Selasa, 08 Desember 2015

Penulis bukan Pengemis



Pagi ini aku ngerapiin folder-folder di local disk F dan memindahkannya ke hardisk. Ternyata banyak juga file-fileku yang berserak, udah lama banget belum dirapikan. Hemmm…meskipun aku dominan otak kanan, tapi keteraturan adalah MOTO hidupku. Kalau nggak teratur, biasanya aku jadi malas mencari, kalau udah malas mencari ntar aku jadi malas berbuat. Kalau udah malas berbuat, biasanya aku akan malas-malasan. Hiksss.
Dreettt..dreeet… Romi memanggil.
Huahhh.. aku baru sadar kalau aku ketiduran di depan laptop. Pas ku angkat telvonnya, ternyata dia menanyakan kepastian ujian besok. Karena kabarnya besok adalah hari libur nasional. Aku pun masih ragu dan segera menanyakan kepada Delvi. Kata Delvi emang besok udah positif ujian ternyata dan jam 14.00wib nanti kami harus dekorasi ruangan. Hemmm… powerpoin belum ada ku buat sama sekali pula nih! Kok kayaknya agak canggung gini rasanya, mungkin karena aku udah lama nggak berurusan sama kampus kali ya? Jadi, iklim dan euphoria ujian itu udah hambar rasanya. Kalau dulu kan benar-benar deg-degan dan gelisah setiap mau ujian. Hehe. *cepatlah tamaaat El, biar tenang.

Tolong bantu BC. Kawan satu kos Rini kehilangan motor mio Sporty warna hitam-ungu BM 5888 MZ. Bagi yang melihat tolong hubungi Rini 0812xxxxx. Terimakasih.
DEGGG! Maling ada di mana-mana sekarang. Kita harus meningkatkan kewaspadaan ke level SIAGA nih pemirsaaa. Padahal, kosannya Rini itu kemarin ku nilai sangat aman karena garasi motor itu sampai di kunci oleh 2 pagar. Bahkan kata Rini motor temannya itu sudah sampai dirantai segala. Maling sekarang emang super sekali ya! banyak akalnya! Naudzubillah. “
Ya Allah, jauhkan hamba dan keluarga hamba dari niat jahat dan perbuatan jahat orang lain terhadap kamii..amiin.”

Aku tiba-tiba teringat pada mami. Sedikit merasa khawatir, jangan-jangan ada kata-kataku dalam obrolan kami semalam yang menyinggung perasaannya. Ya Allah, maaf.
Assalamualaikum mi.. lagi ngapain? Dah mamam? Mi, el awali pagi ini dengan meminta maaf atas semua kesalahan El. dan minta doanya untuk cita-cita el. bububuyuuu..muachhh.
Memang, aku akui kalimat SMSku itu alay, hehe. Tapi, eh jangan salah loh orang tua kita itu sebenarnya sukaaa banget diala;y-in sama anaknya. coba deh kalau nggak percaya! Lalu lihatlah bagaimana responnya?
Waalaikumsalam. Habis ngebonsai bunga kertas nih. Udah makan tadi sama sayur Gori (baca: nangka) dan ikan asin. Dimaafkan, didoakan yang terbaik buat dunia dan akhirat.
Legaaaaaa dan bahagiaaaa banget bacanya. Alhamdulillah, hati jadi jauh lebih tenang kalau udah dapat restu dan doa dari mami. Biasanya aku akan lebih bersemangat dan rezeki bakal lancar. Karena aku sangat percaya bahwa restu orang tua adalah pembuka segala kemudahan, keberkahan dan ampunanNya. Aku segera kembali lagi pada tulisan-tulisanku.

***
“Astaghfirullah!” aku terbangun pukul 13.25wib. padahal tadi niatnya tidur sebentar aja menjelang Zuhur.
Setelah sholat Zuhur, aku teringat siang ini ada agenda ke BLH bersama teman-teman Duta Lingkungan. Ketika aku check di LINE, ternyata masih simpang siur. Lagi pula, hujan sedang turun dengan derasnya di luar. Maka, aku putuskan untuk kembali menekuni tulisan-tulisanku. Ahhh… memang, hanya MENULIS yang membuatku BEBAS. Tapi kemudian, mendadak aku teringat dengan Yudi.
Yud… buku Tentang Januari kita gimana?

Bukunya masih ada ini sekitar 10. Dah banyak yang ngambil,
tapi belum bayar. Hikss.
 
Oh… aku tahu garis lurusnya nih!

Apa tu?
 
Gini. 1. Seseorang yang tadinya nggak punya mimpi menjadi seorang penulis tapi setelah membaca buku yang bagussss banget atau ngelihat penulis yang sukses bangeeettt, akhirnya dia pun bermimpi menjadi penulis.
2. Mulailah dia belajar bagaimana caranya menulis
3. Setelah merasa mampu, ia mulai berfikir untuk memiliki buku sendiri. Maka, ia pun mulai mencari ide dan berusaha menulis naskah buku.
4. Setelah selesai, dia pun mempertimbangkan penerbit mana yang akan ia pilih. Ingin yang minor atau mayor? Sempat bingung, antara menerbitkan yang berbayar atau yang gratis tapi persaingan sangat ketat dan harus siap ditolak.
5. Setelah buku terbit, ia kebingungan lagi; ‘Bagaimana caranya agar bukunya laku di pasaran? Siapa yang akan membeli bukunya?’ Lalau, sadarlah ia bahwa menjual buku tidak semudah menjual kacang goreng. Belum lagi menghadapi teman-teman yang berhutang atau malah minta gratisan.
6. Setelah bukunya habis terjual, ia kembali lagi ke sikluk satu; ‘Aku mau nulis apa lagi ya yang kira-kira laku di pasaran?’
Kenapa bisa seperti ini? Bukankah MENULIS itu seharusnya MEMBEBASKAN? Bukankah menulis itu adalah pekerjaan hati, cinta dan fikiran yang seharusnya penulisnya bisa hidup dengan sejahtera? Tak banyak yang seberuntung Asma Nadia, Habiburrahman, Tere Liye di sini. Lalu, apa bedanya kita dengan buruh? Bedanya hanya terletak pada; kita sebagai pekerja dan kita sebagai bosnya. Hhehe. Udah, analisisnya baru samapi di situ aja, belum nemu kelanjutannya. Ehee.

Iya yaa, bener tuh! Jadi gimana ya solusinya?


***

Romi memanggil…
Aku masih sangat mengantuk, jadi ku abaikan saja panggilannya. Setelah menggeliat, mengucek mata dan mengumpulkan kembali nyawa-nyawa yang tercecer di alam mimpi, barulah aku kembali memiscall Romi.
“Ada apa Cek?”
“Mbak, sebenarnya kita jadi ujian nggak sih besok?” tanya Romi.
“Itulah yang Mbak nggak tahu. Delvi pun nggak ada ngeribut nih, padahal Kakak belum bayar uang konsumsi loh!”
“Sama, Romi belum juga loh Mbak.”
“Ntar deh Mbak BBM lagi Delvi, siapa tahu aja ada penundaan lagi kan?”
Telvon di tutup. Aku pun segera menanyakan kepada Delvi. Ternyata ujian tetap jadi dilaksanakan dan pukul 14.00wib nanti semua peserta ujian harus ke ruang ujian untuk dekorasi ruangan. Ah, sudah pasti aku akan ke sana pukul 15.00wib saja, selain nanggung karena masih nanggung nulisnya, ehee.
“Kadang, kita pun bisa kalah dengan rasa MALAS kita sendiri. Maka, ketika semangatmu sedang merasuk, manfaatkanlah untuk memaksimalkan penyelesaian kewajiban.”

Gumamku dalam hati dalam renungan. Hari ini memang aku agak santai makanya sempat membalas BBM dari teman-teman yang biasanya aku tak sempat.
Bang…gimana tulisan Elysa semalam? Tanyaku pada bang **pi atas link blog yang ku berikan padanya.
Alhamdulillah sudah dek. Hehehe. Di 3 tempat dan jalan yang berbeda abang baru selesai baca tulisanmu.
Hahaah. Panjang banget ya bang? Gimana komentarnya bang?
Klarifikasi dek, rupanya di 4 tempat yang berbeda hehe. Komentarnya, MENGESANKAN. Banyak di sana orang yang punya segudang cerita tapi mereka tak mahir merangkainya, mungkin karena bukan hobi kali yaa..hehe. Terus, tulisanmu kalau bloeh abang kupas: Klimaks ceritanya terlalu cepat disampaikan di awal cerita sih. Menurut abang, menarik kalau klimaks cerita tersebut dibungkus dulu, lalu kemudian dipecahkan. Maka akan membuat orang penasaran dan terus mengikuti paragraph demi paragraph tulisan. Semura orang sepertinya SPESIAL dalam tulisanmu dek, ehhehe. Spesial itu lebih menarik kalau cuma satu orang dek, ^_^

Huahhh… ilmu baru nih.. makasih ya bang. Hemmm…itu kan diary bang, jadi cara Elis nyeritainnya pun beda-beda. Kadang klimaksnya di awal, kadang di tengah, kadang di akhir, ehhehe. Jadi, spesialnya kalau cuma nyeritain tentang 1 orang aja gitu ya bang?
Iya dek. SPESIAL itu lebih terkesan kalau 1 orang.

***

“Haiii Ciinnnn?” sapaku sambil menghampiri teman-teman PEKON 011 yang sedang duduk-duduk di depan HIMA PEKON.
“Haiii Cinnn? Kok makin tembeeemm gini pipinya Cinn?” tanya Tia sambil menyambut pelukanku.
“Iya nih Cinnn..ndak tertolong lagi nampaknya Ciiinnn,” jawabku. “Eh, Cin Rp 190.000 kan uang konsumsinya Cin?” tanyaku pada Delvi.
“Rp 195.000 Cinnn,” jawab Delvi sambil menyerahkan kembalian Rp 5000 kepadaku.
“Eh, Doni udah mau ujian KOMPRE ya?” tanyaku.
“Iya Lis, Alhamdulillah.”
“Keyeeeenn ngetsss Doni ah!”
“Elis yang enaaak laahh, prestasinya banyaak. Doni ndak dooohh!”
“Ah, Donii nii bisa ajalah yaa!”
Aku dan teman-teman yang lainnya segera menuju ruang ujian. Kami menata meja dan kursi serta menghias meja penguji dengan kain panjang batik. Dan, dekorasi selesai tepat setelah azan berkumandang. Alhamdulillah. Setelah ini, aku akan bertemu dengan anak-anak MURC untuk membahas agenda short term.

***

Cek…jemput Novi di FISIKA yaa.
Aku langsung bergerak ke FISIKA. “Tumben nggak masuk kuliah? Biasanya tiap hari sampai sore kuliah melulu!” tanyaku.
“Iya. Hari ini kan seharusnya ujian, tapi nggak jadi, makanya Novi bisa pergi nih!”
“Ohoho..begondrong! Kita jadi nggak ya ngumpulnya di halaman FMIPA, Cek? Tadi kan hujan, pasti rumputnya basah kan?”
“Iya. Kita pindah ke saung jembatan Kupu-kupu aja yuk?”
“Ayuk! Tolong konfirmasi ya Cek di grup, biar orang tu tahu.”
“Sip!”
Di saung, ternyata kami membahas hal yang cukup serius. Novi yang memulainya. Tentang benar atau salah mengupload foto ke medsos dari berbagai versi dan tanggapan. Pembicaraan semakin meruncing ketika Novi menghadirkan sebuah pendapat yang sangat sensitif (menurutku)…
“Kata Abang tu gini Cek; ‘Lagian, kalian para akhwat apa sih tujuannya mengupload foto itu? Pengen semua orang tahu seberapa lebar jilbab kalian? Pengen orang tahu kalau kalian alim? Atau gimana? Ketahuilah, soal seberapa alim kita, hanya Allah lah yang paling tahu. Bisa jadi justru mereka yang ukuran jilbabnya yang biasa aja yang ternyata lebih tinggi derajatnya di mata Allah.’ Gitu Cek. Gimana menurut Cek?” tanya Novi.

“Kakak heran nih, kok sepicik itu sih pemikirannya? Tapi, pada pernyataan kedua, dia justru sedang menjatuhkan pendapatnya yang pertama. Yang bikin Kakak heran, kenapa mesti persepsi; Pengen semua orang tahu seberapa lebar jilbab kalian? ini yang dihadirkan sih? Memang, kita nggak pernah tahu gimana niat orang sebenarnya, tapi justru karena itu nggak semestinya dia menilai kayak gitu. Niat itu urusan si pelaku dan Tuhannya. Ketika dia menebak-nebak seperti itu, dia malah seolah mendahului penilaian Allah tentang hati manusia.”
Dek Doli sudah sempat menghampiri kami di saung, tapi kemudian dia pergi lagi karena ada urusan dengan teman-temannya di jembatan kupu-kupu. Eh, teriakannya barusan sambil berlarian membuat kami sadar bahwa hari ini dia sedang berulang tahun dan dikerjain teman-temannya. Huahhhh..
“Selamat ulang tahuuun Dek Doliiiiii…” teriakku dan Novi bersamaan.
“Cek? Kayaknya orang ini nggak ada yang bisa datang deh! Masa udah sesore ini nggak ada juga yang nongol?” tanyaku.
“Iya nih!”

“Ya udah, kita lanjut lagi ceritanya yuk!” ajakku.
Karena monyet semakin banyak yang datang dan bergelantungan di atap-atap pendopo, aku dan Novi memutuskan untuk berpindah tempat. Kami memilih pinggiran kolam Ekaliptus sebagai tempat nyaman untuk meneruskan cerita.
“….Cek, ada 3 skill yang bisa mengalahkan kecerdasan kayak apapun kalau ini dikuasai oleh seseorang. Menulis, Berbicara, Mendengarkan. Nah, mendengarkan itu adalah SKILL dasar yang harusnya dimiliki oleh semua orang. Tapi, justru itu yang jarang banget dibahas dan nggak ada teorinya. Padahal, kuncinya justru di sana. Semua orang bisa saja belajar dan berhasil menjadi Pembicara atau Penulis hebat, tapi hanya sedikit yang bisa menjadi Pendengar yang hebat. Dan memang, hanya MENDENGARLAH yang nggak ada kompetisinya, kecuali di TOEFEL, ehhee.”
“Hemmm…iya ya Cek.”
Aku melanjutkan lagi ceritaku. “Ketika kita berada di lingkungan baru, lepaslah semua atribut kemenangan yang udah pernah kita sandang. Masukilah lingkungan baru itu sebagai orang baru yang ingin belajar dan ketika telah tiba saatnya, DUNIA yang akan MENJELASKAN siapa dirimu yang sebenarnya Cek.”

“Ih, luar biasa kali Cek iniii! Novi ngerasa beda banget loh Kak rasanya ketika Novi ngobrol dengan teman-teman sekelas dengan ngobrol sama Kakak. Kalau ngobrol sama mereka, ide-ide Novi itu nggak terpancing untuk ke luar, padahal banyak nih di kepala. Dan, kadang kalau Novi utarakan pun mereka nanggapinya skeptic aja. Beda kalau dengan Cek, apapun bisa Novi ceritakan dan bebas bange rasanya.”
“Iya ya Cek? Bubuubuyuu ya.”
“Ah, bububuyuu teruss pun. Ntah hapaa artinya ni!” celetuk Novi.

Tidak ada komentar: