Pagi ini aku ngerapiin folder-folder di local disk F dan
memindahkannya ke hardisk. Ternyata banyak juga file-fileku yang berserak, udah
lama banget belum dirapikan. Hemmm…meskipun aku dominan otak kanan, tapi
keteraturan adalah MOTO hidupku. Kalau nggak teratur, biasanya aku jadi malas
mencari, kalau udah malas mencari ntar aku jadi malas berbuat. Kalau udah malas
berbuat, biasanya aku akan malas-malasan. Hiksss.
Dreettt..dreeet…
Romi memanggil.
Huahhh.. aku baru sadar kalau aku ketiduran di depan laptop.
Pas ku angkat telvonnya, ternyata dia menanyakan kepastian ujian besok. Karena
kabarnya besok adalah hari libur nasional. Aku pun masih ragu dan segera
menanyakan kepada Delvi. Kata Delvi emang besok udah positif ujian ternyata dan
jam 14.00wib nanti kami harus dekorasi ruangan. Hemmm… powerpoin belum ada ku
buat sama sekali pula nih! Kok kayaknya agak canggung gini rasanya, mungkin
karena aku udah lama nggak berurusan sama kampus kali ya? Jadi, iklim dan
euphoria ujian itu udah hambar rasanya. Kalau dulu kan benar-benar deg-degan
dan gelisah setiap mau ujian. Hehe. *cepatlah tamaaat El, biar tenang.
Tolong
bantu BC. Kawan satu kos Rini kehilangan motor mio Sporty warna hitam-ungu BM
5888 MZ. Bagi yang melihat tolong hubungi Rini 0812xxxxx. Terimakasih.
DEGGG! Maling ada di mana-mana sekarang. Kita harus
meningkatkan kewaspadaan ke level SIAGA nih pemirsaaa. Padahal, kosannya Rini
itu kemarin ku nilai sangat aman karena garasi motor itu sampai di kunci oleh 2
pagar. Bahkan kata Rini motor temannya itu sudah sampai dirantai segala. Maling
sekarang emang super sekali ya! banyak akalnya! Naudzubillah. “
Ya Allah, jauhkan hamba dan keluarga hamba dari niat jahat dan
perbuatan jahat orang lain terhadap kamii..amiin.”
Aku tiba-tiba teringat pada mami. Sedikit merasa khawatir,
jangan-jangan ada kata-kataku dalam obrolan kami semalam yang menyinggung
perasaannya. Ya Allah, maaf.
Assalamualaikum
mi.. lagi ngapain? Dah mamam? Mi, el awali pagi ini dengan meminta maaf atas
semua kesalahan El. dan minta doanya untuk cita-cita el. bububuyuuu..muachhh.
Memang, aku
akui kalimat SMSku itu alay, hehe. Tapi, eh jangan salah loh orang tua kita itu
sebenarnya sukaaa banget diala;y-in sama anaknya. coba deh kalau nggak percaya!
Lalu lihatlah bagaimana responnya?
Waalaikumsalam.
Habis ngebonsai bunga kertas nih. Udah makan tadi sama sayur Gori (baca:
nangka) dan ikan asin. Dimaafkan, didoakan yang terbaik buat dunia dan akhirat.
Legaaaaaa
dan bahagiaaaa banget bacanya. Alhamdulillah, hati jadi jauh lebih tenang kalau
udah dapat restu dan doa dari mami. Biasanya aku akan lebih bersemangat dan
rezeki bakal lancar. Karena aku sangat percaya bahwa restu orang tua adalah
pembuka segala kemudahan, keberkahan dan ampunanNya. Aku segera kembali lagi
pada tulisan-tulisanku.
***
“Astaghfirullah!”
aku terbangun pukul 13.25wib. padahal tadi niatnya tidur sebentar aja menjelang
Zuhur.
Setelah
sholat Zuhur, aku teringat siang ini ada agenda ke BLH bersama teman-teman Duta
Lingkungan. Ketika aku check di LINE, ternyata masih simpang siur. Lagi pula,
hujan sedang turun dengan derasnya di luar. Maka, aku putuskan untuk kembali
menekuni tulisan-tulisanku. Ahhh… memang, hanya MENULIS yang membuatku BEBAS.
Tapi kemudian, mendadak aku teringat dengan Yudi.
Yud… buku Tentang
Januari kita gimana?
Bukunya masih ada ini sekitar 10. Dah banyak yang ngambil,
tapi belum bayar. Hikss.
Oh… aku tahu garis
lurusnya nih!
Apa tu?
Gini. 1. Seseorang
yang tadinya nggak punya mimpi menjadi seorang penulis tapi setelah membaca
buku yang bagussss banget atau ngelihat penulis yang sukses bangeeettt,
akhirnya dia pun bermimpi menjadi penulis.
2. Mulailah dia
belajar bagaimana caranya menulis
3. Setelah merasa
mampu, ia mulai berfikir untuk memiliki buku sendiri. Maka, ia pun mulai
mencari ide dan berusaha menulis naskah buku.
4. Setelah selesai,
dia pun mempertimbangkan penerbit mana yang akan ia pilih. Ingin yang minor
atau mayor? Sempat bingung, antara menerbitkan yang berbayar atau yang gratis
tapi persaingan sangat ketat dan harus siap ditolak.
5. Setelah buku
terbit, ia kebingungan lagi; ‘Bagaimana caranya agar bukunya laku di pasaran?
Siapa yang akan membeli bukunya?’ Lalau, sadarlah ia bahwa menjual buku tidak
semudah menjual kacang goreng. Belum lagi menghadapi teman-teman yang berhutang
atau malah minta gratisan.
6. Setelah bukunya
habis terjual, ia kembali lagi ke sikluk satu; ‘Aku mau nulis apa lagi ya yang
kira-kira laku di pasaran?’
Kenapa bisa seperti
ini? Bukankah MENULIS itu seharusnya MEMBEBASKAN? Bukankah menulis itu adalah
pekerjaan hati, cinta dan fikiran yang seharusnya penulisnya bisa hidup dengan
sejahtera? Tak banyak yang seberuntung Asma Nadia, Habiburrahman, Tere Liye di
sini. Lalu, apa bedanya kita dengan buruh? Bedanya hanya terletak pada; kita
sebagai pekerja dan kita sebagai bosnya. Hhehe. Udah, analisisnya baru samapi
di situ aja, belum nemu kelanjutannya. Ehee.
Iya yaa, bener tuh! Jadi gimana ya solusinya?
Klarifikasi dek, rupanya di 4 tempat yang berbeda hehe.
Komentarnya, MENGESANKAN. Banyak di sana orang yang punya segudang cerita tapi
mereka tak mahir merangkainya, mungkin karena bukan hobi kali yaa..hehe. Terus,
tulisanmu kalau bloeh abang kupas: Klimaks ceritanya terlalu cepat disampaikan
di awal cerita sih. Menurut abang, menarik kalau klimaks cerita tersebut
dibungkus dulu, lalu kemudian dipecahkan. Maka akan membuat orang penasaran dan
terus mengikuti paragraph demi paragraph tulisan. Semura orang sepertinya
SPESIAL dalam tulisanmu dek, ehhehe. Spesial itu lebih menarik kalau cuma satu
orang dek, ^_^
***
Aku masih
sangat mengantuk, jadi ku abaikan saja panggilannya. Setelah menggeliat,
mengucek mata dan mengumpulkan kembali nyawa-nyawa yang tercecer di alam mimpi,
barulah aku kembali memiscall Romi.
“Ada apa
Cek?”
“Mbak,
sebenarnya kita jadi ujian nggak sih besok?” tanya Romi.
“Itulah
yang Mbak nggak tahu. Delvi pun nggak ada ngeribut nih, padahal Kakak belum
bayar uang konsumsi loh!”
“Sama, Romi
belum juga loh Mbak.”
“Ntar deh
Mbak BBM lagi Delvi, siapa tahu aja ada penundaan lagi kan?”
Telvon di
tutup. Aku pun segera menanyakan kepada Delvi. Ternyata ujian tetap jadi
dilaksanakan dan pukul 14.00wib nanti semua peserta ujian harus ke ruang ujian
untuk dekorasi ruangan. Ah, sudah pasti aku akan ke sana pukul 15.00wib saja,
selain nanggung karena masih nanggung nulisnya, ehee.
“Kadang, kita pun bisa
kalah dengan rasa MALAS kita sendiri. Maka, ketika semangatmu sedang merasuk, manfaatkanlah
untuk memaksimalkan penyelesaian kewajiban.”
Gumamku
dalam hati dalam renungan. Hari ini memang aku agak santai makanya sempat
membalas BBM dari teman-teman yang biasanya aku tak sempat.
Bang…gimana tulisan
Elysa semalam? Tanyaku pada bang **pi atas link blog yang ku berikan padanya.
Alhamdulillah sudah dek. Hehehe. Di 3 tempat dan jalan yang
berbeda abang baru selesai baca tulisanmu.
Hahaah. Panjang
banget ya bang? Gimana komentarnya bang?
Klarifikasi dek, rupanya di 4 tempat yang berbeda hehe.
Komentarnya, MENGESANKAN. Banyak di sana orang yang punya segudang cerita tapi
mereka tak mahir merangkainya, mungkin karena bukan hobi kali yaa..hehe. Terus,
tulisanmu kalau bloeh abang kupas: Klimaks ceritanya terlalu cepat disampaikan
di awal cerita sih. Menurut abang, menarik kalau klimaks cerita tersebut
dibungkus dulu, lalu kemudian dipecahkan. Maka akan membuat orang penasaran dan
terus mengikuti paragraph demi paragraph tulisan. Semura orang sepertinya
SPESIAL dalam tulisanmu dek, ehhehe. Spesial itu lebih menarik kalau cuma satu
orang dek, ^_^
Huahhh… ilmu baru
nih.. makasih ya bang. Hemmm…itu kan diary bang, jadi cara Elis nyeritainnya
pun beda-beda. Kadang klimaksnya di awal, kadang di tengah, kadang di akhir,
ehhehe. Jadi, spesialnya kalau cuma nyeritain tentang 1 orang aja gitu ya bang?
Iya dek. SPESIAL itu lebih terkesan kalau 1 orang.
***
“Haiii
Ciinnnn?” sapaku sambil menghampiri teman-teman PEKON 011 yang sedang
duduk-duduk di depan HIMA PEKON.
“Haiii
Cinnn? Kok makin tembeeemm gini pipinya Cinn?” tanya Tia sambil menyambut
pelukanku.
“Iya nih
Cinnn..ndak tertolong lagi nampaknya Ciiinnn,” jawabku. “Eh, Cin Rp 190.000 kan
uang konsumsinya Cin?” tanyaku pada Delvi.
“Rp 195.000
Cinnn,” jawab Delvi sambil menyerahkan kembalian Rp 5000 kepadaku.
“Eh, Doni
udah mau ujian KOMPRE ya?” tanyaku.
“Iya Lis,
Alhamdulillah.”
“Keyeeeenn
ngetsss Doni ah!”
“Elis yang
enaaak laahh, prestasinya banyaak. Doni ndak dooohh!”
“Ah, Donii
nii bisa ajalah yaa!”
Aku dan
teman-teman yang lainnya segera menuju ruang ujian. Kami menata meja dan kursi
serta menghias meja penguji dengan kain panjang batik. Dan, dekorasi selesai
tepat setelah azan berkumandang. Alhamdulillah. Setelah ini, aku akan bertemu
dengan anak-anak MURC untuk membahas agenda short
term.
***
Cek…jemput Novi di
FISIKA yaa.
Aku
langsung bergerak ke FISIKA. “Tumben nggak masuk kuliah? Biasanya tiap hari
sampai sore kuliah melulu!” tanyaku.
“Iya. Hari
ini kan seharusnya ujian, tapi nggak jadi, makanya Novi bisa pergi nih!”
“Ohoho..begondrong!
Kita jadi nggak ya ngumpulnya di halaman FMIPA, Cek? Tadi kan hujan, pasti
rumputnya basah kan?”
“Iya. Kita
pindah ke saung jembatan Kupu-kupu aja yuk?”
“Ayuk!
Tolong konfirmasi ya Cek di grup, biar orang tu tahu.”
“Sip!”
Di saung,
ternyata kami membahas hal yang cukup serius. Novi yang memulainya. Tentang
benar atau salah mengupload foto ke medsos dari berbagai versi dan tanggapan.
Pembicaraan semakin meruncing ketika Novi menghadirkan sebuah pendapat yang
sangat sensitif (menurutku)…
“Kata Abang
tu gini Cek; ‘Lagian, kalian para akhwat apa sih tujuannya mengupload foto itu?
Pengen semua orang tahu seberapa lebar jilbab kalian? Pengen orang tahu kalau
kalian alim? Atau gimana? Ketahuilah, soal seberapa alim kita, hanya Allah lah
yang paling tahu. Bisa jadi justru mereka yang ukuran jilbabnya yang biasa aja
yang ternyata lebih tinggi derajatnya di mata Allah.’ Gitu Cek. Gimana menurut
Cek?” tanya Novi.
“Kakak
heran nih, kok sepicik itu sih pemikirannya? Tapi, pada pernyataan kedua, dia
justru sedang menjatuhkan pendapatnya yang pertama. Yang bikin Kakak heran,
kenapa mesti persepsi; Pengen semua orang
tahu seberapa lebar jilbab kalian? ini yang dihadirkan sih? Memang, kita
nggak pernah tahu gimana niat orang sebenarnya, tapi justru karena itu nggak
semestinya dia menilai kayak gitu. Niat itu urusan si pelaku dan Tuhannya.
Ketika dia menebak-nebak seperti itu, dia malah seolah mendahului penilaian
Allah tentang hati manusia.”
Dek Doli
sudah sempat menghampiri kami di saung, tapi kemudian dia pergi lagi karena ada
urusan dengan teman-temannya di jembatan kupu-kupu. Eh, teriakannya barusan
sambil berlarian membuat kami sadar bahwa hari ini dia sedang berulang tahun
dan dikerjain teman-temannya. Huahhhh..
“Selamat
ulang tahuuun Dek Doliiiiii…” teriakku dan Novi bersamaan.
“Cek?
Kayaknya orang ini nggak ada yang bisa datang deh! Masa udah sesore ini nggak
ada juga yang nongol?” tanyaku.
“Iya nih!”
“Ya udah,
kita lanjut lagi ceritanya yuk!” ajakku.
Karena
monyet semakin banyak yang datang dan bergelantungan di atap-atap pendopo, aku
dan Novi memutuskan untuk berpindah tempat. Kami memilih pinggiran kolam
Ekaliptus sebagai tempat nyaman untuk meneruskan cerita.
“….Cek, ada
3 skill yang bisa mengalahkan kecerdasan kayak apapun kalau ini dikuasai oleh
seseorang. Menulis, Berbicara, Mendengarkan. Nah, mendengarkan itu adalah SKILL
dasar yang harusnya dimiliki oleh semua orang. Tapi, justru itu yang jarang
banget dibahas dan nggak ada teorinya. Padahal, kuncinya justru di sana. Semua orang
bisa saja belajar dan berhasil menjadi Pembicara atau Penulis hebat, tapi hanya
sedikit yang bisa menjadi Pendengar yang hebat. Dan memang, hanya MENDENGARLAH
yang nggak ada kompetisinya, kecuali di TOEFEL, ehhee.”
“Hemmm…iya
ya Cek.”
Aku melanjutkan
lagi ceritaku. “Ketika kita berada di lingkungan baru, lepaslah semua atribut
kemenangan yang udah pernah kita sandang. Masukilah lingkungan baru itu sebagai
orang baru yang ingin belajar dan ketika telah tiba saatnya, DUNIA yang akan
MENJELASKAN siapa dirimu yang sebenarnya Cek.”
“Ih, luar
biasa kali Cek iniii! Novi ngerasa beda banget loh Kak rasanya ketika Novi
ngobrol dengan teman-teman sekelas dengan ngobrol sama Kakak. Kalau ngobrol
sama mereka, ide-ide Novi itu nggak terpancing untuk ke luar, padahal banyak
nih di kepala. Dan, kadang kalau Novi utarakan pun mereka nanggapinya skeptic aja.
Beda kalau dengan Cek, apapun bisa Novi ceritakan dan bebas bange rasanya.”
“Iya ya
Cek? Bubuubuyuu ya.”
“Ah,
bububuyuu teruss pun. Ntah hapaa artinya ni!” celetuk Novi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar