Assalamualaikum
Mur, udah silaturahmi
ke
rumah guru-guru SMA?
Belum El. Ke sinilah El,
nanti kita sama-sama pergi.
Tumben
Murti nggak pergi bareng anak-anak IPA?
Susah ngumpul kayak dulu El.
Yasin ke Bengkalis, Hendri nggak ada kabar,
Tari sedang magang,
Anid baru kemalangan, papanya meninggal.
Makanya aku belum ada ke mana-mana nih.
Papanya
Anid? Suaminya bu Hasra, Mur?
Iya El..
Astaghfirullah… Segalanya memang
akan kembali kepada-Mu ya Rabb.
“Mi, Mami ingat bu Hasra kan? Wali kelas El waktu SMA
dulu.”
“Ingat. Kenapa memangnya?”
“Suaminya meninggal Mi. El tahunya dari Murti. Padahal,
tahun lalu waktu kita lebaran ke sana, Bapak tu masih ada kan Mi?”
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un…”
***
“… Ibu ada firasat nggak sebelumnya, Bu?”
“Nggak ada El. Nggak ada sama sekali. Tapi, akhir-akhir
ini Ibu selalu pengen pulang bareng Bapak setiap pulang dari sholat Tarawih di
mushola. Kan biasanya Bapak duluan, Ibu jalan sama Ibu-ibu yang lain. Ntah kenapa
rasanya ibu pengen dekaaaat terus sama Bapak. Sebelumnya, Bapak tiba-tiba
pengen ngajarkan ke anak-anak gimana caranya ngurus ayam.”
“Ohh gituu. Anid diajarkan juga Bu?” tanya Murti pula.
“Iya, Anid dan Kakaknya diajarkan semuanya. Bahkan, pagi
hari sebelum Bapak meninggal, masih sempat memanen buah Rimbang yang ditanamnya
di samping rumah. Malam tu waktu Bapak bilang sesak nafas, Ibu nggak curiga
sama sekali. Ibu kira sesak nafas biasa, tapi si Kakak yang dokter tu tahu dia
kalau sesak nafasnya Bapak agak lain. Langsunglah kami bawa ke RS. Fatmawati,
ternyata nggak bisa dokternya. Akhirnya kami bawa ke RSUD dan Bapak meninggal
di sana. Padahal, dari parkiran sampai ke tempat tidur itu Bapak jalan kaki dan
naik sendiri. Beberapa menit kemudian langsung ‘tak ada’.”
“Waahh.. artinya Bapak meninggal dengan tenang dan damai
ya Bu.”
“Iya, sampai pesan-pesan atau wasiat pun tak ada
disampaikannya.”
Mendengar penuturan dari bu Hasra membuatku bertanya di
dalam hati, Kalau suaminya bu Hasra bisa
meninggal setenang itu, apakah sebenarnya bapak itu tahu bahwa sebentar lagi ia
akan dipanggil Allah?
Sayangnya, orang yang sudah pergi itu tidak akan mungkin
kembali lagi. Pertanyaanku tadi jadi beranak, Kalau bapak itu tidak merasa bahwa dirinya akan meninggal, artinya
ajal itu tidak selalu memberi petunjuk kepada setiap orang yang akan dijemputnya.
Ah, jangan-jangan aku yang akan pergi selanjutnya? Bisa saja kan? Siapa yang
tahu? Tidak juga diriku.
Tidak hanya dari
bu Hasra, aku dan Murti telah mendengar beberapa kabar kematian lainnya dalam
sehari itu. Seharusnya inilah yang kita khawatirkan dan renungkan dari
hari-hari kita. Sudahkah ke jalan yang benar atau masih berada pada dosa yang
sama?
***
Hatiku melunak. Tidak ada lagi peringatan yang lebih
ampuh dibandingkan kabar tentang kematian. Mungkin belum sekarang datangnya,
tapi bisa saja nanti atau bahkan sebentar lagi. Lalu, ketika waktunya tiba,
akankah aku membawa kebencian ini di hadapan Allah? Tidak! Karena, aku ingin
menghadap-Nya dengan hati yang tenang.
Kita mempunyai 2 jenis dosa; 1.
Dosa kepada Allah, 2. Dosa kepada sesama. Dosa kepada Allah insya Allah sudah
terhapus dengan amalan ramadhan yang kita lakukan. Sedangkan dosa kepada sesama
baru akan terhapus jika yang bersangkutan telah memaafkan. Untuk itu, saya
ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan.
Penuh harap: Elysa RA.
Aku mengirimkan kalimat itu kepada 2 orang sekaligus.
Orang pertama, sudah memutuskan untuk tidak ingin lagi bertemu denganku
sedangkan orang kedua, adalah sahabatku dulunya. Tapi, sekarang ia benar-benar
tidak ingin lagi bertemu denganku. ya, mereka adalah 2 orang yang berbalik
membenciku. Dan, ini adalah kebusiaun yang sudah lebih dari 24 bulan setelah
permintaan maaf terakhirku.
“Kamu udah melakukan hal yang tepat Dek. Kalau mau jadi
orang besar, ya harus seperti ini; Berani meminta maaf dan mudah memberi maaf. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, yang jelas orang yang berani meminta maaf duluan itu hebat.”
“Makasih ya Kak. Setidaknya El udah berhasil mengalahkan
ego sendiri. Kalau mereka tetap nggak mau maafin El, itu adalah urusan mereka
dengan Allah. El udah menyelesaikan bagian El.”
“Semoga segera menjadi orang besar ya Dek.”
2 SMS itu bener-bener kompak; serentak ku kirim kepada
mereka dan serentak pula mereka tidak membalasnya. Kok bisa gitu ya?
___Ingat El. Kamu sudah menyelesaikan bagianmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar