaligus. Orang pertama, sudah memutuskan untuk tidak ingin lagi bertemu denganku sedangkan orang kedua, adalah sahabatku dulunya. Tapi, sekarang ia benar-benar tidak ingin lagi bertemu denganku. ya, mereka adalah 2 orang yang berbalik membenciku. Dan, ini adalah kebusiaun yang sudah lebih dari 24 bulan setelah permintaan maaf terakhirku.
            “Kamu udah melakukan hal yang tepat Dek. Kalau mau jadi orang besar, ya harus seperti ini; Berani meminta maaf dan mudah memberi maaf. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, yang jelas orang yang berani meminta maaf  duluan itu hebat.”
            “Makasih ya Kak. Setidaknya El udah berhasil mengalahkan ego sendiri. Kalau mereka tetap nggak mau maafin El, itu adalah urusan mereka dengan Allah. El udah menyelesaikan bagian El.”
            “Semoga segera menjadi orang besar ya Dek.”
            2 SMS itu bener-bener kompak; serentak ku kirim kepada mereka dan serentak pula mereka tidak membalasnya. Kok bisa gitu ya?
            ___Ingat El. Kamu sudah menyelesaikan bagianmu.
Selamat wahai diriku, itulah kemenanganmu! (Elysa RA)

Tidak ada komentar: